Selasa, 29 Desember 2015

IJABI, Mau Tahu Perbedaan Sunni dan Syiah?


image

Dimanakah letak perbedaan dua mazhab besar Islam, Sunni dan Syiah? Ternyata, menurut Ketua Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rakhmat, terletak dasar hadits yang digunakan kedua aliran besar tersebut.

“Sunni memiliki empat mazhab Hambali, Syafi’i, Maliki dan Hanafi. Apakah ajaran keempat mazhab itu sama? Tidak ada yang berbeda,” katanya dalam seminar dan deklarasi Majelis Sunni Syiah Indonesia (MUHSIN) di Masjid Akbar, Kemayoran, Jakarta, Jumat (20/5/2012).

Jalaluddin mengatakan perbedaan keduanya hanya terletak pada hadits. Jika hadits Sunni paling besar berasal dari sahabat nabi seperti Abu Hurairoh, maka hadtis Syiah berasal dari Ahlul Bait (Keluarga Nabi Muhammad SAW).

Selasa, 15 Desember 2015

Buku Kyai Alawi: Di Mana Spektakuler dan Ilmiahnya?

image
Saya dapat buku karya Kyai Alawi yang terbaru. Di sampulnya tertulis "spektakuler" dan bab I diawali dengan kalimat "Karya ilmiah ini". Ternyata saya kecele. Jauh panggang dari api, euy! Seperti disebutkan oleh Kyai Alawi dalam kata pengantarnya, gaya penulisan bukunya tidak sama dengan gaya penulisan desertasi doktoralnya Dr. Jalaluddin Rakhmat. 
Memang tidak sama. Berikut adalah perbedaannya. Pertama, disertasi tentu menggunakan metode ilmiah yang dijelaskan secara terperinci dan bisa diverifikasi. Dalam hal ini Ustaz Jalal menggunakan metode historis dan jarh wa al- ta'dil. Saya tidak tahu apa metode yang digunakan Kyai Alawi. Kedua,  Ustaz Jalal menggunakan data dan fakta yang sudah diverifikasi, Kyai Alawi menggunakan prasangka dan imajinasi (khayalan) untuk menopang argumentasinya. Ketiga, untuk menilai derajat hadis, Kyai Alawi menggunakan metode sendiri dan mengabaikan penilaian para ahli hadis. Hadis yang cocok dengan argumentasinya disahihkan, yang tidak cocok didhaifkan. Tampaknya beliau tidak mengenal ilmu jarh wa al-ta'dil. Eh, tapi nulis buku tentang hadis, bahkan kritik hadis. Hebaat. 

Senin, 14 Desember 2015

Mengutuk Serangan Militer Nigeria terhadap Warga Muslim Syiah

Pada Ahad, 13 Desember 2015, militer Nigeria menyerang secara membabi buta Husainiyah Baqiyatullah, pusat keagamaan warga Muslim Syiah di Zaria, Nigeria, yang sekaligus kediaman ulama Syaikh Ibrahim Zakzaky. Serangan yang telah menewaskan puluhan orang itu dilakukan secara sewenang-wenang dan tanpa sebab. Klaim pihak militer bahwa Warga Muslim Syiah menyetop konvoi seorang petinggi militer sama sekali tidak terbukti, apalagi warga Muslim Syiah yang tidak bersenjata telah membantah tegas tuduhan tersebut.
Serangan militer Nigeria atas komunitas Muslim Syiah bukan pertama kalinya terjadi. Rezim Abuja secara konstan mempersekusi warga Muslim Syiah yang dipimpin oleh Syaikh Ibrahim Zakzaky. Setahun lalu, militer Nigeria menembaki warga Muslim Syiah yang sedang menyuarakan dukungan bagi rakyat Palestina dalam peringatan Hari Internasional al-Quds. Sekitar 40 warga dilaporkan tewas akibat penembakan brutal tersebut, termasuk tiga putra Syaikh Zakzaky.

Kamis, 03 Desember 2015

Menanggapi Buku Kyai Alawi: Rasulullah Saw Menetapkan Abu Bakar sebagai Khalifah

Saya menemukan post Kyai Alawi tentang hadis bahwa Rasulullah saw sudah menetapkan Abu Bakar sebagai khalifah sepeninggalnya. Di tempat lain saya juga menemukan Kyai Alawi berkata tentang penulis buku yang beliau kritik: kebanyakan bohongnya, masa doktor nggak bisa bedain hadis sahih dan maudu.

Nah, kita lihat bagaimana kualitas hadis yang disebutkan Kyai Alawi dalam bukunya yang beliau sebut bener-bener ilmiah dan terbuka.

Ada dua kritik thd hadis ini: kritik sanad dan kritik matan. Dari segi sanad hadis ini maudu atau hadis bohong atau palsu.

Rabu, 02 Desember 2015

Menanggapi Buku Kyai Alawi Al-Bantani: Hadis Khalifah Abubakar

Saya senang dengan cara Kyai Alawi Al-Bantani dalam menyanggah karya penulis-penulis Syiah. Beliau tidak mengafirkan maupun mencemooh, melainkan membuat tulisan yang santun. Budaya ilmiah semacam ini yang mestinya digalakkan. Sehingga,  tercipta suasana ilmiah yang dinamis, dengan tetap mengedepankan ukhuwah.

Oleh sebab itu, dengan semangat itu pula saya ingin sedikit menanggapi tulisan/buku Kyai Alawi [Kyai NU Membedah Pemikiran Syiah] halaman 35, dengan segala keterbatasan saya.

Pada halaman tersebut, Kyai Alawi merujuk sebuah hadis yang berisi penetapan Rasul saw terhadap 
khilafah Abubakar, terkait surat At-Tahrim ayat 3. Muncul pertanyaan dalam diri saya, bukankah selama ini Ahlusunnah meyakini bahwa Rasul saw tidak pernah meninggalkan wasiat tentang kepemimpinan pasca Beliau saw? Dengan kata lain, Ahlusunnah meyakini bahwa urusan kepemimpinan umat diserahkan kepada umat sendiri. Hadis yang biasa digunakan sebagai dalil adalah: "Kalian lebih mengetahui urusan dunia kalian" (Sahih Muslim).

Selasa, 24 November 2015

Risalah Depok: Kesepakatan Ulama dan Cendekiawan Islam Indonesia



UKHUWAH


Risalah Depok tentang Persatuan Islam di Indonesia ini dirumuskan dalam Seminar Sehari  “Problem dan Prospek Persatuan Islam di Indonesia”, yang diselenggarakan di Depok, Jawa Barat, 27 Jumadi Al-Awal 1433 H/ 19 Mei 2012.
Menyimak situasi merosotnya toleransi beragama belakangan ini dan konflik antar kelompok yang memprihatinkan, serta menguatnya gejala ekstremisme dan eksklusivisme keagamaan di kalangan Muslm di negeri kita, kami merasa perlu mendeklarasikan Risalah Depok sebagai berikut :

Senin, 23 November 2015

Catatan Dr Kholid Al-Walid: Hatespeech dan Kebencian Wahabi

Saya dilahirkan dari keluarga yang mencintai Maulidan, Marhabanan, Ratiban, bahkan Likuran.
Semua terasa indah dulu ketika kecil. Betapa tidak saya jadi pusat perhatian ketika sunatan, Mantri yang menyunat saya bahkan memberi uang untuk saya. Nasi kuning dengan lauk ayam menjadi santapan utama.

Tapi semuanya menjadi penyesalan ketika saya mulai menjadi aktivis Harakah. Itu semua merupakan bid'ah dan setiap bid'ah adalah sesat dan setiap kesesatan masuk neraka. Saya tidak lagi hadir tahlilan yang diselenggarakan secara rutin di rumah kakek saya.

Saya mulai membenci kakek saya, yang menurut saya Kyai yang tidak punya ilmu dan penyebar bid'ah. Saya mulai bentrok dengan keluarga saya sendiri, yang saya nilai tidak memeluk Islam yang kaffah. Mereka hanya Islam keturunan dan jahiliyyah.

Catatan Dr Kholid Al-Walid: Syiah dan ISIS

Bangsa kita memang senang dengan lawakan. Di Televisi kita acara lawakan hampir menempati 65%dari keseluruhan program. Ada lawakan yang berisikan para pelawak, ada Stand Up Comedy, ada Sidang Lawakan, bahkan ada Ustad yang latah melawak. Ada lawakan yang lucu membuat kita sakit perut karena tertawa ada lawakan yang tak lucu membuat kita merasa mual. Di antara lawakan yang tak lucu adalah apa yang ditampilkan Wahabi belakangan ini. Ketika mencoba memfitnah Syiah dengan menyatakan ISIS adalah Syiah.
Betapa tidak? Wong sebelumnya masih sangat jelas bagaimana kelompok Wahabi teriak-teriak di jalan bawa bendera ISIS. Abu Bakar Baasyir berbaiat kepada Khalifah Al-Baghdadi. Kalangan ini memuja ISIS yang dianggap Mujahid yang akan meruntuhkan Rezim "Syiah" Basyar Asad. Sahabat saya yang asli Suriah dalam satu pertemuan dengan saya berkata: "Sejak kapan Basyar Asad jadi Syiah?" Saya bilang: "Sejak dimusuhi Wahabi". Siapa pun Anda akan dicap Syiah kalau menolak fitnah Wahabi.

Minggu, 22 November 2015

ANNAS Ditolak MUI Kaltim


Ketua Majelis Ulama Indonesia Kalimatan Timur (MUI Kaltim) KH Jamri Has menolak Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) bergerak di wilayahnya. Rencana pendirian ANNAS di kota Samarinda akhirnya terganjal karena MUI Kaltim menolaknya.

Ikhwal ditolaknya rencana ANNAS berawal dari kunjungan beberapa orang pemrakarsa organisasi Anti-Syiah itu ke kantor MUI Kaltim di Samarinda pada hari Kamis, 19 November 2015. Mereka melakukan temu bicara dengan Ketua MUI dan jajarannya.

Dalam pemaparan dan penjelasan, rombongan itu mencoba meyakinkan MUI bahwa gerakan anti Syi'ah ini adalah sebuah amar ma'ruf nahi munkar karena tokoh-tokoh dibalik ANNAS juga ada orang dalam tubuh MUI sendiri.

Sabtu, 21 November 2015

MAJELIS UKHUWAH SUNNI SYIAH INDONESIA


Bismillaahirrahmaanirrahiim

Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa aali Muhammad
0-MUHSINDemi melaksanakan perintah Allah swt: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah di antara saudaramu dan takutlah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat kasih-sayangNya,”

Jumat, 20 November 2015

Perbedaan antara Kebenaran dan Kebohongan

Sekarang ini situasi keagamaan di Indonesia sedang gencar dengan gerakan pembusukan ajaran Islam mazhab Syiah. Mereka ini adalah kaum takfiri, orang-orang yang mengkafirkan dan menyesatkan paham agama yang berbeda dengan paham mereka.

Gerakan takfiri ini bahaya untuk keutuhan dan persatuan bangsa. Apalagi umat Islam sekarang ini tidak semuanya mampu memilah informasi sehingga banyak yang mengikuti seruan takfiri hingga menyebarkannya. Seharusnya tidak langsung dipercaya, tetapi dicari kebenaranya supaya tidak jatuh dalam dosa besar berupa fitnah. Inilah yang harus dihindarkan oleh kita selaku umat Islam.

Rabu, 18 November 2015

Abu Lulu yang di Iran, Benarkah Pembunuh Khalifah Umar?

Belakangan ini muncul broadcast di media sosial bahwa orang Iran, yang bermazhab Syiah memuliakan makam Abu Lu’lu’ di Kashan (Iran), yang konon sebagai pembunuh Khalifah Umar bin Khaththab. Tentunya setiap kabar dalam media sosial harus dibuktikan kebenarannya. Sampai hari ini yang muncul di media sosial langsung dianggap benar. Padahal itu belum tentu benar dan memerlukan penyeledikan. Apalagi terkait dengan ajaran Agama Islam, harus bisa dibuktikan dengan dalil dan data-data sejarah. Karena itu, kita perlu waspada dengan setiap berita dari media sosial dan dari orang yang tidak jelas, supaya terhindar dari fitnah.

Berikut ini penjelasan tentang Abu Lu’lu yang dimakamkan di Kashan, Iran, berdasarkan informasi yang teruji kebenarannya:

Senin, 16 November 2015

Catatan Dr Kholid Al-Walid: Samakah, Syiah dan PKI?

image
Fitnah memang tidak perlu alasan logis, cukup disebarkan dalam beragam media terutama pada komunitas yang "Aqluhum Masturo" tapi semangat bc-bc (bukan baca-baca) begitu menggebu seakan merupakan bagian dari Jihad (Jika di Suriah ada Jihad Nikah maka di sini ada Jihad Fitnah). Nah, di antara Fitnah yang belakangan bertebaran melalui FB, WA, Twitter, bahkan lagu RAP mendudukkan Syiah = PKI. Sebagai pengajar logika dan Filsafat saya kebingungan bukan soal Fitnahnya, tetapi apa "Had al-Awsath" dari kedua Mafhum ini. Atau apa "Wajh al-Tasybih di antara keduanya sehingga didudukkan pada "Maqullah" (Cattegories) yang sama.
Kalau kita lacak Ideologi Komunisme baik yang dikembangkan oleh Marx dan Friedrich Engels atau Lenin, kedua-duanya berangkat dari asas Materialisme Dialektika dan Historis. Komunisme lahir sebagai bentuk perlawanan kaum Proletar (kalau tak paham maka padanannya kaum buruh) terhadap melawan para pemilik modal. Sedangkan Syiah adalah Mazhab yang didasarkan pada prinsip Tauhid dan Ketuhanan lahir di era awal sejarah Islam sebagai kritik atas pengabaian wasiat Nabi terhadap ke Imamahan Ali bin Abi Thalib. 

Minggu, 15 November 2015

Catatan Dr Kholid Al-Walid: Jihad Fitnah

Semua kita yang akalnya masih waras dikagetkan dengan idiom baru: Jihad Nikah. Perempuan-perempuan asal Tunisa, Libia, dan beberapa negara muslim Afrika (dari Indonesia saya tidak tahu) masuk wilayah Suriah dengan doktrin Jihad Nikah. Melayani "dahaga" Mujahilin yang memang rindu janji Tuhan tentang Hurr al-'Ayn (Bidadari Surga).

Sejak setahun belakangan ini kita merasakan juga Jihad tersebut, tapi yang dilakukan dalam pola yang berbeda. Adalah Jonru, PKS Piyungan, Arrahmah dot com menjadi Panglima-panglima dalam menyebarkan berita-berita yang aneh bin ajaib, yang tak perlu orang waras untuk tahu bahwa hal tersebut FITNAH, cukup akalnya bekerja 5% saja bisa tahu bahwa berita tersebut Mustahil al-Wujud. 

Sabtu, 14 November 2015

Apakah Syiah itu Islam? [Dr Kholid Al-Walid]


Apakah Syiah itu Islam? Tidak dapat ditolak bahwa Syiah adalah Mazhab yang paling pertama muncul dalam sejarah Islam. Mazhab Syiah muncul karena pengikut Ali bin Abi Thalib as meyakini bahwa Nabi Saw telah menetapkan kepemimpinan Ali bin Abi Thalib pasca wafatnya Nabi Saw. Inilah sejarah awal terbentuknya Mazhab Syiah. Disebut Syiah yang berarti Pengikut Ali bin Abi Thalib. (Saya tidak akan menjelaskan panjang persoalan sejarah ini dalam ruang singkat ini).

Kenapa Syiah disebut sebagai Mazhab? Karena atas dasar hal di atas Syiah memiliki prinsip Mazhab, yaitu Imamah pasca Nabi saw. Demikian juga Ahlussunnah disebut Mazhab karena memiliki prinsip Mazhab. Perbedaan Prinsip Mazhab (Ushul al-Mazhab) itu, apakah akan mengeluarkan pengikut Mazhab itu dari Islam? Jelas tidak. Karena yang mengeluarkan seseorang dari Islam jika orang tersebut memiliki keyakinan yang bertentangan dengan Prinsip Agama (Ushul al-Dien).

Jumat, 13 November 2015

Deklarasi Makkah untuk Persatuan Umat Islam

Ketika kondisi di Irak semakin memanas paska pendudukan Amerika, khususnya rawannya hubungan mazhab-mazhab Islam di wilayah tersebut, ulama Irak dari mazhab Sunni maupun Syiah kemudian berkumpul di Makkah al-Mukarramah di bulan Ramadhan tahun 2006 untuk mendiskusikan masalah ini. Mereka kemudian menghasilkan sebuah deklarasi berikut ini: 
Segala pujian dan kemuliaan adalah milik Tuhan yang Maha agung. Semoga salam dan berkah-Nya senantiasa dianugerahkan kepada Nabi Muhammad Saw., keluarga, dan para sahabatnya.
Dengan mempertimbangkan:

Kamis, 12 November 2015

Takfiri Hebat dalam Marketing Kebencian

Suatu hari saya mengomentari kalimat dalam grup whatsapp, yang menyerang kaum takfiri dengan program anti syiah. Memang patut disesalkan karena kaum takfiri masih terus saja tak berhenti untuk menyesatkan dan coba mengeluarkan Syiah dari agama Islam. 

Diperparah dengan agenda provokasi hingga masjid dan sekolah ditempeli dengan poster yang menyebutkan kesesatan Syiah. Bahkan, kabar terakhir akan menyelenggarakan pelatiha anti Syiah untuk guru-guru dan menghilangkan pelajaran Agama Islam dari unsur Syiah. Entah benar atau tidak (saya mendapatkan di whatsapp), tetapi perilaku tersebut telah membuat sejumlah orang yang pro Syiah marah dan mengecamnya di medsos.

DOWNLOAD BUKU KARYA PROF ABOEBAKAR ATJEH



1 Ahlus sunnah wal djama'ah : filsafat perkembangan hukum dalam
Islam / oleh: Aboebakar Atjeh
oleh Aceh, Abubakar
Jajasan "Baitul Mal", 1969 Pdf 
http://goo.gl/Yxro1P

2 Aliran Syi'ah di Nusantara / oleh: Aboebakar Atjeh
oleh Aceh, Abubakar
Islamic Research Institute, 1977 Pdf 
http://goo.gl/D1jl5n

3 Ibn Arabi : tokoh tasawwuf dan filsafat agama / Aboebakar Atjeh
oleh Aceh, Abubakar
Tintamas, 1965 Pdf 
http://goo.gl/fG2Cnc

Sabtu, 07 November 2015

Dasar Anak Syiah

Saya dapat kabar dari teman di Bandung bahwa salah seorang muridnya bercerita. Teman muridnya dari sekolah yang berbeda mengejek. ''Dasar anak Syiah, aku doakan supaya celaka kamu,'' katanya menirukan.

Murid itu tak membalas, malah meninggalkannya. Lalu, beberapa hari kemudian dapat kabar bahwa temannya itu celaka di jalan. ''Tuh, kena doanya sendiri,'' katanya.

Dia tanya: menurut Bapak bagaimana? Saya hanya senyum dan bilang bahwa Nabi Muhammad saw ketika disapa oleh seorang Yahudi dengan kalimat: assamu'alaika. Nabi menjawab: wa'alaika.

Awas Kelompok Makar di Indonesia!

image
Kaum takfiri yang benci dengan Islam mazhab Syiah menyebarkan isu akan terjadinya makar dari kalangan Muslim Syiah. Kaum takfiri menyebut imamah dan wilayah faqih sebagai ideologi yang bisa menggantikan Pancasila di Indonesia kalau Muslim Syiah memiliki massa yang banyak dan menguasai parlemen.
Sejarah Indonesia membuktikan bahwa tidak ada orang Islam Syiah yang melakukan pemberontakan terhadap pemerintahan Indonesia. Yang tercatat justru berasal dari umat Islam non Syiah dan non Islam seperti Pemberontakan DI/TII, Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), Pemberontakan G30S/PKI, Republik Maluku Selatan (RMS), Pemberontakan Permesta, dan lainnya.

Jumat, 06 November 2015

Ulama Meminta Agar Menarik Buku Mengenal dan Mewaspadai Syiah di Indonesia

Bertempat di Ballroom Hotel Pacific, Sabtu (24/5) Yayasan Anzal Al Ishlah, sebuah lembaga pendorong persatuan dan pengembangan Muslimin di Balikapapan, menggelar Dialog Antar Mazhab bertema “Merajut Ukhuwah Islamiyah dan Meretas Program Ummat.” 

Dialog dihadiri sejumlah tokoh, ulama, akademisi, para petinggi takmir masjid, dan unsur mahasiswa di Balikpapan. Ketua MUI Balikpapan, KH. Muh, Idris, Sekretaris Umum MUI Makasar, Prof. DR. K.H. Muhammad Galib, MA, tokoh masyarakat Dr. H. Andi Syarifudin, Kesbangpol Balikpapan Dr. Sutadi, Msi serta perwakilan dari pihak Kepolisian dan 
Kejaksaan Balikpapan tampak hadir di acara itu.

Kamis, 05 November 2015

Tuduhan Ijazah Palsu Dua Anggota DPR Dinyatakan Tidak Terbukti

image
Sidang paripurna DPR RI menyatakan bahwa kasus dugaan penggunaan ijazah palsu anggota Fraksi Hanura Nurdin Tampubolon dan anggota Fraksi PDI Perjuangan Jalaluddin Rakhmat tidak terbukti. Nama baik keduanya langsung direhabilitasi dalam paripurna yang digelar pada Jumat (3/7/2015).
Ketetapan paripurna terkait kasus dugaan penggunaan ijazah palsu dua anggota DPR itu merupakan tindak lanjut atas keputusan sidang Mahkamah Kehormatan Dewan. Sidang paripurna dipimpin oleh Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah dan didampingi Ketua DPR Setya Novanto.

Selasa, 03 November 2015

Syiah Tidak akan Pernah Hilang di Indonesia

image
Tidak dapat disangkal bahwa di masyarakat Islam Indonesia terdapat orang-orang yang kurang kritis dalam banyak hal termasuk agama. Pada sebagian mereka agama tidak lebih sebagai alat mewujudkan harapan dan keinginan. Pada sebagian lagi agama adalah kumpulan ayat-ayat dan atribut. Kondisi psiko-sosial yang seperti ini tentu memberi udara bagi kalangan literalis (Wahabi Salafi) untuk melancarkan doktrin-doktrinnya.
Dengan bermodal gelar LC, menggunakan sorban dan kesalehan ritual, mereka melancarkan jurus-jurusnya. Mendoktrin masyarakat dengan ayat-ayat untuk menjauhi sikap kritis dan menanamkan benih-benih kebencian pada setiap orang yang tidak sekelompok.

Senin, 02 November 2015

Takfiri dan Kekerasan [Dr.H.Nadirsyah Hosen]

Gerakan yang senang mengkafirkan orang lain yang berbeda pandangan itu sudah sejak lama terdapat dalam sejarah Islam. Ini bukan gerakan yang sama sekali baru, mungkin tokoh dan mediumnya saja yang baru; isinya sih barang yang sudah lama.

Paling celaka kalau gerakan ini berkolaborasi dengan kekuasaan, maka dari semula hanya mengkafirkan orang lain, kemudian mereka memiliki kekuasaan untuk mengeksekusi siapa saja yang mereka anggap kafir. Mereka senang meminjam tangan penguasa, dan anehnya ada banyak penguasa yang senang berkolaborasi dengan mereka sebagai imbalan mendapat dukungan politik.

Minggu, 01 November 2015

Syiah berbahaya untuk NKRI?



Sejarah mengisahkan yang bahaya bagi NKRI adalah gerakan-gerakan radikal Islam yang anti dengan pancasila dan menyebut thogut pada pemerintah RI. Gerakan DI/TII, Permesta, dan gerakan Islam Daud Beureuh di Aceh jelas mengobarkan semangat anti NKRI. Kemudian di negeri ini ada kelompok yang merindukan tegaknya khilafah Islamiyyah dan kelompok anti Syiah yang mendukung gerakan ISIS. Mengapa yang demikian tidak disebut anti NKRI? Mengapa yang menyerukan permusuhan di antara sesama umat Islam tidak disebut bahaya bagi NKRI? 


Sudah jelas dalam kegiatan kaum yang anti Syiah telah menunjukan kebencian terhadap orang Islam yang bermazhab Syiah. Apa salahnya orang Syiah sehingga dibenci dan difitnah terus menerus?
Jika benar kelompok anti Syiah merasa paling Islam, silakan buktikan dengan mengajak dialog kaum Muslimin Syiah yang dianggap sesat. Beranikah mereka? Lagi-lagi masjid yang seharusnya dipakai sarana ibadah malah dijadikan tempat kemungkaran dengan hujat dan caci maki kaum Muslim Syiah.
Saya percaya bahwa kaum Muslim Syiah di Indonesia yang tergabung dalam ormas IJABI dan ABI, tidak bercita-cita untuk mendirikan pemerintahan sendiri. Kedua ormas Syiah ini memakai azas Pancasila dan menerima NKRI. Kedua ormas ini berada dalam lingkungan NKRI dan menjungjung persatuan dan kesatuan bangsa serta memiliki rasa nasionalisme. Terbukti dalam sejumlah kegiatan besar seperti Asyura, Ghadir Khum, dan Mawlid Rasulullah saw diisi dengan unsur kebangsaan. IJABI dalam hampir setiap kegiatan dan acara diisi lagu Indonesia Raya dengan menyeru seluruh hadirin untuk berdiri.
Saya melihat pada kedua ormas Syiah ini, justru pluralisme yang dikedepankan, bukan masalah kepentingan mazhab yang bersifat sekterian. Saya kira NKRI merupakan bentuk final bagi seluruh umat Islam Indonesia. Mereka yang berupaya mengganti NKRI dengan Khilafah Islamiyyah yang seharusnya dicurigai. Bahkan, orang-orang Islam yang tidak melakukan hormat bendera dan tidak menyanyikan lagu Indonesia raya sekaligus menolak berdiri ketika kumandang lagu Indonesia raya, yang seharusnya dicurigai tidak memiliki jiwa kebangsaan.
Saya yang berkawan dengan orang-orang Islam yang bermazhab Syiah, percaya bahwa tidak ada cita-cita tersembunyi dari orang-orang Islam Syiah Indonesia untuk mendirikan negara. Justru kehadiran kaum Muslim Syiah telah menyumbang khazanah Islam Indonesia dengan aneka ragam budaya dan pemikiran. 

(Misykat)

Sikap yang Salah Pada Umat Islam

Saya sebagai sarjana sebenarnya kurang suka dengan sikap menggolongkan para ilmuan ke dalam bingkai sektarian. Yang terpenting bagi saya adalah membaca karyanya terlebih dahlu, lalu mengambil yang bermanfaat, mengkritik secara ilmiah yang salah.

Senin, 26 Oktober 2015

Pecinta Keluarga Nabi Selalu Diuji


Dalam sejarah Islam, para pecinta keluarga Nabi selalu mendapat cobaan. Bahkan sekian banyak jiwa menjadi tebusan untuk rasa cinta tersebut. Maka jika saat ini banyak tentangan terhadap para pecinta Nabi, hal itu tidak seberapa jika dibanding para pecinta terdahulu. Hendaknya cobaan ini semakin mengokohkan rasa cinta tersebut dan menyebarkannya di tengah kaum Muslimin.

“Kita berada di sini untuk mengungkapkan rasa cita kita kepada keluarga Nabi, ahli bait Nabi. Sebab hal itu diperintahkan Rasulullah,” kata Ketua Dewan Syuro PP Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), KH. Dr. Jalaluddin Rakhmat, pada acara Tabligh Akbar Asyura, di Stadion Persib, Jumat  (23/10/2015) malam.  Dalam acara itu dilantunkan pula syair-syair bernada duka dan penghormatan pada keluarga Nabi.

Minggu, 25 Oktober 2015

Asyura di Bandung: Terima Kasih untuk Pemerintah dan Aparat


Sebuah kemenangan untuk para pecinta. Itu kesan saya kemarin malam saat hadiri majelis duka Imam Husain as di Stadion Persib, Jalan Ahmad Yani Bandung. Panitia Asyura dalam pembukaan menyampaikan bahwa kehadiran jamaah yang memadati lapangan sepak bola sebagai bukti kecintaan kepada Keluarga Nabi. Cinta memang perlu diuji dan pecinta Keluarga Nabi di Bandung sedang diuji. Hal itu harus dijalani dengan sikap arif dan positif. Soal orang yang demo atau yang melarang atas nama warga, biarlah itu menjadi dinamika umat Islam. Dan, saya kira tampaknya tidak terlalu berpengaruh untuk kehidupan umat Islam di Bandung.

Seorang panitia bercerita lika liku acara Asyura tahun 2015 ini. Sejak beberapa hari sebelum acara, panitia Asyura IJABI dan Muthahhari mencari gedung yang berkapasitas ribuan. Karena setiap tahun jumlah jamaah yang hadir kerap meningkat.

Asyura di Bandung Tidak Dibubarkan!



Pagi hari sebelum shalat subuh, saya buka WhatsApp grup terbatas. Di sana ada chat yang diambil dari panitia Asyura dan komentar seorang jurnalis:

Tidak ada pembubaran apalagi pemaksaan, karena kami (panitia) memang sepakat dengan pengelola sidolig pk.21.00 WIB sdh harus selesai dan lapangan sudah "clear" kembali.” 

Saya baca di wall2 yg anti-syiah, bertebaran foto massa yg membentangkan spanduk mengecam syiah dan asyura di Bandung. Lalu diberi judul "Alhamdulillah Asyura di Kota Bandung berhasil dibubarkan". Saya jadi geli, karena tahu apa yang terjadi sebenarnya.....

Kamis, 22 Oktober 2015

Fatwa-Fatwa Ulama Syiah Mengenai Tradisi Melukai Diri di Hari Asyura

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei: Qamezani adalah budaya yang dibuat-buat (tidak memiliki hujjah); dan sama sekali tidak berkaitan dengan agama. Tidak diragukan lagi, Allah tidak meridhainya.

Ayatullah Al-Udzma Jawadi Amuli: Tidak dibenarkan melakukan perkara yang menjadi penyebab ajaran Islam dihina dan kehormatan Islam dilecehkan; Qamezani dan amalan seperti itu hendaklah dijauhi.

Ayatullah Makarim Syirazi: Metodologi Azadari hendakkah tidak memberi kesempatan kepada musuh Islam untuk menyalahgunakannya. Hendaklah acara besar ini tidak diperkecilkankan dan menyebabkan penghinaan kepada mazhab. Memukul badan dengan pisau atau rantai tajam hendaklah dijauhi.

Rabu, 21 Oktober 2015

Samudera Cinta

Siapa saja menjadi santri di Persia atau Babilonia pasti kenal seorang ulama besar, sayyid dari keturunan Baginda Nabi Saw, Allamah Sayyid Ali Qadhi namanya.

Para guru menjulukinya singkat: Ustadz al-Urafa. Gurunya para arif bijaksana. Di antara yang berbahagia jadi muridnya adalah Allamah Bahjah, Ayatullah Teherani dan marja' besar Ayatullah al-'Uzhma Sayyid Khu'i.

Allamah Thabatabai, penulis Tafsir Mizan itu mengisahkan di antara keistimewaan Allamah Sayyid Ali Qadhi adalah karamah "Thayyil Ardhi" yang dimilikinya. Jurus yang satu ini, memendekkan bumi di bawah pijak kakinya. Pendek kata, orang berziarah ke Karbala berjumpa dengannya. Dan pada kurun waktu yang sangat berdekatan, terdengar juga kisah tentangnya di Khurasan, di pusara Imam Ridha as ratusan kilometer jauhnya.

Selasa, 20 Oktober 2015

Andai saja ia memberi sedikit minuman pada Al-Husain

Ah, bulan Muharram kembali menyapa. Syukurku pada Tuhan berselimutkan duka. Saudaraku seagama merayakannya dalam suka. Tahun baru kata mereka. Maka parade diarak, gegap gempita menyeruak. Semangat kebahagiaan terasa semarak.

Tak perlu dalil untuk itu. Tak perlu berpanjang kata. Para cendikia berjajar dalam barisan pawai raya.
Aku menjemputnya dalam wajah murung dan tangisan yang tertahan. Dan seberkas cahaya kerinduan membersit menghunjam, memberikan kehangatan. Selembar kertas kenangan terhampar di hadapan.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Telaah Buku: Teologi dan Ajaran Shiah Menurut Referensi Induknya (4)

image
Nah, dengan latarbelakang seperti ini saya ingin mengajak Anda memahami apa yang terjadi di Timur Tengah sana secara obyektif. Bahwa Syiah bukanlah penyebab konflik Suriah, sebagaimana dituduhkan Hamid. Tapi Israel dengan semua sekutu Arabnyalah yang membuat Suriah terjerembab dalam konflik berdarah yang berkepanjangan. Saya jamin, hipotesis ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Berdasarkan banyak bukti yang otentik dan dapat diverifikasi ternyata semua kelompok pemberontak yang menentang Pemerintah Suriah berpaham Wahabi. Baik yang bergabung di ISIS pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi, Jabhah al-Nusrah pimpinan Abu Muhammad al-Julani, maupun Jabhah Islamiyah bentukan Zahran 'Alush bahkan yang dianggap sekuler sekalipun, Free Syirian Army, bentukan Jenderal pembelot, Riyadh As'ad, semuanya berpatron pada Qatar dan Saudi.

Kamis, 15 Oktober 2015

Telaah Buku: Teologi dan Ajaran Shiah Menurut Referensi Induknya (3)

image
Selain Bahrain, Hamid juga menyebut Syiah sebagai sumber konflik di Kuwait. Hipotesis seperti ini menunjukkan kalau Hamid adalah seorang yang tidak berwawasan --untuk tidak menyebut T-O-L-O-L. Hipotesisnya tidak sejalan dengan motto pendidikan di Gontor: berpengetahuan luas. Perlu Hamid ketahui bahwa di Kuwait tidak terjadi konflik sebagaimana yang terjadi di Bahrain dan Irak, seperti saya singgung di atas. Apalagi tuduhan bahwa konflik tersebut disebabkan oleh perkembangan Syiah. Semuanya itu hanya ada di alam mimpinya saja.

Selasa, 13 Oktober 2015

Telaah Buku: Teologi dan Ajaran Shiah Menurut Referensi Induknya (2)

image
Seperti saya singgung di atas, untuk menentukan sebuah karya itu ilmiah atau tidak, diperlukan metode dengan standar yang jelas dan terakreditasi. Saya menolak klaim sepihak Hamid yang menyebut karyanya dan karya teman-temannya adalah ilmiah dengan tiga asumsi di atas. Dan, supaya tidak ikut-ikutan seperti mereka, saya harus membuktikan asumsi tersebut secara ilmiah. Karena kita berbicara tentang Syiah --dan Sunni, tentunya. Sedangkan keduanya, menurut Kamaruddin, adalah produk sejarah. Maka kita memerlukan metode sejarah. Dan metode sejarah dinilai ilmiah, menurut Louis Gottschalk, bila memenuhi dua syarat. Pertama, mampu menentukan fakta yang dapat dibuktikan. Kedua, fakta itu berasal dari unsur yang diperoleh dari hasil pemeriksaan yang kritis terhadap dokumen sejarah. Dan ketiga, tambahan dari saya meminjam istilah Prof. Suwito, harus dari sumber yang otoritatif dan dapat diverifikasi.

Minggu, 11 Oktober 2015

Telaah Buku: Teologi dan Ajaran Shiah Menurut Referensi Induknya (1)

image
Dosen saya di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, berkata kepada saya: Hamid Fahmi menerbitkan buku tentang Syiah. Setelah memperlihatkan sampul buku yang di-up load di group diskusi yang ia ikuti tertulis nama Hamid Fahmy Zarkasyi sebagai editor buku berjudul Teologi dan Ajaran Shiah Menurut Referensi Induknya. Segera saya menjawab: isinya bisa ditebak. Terlepas dari cara menulisnya yang jauh dari kaidah ilmiah walaupun Hamid mengklaim sebagai buku ilmiah, saya harus bersyukur. Sebab sekelompok santri Gontor telah mengangkat persoalan Syiah ke panggung polemik yang lebih kondusif untuk merangsang gairah pemikiran para santri dalam bentuk buku yang bisa dikritisi, daripada dalam bentuk pembekalan lisan yang sulit dibuktikan seperti yang selama ini dilakukan.

Sabtu, 10 Oktober 2015

Ada Syiah di Tengah Suni [Enton SS]

image
NU adalah Syiah minus imamah.Syiah adalah NU plus imamah (KH Abdurrahman Wahid)
KETIKA Gus Dur mengungkapkan kalimat di atas di berbagai tempat, tentu berkaitan dengan upaya mereduksi isu-isu sensitif yang kerap jadi pemicu konflik Suni-Syiah di Indonesia. Cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu berusaha menyederhanakan persoalan. Seolah ingin mengatakan, NU yang berbasis pada mazhab Syafi’i memiliki banyak kesamaan dengan Mazhab Syiah Itsna Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam atau Syiah Imamiyah) dalam tradisi keberagamaannya.
Perbedaannya hanya terletak pada konsep imamah (kepemimpinan) di tengah umat. Kalangan Ahlusunnah Waljamaah (Suni) –termasuk di dalamnya Mazhab Syafi’i- berpandangan pemegang tampuk kepemimpinan umat selepas Rasulullah SAW wafat, merupakan urusan kaum Muslimin yang ditentukan lewat musyawarah. Dengan demikian, urutan Khulafaurrasyidin yang terdiri dari Abu Bakar bin Abi Khuhafah, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib sudah on the track. Tidak ada persoalan.

Rabu, 07 Oktober 2015

Tuhan dalam Perspektif Islam Syiah


image
Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad
Hari ini, 2 Oktober 2015, bertepatan dengan 18 Dzulhijjah 1436 H. Pada tarikh yang sama, sepuluh tahun setelah Nabi Muhammad Saw (Saw: Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, salam sejahtera dari Allah baginya dan keluarganya) hijrah ke Madinah, beliau memimpin kafilah jemaah haji. Itulah haji yang pertama, haji yang terakhir. Haji satu-satunya.
Sepulang dari Makkah, jemaah haji berniat kembali ke daerah mereka masing-masing, tetapi Nabi Muhammad Saw memberhentikan jemaah. Yang sudah jauh, dimintanya untuk kembali. Yang belum datang, beliau tunggu. Pada tanggal 18 Dzulhijjah itu, Nabi Muhammad Saw meminta para sahabat membuat mimbar dari pelana kuda dan unta, kemudian naik ke atasnya bersama Ali bin Thalib as (as: ‘alaihis salam, salam sejahtera baginya). Setelah khutbah, beliau berkata, “Bukankah aku lebih kalian dahulukan dari siapapun?” Para sahabat menjawab, “Benar ya Rasulallah.” Lalu terdengar Nabi bersabda, “Man kuntu mawlaahu fa hadza ‘Aliyyun mawlaahu.” Barangsiapa menjadikan aku mawlanya, jadikan Ali mawla dia juga.”

Jumat, 02 Oktober 2015

Sejarah: Memahami Al-Ghadir [Akmal Kamil]

image
18 Dzul-Hijjah kaum Muslimin merayakan sebuah hari raya, bahkan merupakan hari raya terbesar di antara hari-hari raya Islam, seperti Idul Fitri dan Idul Qurban. Hari itu adalah hari imamah, khilafah dan hari kesempurnaan agama dan kemanusiaan. Hari dimana Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As dinobatkan sebagai imam dan khalifah kaum Muslimin pasca Rasulullah Saw. Hari itu sepanjang perjalanan sejarah kaum Muslimin dikenal sebagai hari Ghadir.

Apabila Ghadir bermakna kembalinya ingatan pada perubahan besar dalam sejarah umat manusia, di tengah budaya kaum Muslimin, hari Ghadir layak untuk diperingati sebagai hari raya akbar umat manusia khususnya bagi kaum Muslimin.

Lantaran perubahan besar dalam sejarah umat manusia berlangsung pada hari ini. Dan sebagaimana kita mendengar dari lisan riwayat, bahwa pada hari ini kesempurnaan agama dan kebahagiaan manusia telah distempel dan dijamin.

Kamis, 01 Oktober 2015

Kesamaan Nama Putra Ali dengan Sahabat

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad 
“Nahnu abnaa’u al-dalil, ayna ma maala, namil.” Kalimat itu akrab bagi para pengikut mazhab Ahlul Bait as. Kami ini putra-putra bukti, kemana pun ia pergi kami ikuti. Konon, ia dinisbatkan pada Imam ke-6, Imam Ja’far Shadiq as. Riwayat itu menegaskan agar kita tidak mengikuti sesuatu tanpa penelusuran, tanpa penelaahan, tanpa keyakinan. 
Dan tampaknya, sejak awal pengelompokkan kaum Muslimin dalam dua bagian pasca kekhalifahan Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib as, ada satu kelompok yang kerap dihujani berbagai fitnah dan tuduhan. Mereka dibesarkan dalam keharusan menyediakan bukti. Mereka tumbuh dengan kesiapan berargumentasi. Apa pasal? Mereka sasaran tudingan, mereka dihantam isu dan dipaksa menjelaskan. 
Kita sebut saja dua kelompok pasca Amirul Mu’minin Ali as itu, Hasani dan Umawi. Yang satu mengikuti Imam Hasan putra khalifah Ali as, yang lainnya mengikuti Mu’awiyyah bin Abi Sufyan pendiri kekhalifah Umayyah. Karena Dinasti Umayyah dalam sejarah kemudian berkuasa, kelompok yang pertama yang dikejar-kejar, dipersekusi, bahkan dicaci maki. Keyakinan mereka karenanya harus dipertahankan dengan berbagai bukti: baik ‘aqli maupun naqli.

Rabu, 30 September 2015

Kisah Kang Jalal: Syiah dan Kiai Cirebon

image
Suatu hari saya menghadiri pengajian di Masjid Al-Munawwarah, Jalan Kampus (Kiaracondong) Bandung. Guru saya: Al-Ustadz Jalaluddin Rakhmat yang menjadi narasumbernya. Kalau sedang berhalangan, biasanya diganti oleh putranya, Ustadz Miftah, yang juga guru saya.
Di majelis Ustadz Jalal, siapa pun boleh datang untuk menyimak ceramahnya. Tidak ada daftar kehadiran yang harus diisi jamaah. Duduk pun bebas. Boleh di sudut masjid, belakang, depan atau menyandar di depan gerbang masjid sambil selonjoran kaki. Tidak ada aturan yang mengikat. Sekali datang, kemudian tidak datang lagi juga diperbolehkan.

Selasa, 29 September 2015

ISLAMIC WORLD UNITY (Persatuan Umat Islam Dunia)


Dalam rangka menjalin persaudaraan dan persatuan di antara sesama umat Islam; serta untuk mengurangi pengaruh dari gerakan anti Syiah yang merupakan anti persaudaraan umat Islam, maka di Makassar digelar acara Deklarasi Persatuan Umat Islam ditandatangani oleh perwakilan Ahlusunnah dan Syiah. Masing-masing perwakilan menyatakan pentingnya ukhuwah Islamiyyah. Di bawah ini deklarasinya:
Bahwa Rasulullah Muhammad saw diutus oleh Allah swt sebagai nabi dan rasul untuk seluruh umat manusia, menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin .

Setelah melakukan seminar internasional dengan tema “ISLAMIC WORLD UNITY (Persatuan Umat Islam Dunia)”, dengan ini seminar merekomendasikan beberapa hal sebagai berikut :

Selasa, 15 September 2015

Mukmin dan Muslim

Sekitar lima puluh tahun setelah Nabi Muhammad SAW wafat, Gubernur Madinah adalah Marwan bin Hakam. Sebagaimana lazimnya di zaman itu, gubernur harus menjadi imam shalat di Masjid Nabi. Pada suatu shalat Idul Fitri, Marwan berkhutbah sebelum shalat. Lalu seorang laki-laki berdiri dan berseru, “Khutbah sebelum shalat?” Ia mempertanyakan perilaku imam itu, karena sepanjang pengetahuannya Rasulullah SAW dan para khalifah sebelumnya melakukan shalat dulu baru kemudian khutbah. Jamaah tentu saja ramai. Maka jadilah perdebatan antara imam dengan salah seorang makmum.
Abu Sa’id al-Khudhri, salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat senior, maju menengahi diskusi yang tengah berlangsung. Ia berkata, sambil menunjuk makmum yang memprotes imam itu, “Orang ini telah melaksanakan apa yang aku dengar dari Rasulullah SAW. Beliau bersabda: Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya. Apabila ia tidak mampu, maka dengan lidahnya. Apabila tidak mampu, maka dengan hatinya. Tetapi yang demikian itu iman yang paling lemah”.

Senin, 14 September 2015

Syiah Menjawab 10 Kriteria Aliran Sesat versi MUI

Pada buku Panduan MUI: Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (MMPSI)disebutkan 10 Kriteria Aliran Sesat. Buku Inilah JalanKu yang Lurus! (karya Emilia Renita Az) menggunakan 10 Kriteria Aliran Sesat ciptaan MUI dan menemukan bahwa MUI memenuhi kriteria tersebut. Berikut ini akan diulas 10 kriteria aliran sesat dan sesudahnya Sikap Resmi Muhammadiyah terhadap SyiahImamiyah.

Pertama, mengingkari salah satu rukun iman dan rukun Islam
Rukun Iman dan rukun Islam yang disebarkan oleh MUI adalah perumusan para ulama, dari hadis ‘Umar bin Khattab. Dari para sahabat lainnya, kita menyaksikan rukun-rukun Islam lainnya, selain yang lima tersebut, seperti termaktub dalam kitab-kitab hadis shahih. Bahkan pada awalnya, Nabi saw menyebutkan rukun Islam sebagai tanda-tanda keimanan. Setelah itu, para ulama mutakhir juga menambahkan dan mengurangi rukun Iman dan rukun Islam tadi. Mereka memasukkan jihad, amar makruf nahi munkar dan silaturahim ke dalamnya.

Minggu, 13 September 2015

Pensesatan Syiah Sudah Dijawab Ulama

Ustadz Muhammad Babul Ulum dalam sebuah pengajian menyampaikan bahwa isu penyesatan terhadap Syiah tidak ada yang baru dan masih berulang-ulang. Bahkan, isu yang dipakai untuk menyerang Syiah sudah banyak dijawab oleh ulama Syiah.

Ustadz Babul sekarang ini telah menyelesaikan desertasi doktor pemikiran Islam dengan mengambil penelitian tentang Al-Muawiyyat. Ustadz lulusan Pesantren Gontor ini mengaku mengambil judul tersebut terinspirasi dari buku Al-Mushthafa: Manusia Pilihan yang Disucikan karya Jalaluddin Rakhmat.

Menurut Ustadz Babul, Ustadz Jalal dalam bukunya menyajikan informasi sejarah zaman kekuasaan Bani Umayyah, khususnya Muawiyah bin Abu Sufyan, yang memerintahkan orang-orang yang terdekatnya untuk membuat hadits-hadits keutamaan sahabat-sahabat Nabi. Hal itu dilakukan agar hadits-hadits yang menyebutkan keutamaan Imam Ali dan Ahlulbait menjadi hilang. Muawiyah juga sempat melarang orang meriwayatkan keutamaan Imam Ali. Bahkan memerintahkan khatib untuk mencaci maki Imam Ali dan pengikutnya dalam khutbah jumat. Hal itu dilakukan ratusan tahun.

Sabtu, 12 September 2015

Titik Temu Sunni dan Syiah

Di dalam buku biografi pemikiran yang sangat terkenal, al-Fihrist, karya Ibn al-Nadim, disebutkan bahwa Imam Syafii sangat mencintai Syiah (syadid al-tasyayyu’ ). Salah satu kecintaan Imam Syafii kepada Syiah ditunjukkan ketika fatwanya bertentangan dengan fatwa Imam Ali, maka Imam Syafii langsung mengubah fatwanya, dan memilih untuk mengikuti fatwa Imam Ali.

Kisah ini dituturkan oleh Kang Jalal, panggilan akrab cendekiawan muslim, Jalaluddin Rakhmat dalam sebuah diskusi bulanan Forum Gusdurian, Jumat, 7 Februari di Jakarta. Bahkan, Kang Jalal mengutip ungkapan Imam Syafii yang lain, “Jika pengagum Imam Ali disebut sebagai Rafidhi, maka aku rela dipanggil sebagai Rafidhi”. Panggilan Rafidhi, sangat populer di kalangan Sunni, yang konotasinya cenderung negatif dan menyudutkan pengikut Syiah.

Jumat, 11 September 2015

Syiah menurut Syiah, Akhlak Pengikut Syiah

Selama ini, kita sering mendengarkan bahwa Syiah adalah mazhab yang sesat, kafir, dan tentu saja di luar Islam. Katanya, bagaimana tidak, Syiah adalah sebuah agama yang mengikuti seorang Yahudi yang pernah menyamar jadi orang Islam, lalu merusak Islam dari dalam. Syiah dituduh mengkafirkan sahabat-sahabat Nabi Muhammad Saw, mempercayai bahwa Alquran telah diubah, memiliki Alquran yang berbeda, menghalalkan nikah mut’ah yang setali tiga uang dengan perzinaan, memiliki rukun Iman dan pilar Islam yang berbeda, dan tuduhan-tuduhan lainnya.
Mereka yang melemparkan tuduhan tersebut tidak jarang mengutip literatur-literatur Syiah sendiri untuk menjustifikasi tuduhannya. Hanya saja, selain memotong sumber informasi agar “sesuai” dengan yang diinginkan, sering pula mereka mengutip informasi yang di kalangan mayoritas Syiah sendiri ditolak.

Kamis, 10 September 2015

PROBLEM DAN PROSPEK PERSATUAN ISLAM DI INDONESIA

Risalah Depok tentang persatuan Islam di Indonesia ini dirumuskan dalam seminar sehari  “Problem dan Prospek Persatuan Islam di Indonesia”, yang diselenggarakan di Depok, Jawa Barat, 27 Jumadi al-Awal 1433 / 19 Mei 2012.
Menyimak situasi merosotnya toleransi beragama belakangan ini dan konflik antar kelompok yang memprihatinkan, serta menguatnya gejala ekstremisme dan eksklusivisme keagamaan di kalangan Muslm di negeri kita, kami merasa perlu mendeklarasikan Risalah Depok sebagai berikut :

Selasa, 08 September 2015

Muhammadiyah Terima Perbedaan Fikih, Sunni, Syiah

“Yang penting ada ruang untuk selalu terbuka, fikih itu biasa dikonstruksi, direkonstruksi dan didekonstruksi, sehingga bisa menjadi dinamis,” kata Ketua Pengurus Pusat Muhammadiyah, Haidar Nashir, dalam peluncuran buku “Fikih Kebinekaan: Pandangan Islam Indonesia tentang Umat, Kewargaan dan Pemimpin non-Muslim” di markas besar organisasi di Jakarta, Kamis pekan lalu. Muhammadiyah terbuka terhadap aneka rupa perbedaan di kalangan Muslimin, termasuk dalam soal fikih, kata pejabat tertinggi organisasi, menegaskan komitmen lembaga pada ‘pluralitas’. 
Menurut Haidar, posisi Muhammadiyah, sebagaimana terungkap dalam muktamar organisasi di Makassar belum lama ini, adalah “membuka diri dan menerima perbedaan”. 

Senin, 07 September 2015

Di Bandung, Tradisi Muawiyah Berulang

Di daerah Soekarno Hatta Bandung, di sebuah masjid ada kultum. Menjelang shalat dzuhur berjamaah ada kuliah singkat sambil menunggu jamaah. Tampil seorang pemuda menyampaikan kesesatan Syiah. Dia menyampaikan cerita yang sama dengan yang disampaikan kaum takfiri penuh fitnah.
Seorang kawan mengabarkan pemuda tersebut masih terus beri kuliah menjelang shalat dzuhur di masjid tentang Syiah versi yang salah. Memang menjadi kesempatan yang efektif karena masjid tersebut masjid perusahaan sehingga banyak jamaah dari perkantoran. Momen itu dimanfaatkan oleh orang-orang yang mengobarkan kebencian. Sayangnya, pemuda itu tidak baca buku-buku tentang Syiah dari ulama Syiah atau konfirmasi dari orang Syiah sendiri.

Minggu, 06 September 2015

Penjual Buku Syiah Diusir

Pekan ini saya tidak punya bahan untuk menulis. Kemudian saya lihat facebook dan menemukan ulasan yang mencerahkan yang ditulis oleh pakar buku Hernowo dari penerbit Mizan. Saya merasa malu dengan Pak Hernowo.

Sudah lima ulasan yang dihasilkan atas pembacaannya dari buku Kang Jalal, Misteri Wasiat Nabi

Saya belum bisa menghasilkan ulasan yang renyah dan bergizi seperti Pak Hernowo. Mudah-mudahan saya bisa belajar banyak dari ulasan Pak Hernowo, dan memahami secara komprehensif setiap buku yang saya baca.

Berkaitan dengan buku, rabu kemarin saya ke pameran buku Islam di jalan Braga Bandung. Tiba pada stan yang menjual buku-buku karya ulama Syiah. Saya mengetahui ada stan buku tersebut dari kawan di facebook. Saya ke stand kemudian membeli buku. Saya ngobrol dengan penjualnya. Penjual buku itu mengatakan, ada beberapa orang yang datang kemudian tanya-tanya.

Resensi Buku: Spiritual Traveller, Sebuah Kisah Pencarian Makna

 Makna kehidupan tak cukup dihayati hanya dengan “katanya dan kata orang”. Dalam banyak hal, manusia memiliki tanggungjawab pribadi untuk mencarinya sendiri. Tentu, pencarian seperti ini membawa kita melewati banyak pertanyaan, keraguan, penolakan, bahkan tantangan.

Buku ini mengajak kita menelaah perjalanan intelektual dan spiritual seorang manusia, membuka kembali wawasan yang pernah dimiliki, menggugah lagi keyakinan yang pernah diimani. Kisah-kisahnya akan membawa Anda melakukan safari rohani, dialog sejarah, hingga wisata logika yang bernas.

Sabtu, 05 September 2015

Prof.Dr.Muhibbin: Hadis Palsu dan Lemah Dalam Sahih Bukhari

Sebagian besar umat Islam di seluruh dunia, yakin dan percaya bahwa kitab hadis Jami' al-Shahih karya Imam Bukhari adalah sebuah kitab yang berisi kumpulan hadis-hadis paling sahih. Karena keyakinan itu pula, sebagian besar ulama pun turut meyakini dan menempatkannya pada urutan pertama kitab hadis sahih.

Benarkah demikian? ''Tidak semua hadis yang terdapat dalam kitab Jami' al-Shahih karya Imam Bukhari itu benar-benar sahih. Terdapat beberapa hadis yang termasuk kategori lemah dan palsu,'' kata Prof Dr H Muhibbin MAg, guru besar dan pembantu Rektor I IAIN Walisongo, Semarang.
Menurutnya, berdasarkan penelitian yang dilakukannya (hasilnya penelitian Muhibbin ini sudah dibukukan--Red), terdapat hadis yang bertentangan dengan Alquran maupun antarhadis di dalam kitab tersebut.
''Hadis palsunya bermacam-macam. Ada yang karena tidak sesuai atau bertentangan dengan Alquran, namun ada pula yang tidak sesuai dengan kondisi kekinian,'' terang mantan dekan Fakultas Syariah IAIN Walisongo ini.
Kepada Syahruddin El-Fikri, wartawan RepublikaProf Muhibbin(sekarang Rektor IAIN Wali Songo Semarang) mengungkapkan berbagai kelemahan hadis yang terdapat dalam kitab Jami' al-Shahih tersebut. Berikut petikannya.

Jumat, 04 September 2015

Kang Jalal Munculkan Islam Madani

image
Orang-orang memadati ruang aula Muthahhari. Sebagian orang yang tidak mendapatkan kursi, duduk lesehan di karpet. Jamaah yang hadir tidak hanya dari Bandung, tetapi dari luar kota. Maklum pagi itu Aula Muthahhari menggelar Kajian Kang Jalal dengan tema refleksi pemikiran Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc yang dikenal Kang Jalal, dengan menghadirkan Drs. H. Dedy Djamaluddin Malik, M.S dan dimoderatori oleh Ustadz Babul Ulum.  
Dedy Djamaluddin Malik sebagai narasumber pertama menguraikan kisah seorang lelaki yang menikah dengan perempuan Islam. Setelah menikah, ternyata suaminya tidak pernah shalat dan puasa. Ketika ditanya, suami itu mengatakan kalau dia memeluk agama leluhurnya. Kemudian perempuan itu meninggalkan suaminya dan pergi ke Garut pada orangtuanya.