Sabtu, 30 Mei 2015

Prof Dr KH Umar Shihab MA: Bukan Buku Resmi Terbitan MUI Pusat


Silaturrahim Ketua Umum Pengurus Pusat Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (PP IJABI) Ust Syamsuddin Baharuddin menemui Ketua MUI Pusat Prof Dr KH Umar Shihab MA pada hari Senin 14 April 2014.

Dalam pertemuan tersebut, Syamsuddin mengkonfirmasi soal buku yang berjudul Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia, yang diklaim sebagai Buku Panduan MUI. Ternyata Prof Dr Umar Shihab sebagai Ketua MUI Pusat membantah klaim tersebut. Menurutnya, buku tersebut bukan buku resmi terbitan MUI Pusat. Buku tersebut tidak mendapatkan pengesahan resmi dari Ketua Umum MUI Pusat (saat itu dijabat almarhum KH Sahal Mahfudz) dan tidak mendapatkan persetujuan kolektif Pengurus MUI Pusat.

Jumat, 29 Mei 2015

Ustadz Babul Ulum: Buku Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia, Bukan Keputusan Resmi MUI

Buku Panduan MUI: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (MMPSI) karya kaum Takfiri Wahabi yang disebut sebagai oknum MUI (Majelis Ulama Indonesia) dibahas di berbagai tempat.

Di Bandung saja lebih dari tiga tempat. Hanya saja mereka tidak menghadirkan ustadz atau ulama dari pihak yang dituding sebagai menyimpang. Karena itu, sejumlah diskusi dan seminar buku MMPSI lebih layak disebut penghakiman ketimbang kajian ilmiah.

Kamis, 28 Mei 2015

Ijazah Kang Jalal: MKD Menyatakan Asli

"Dari sekretariat ada laporan. Yang satu adalah Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat) PDIP tentang keaslian ijazah, itu sudah diproses. Yang satunya (Hanura) dijajaki dulu. Mudah-mudahan hanya dua," kata Ketua MKD Surahman Hidayat di Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (27/5/2015).
Selain mendapat pengaduan tentang dugaan gelar doktor palsu anggota DPR F-Hanura Frans Agung Mula Putra, Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) juga menerima laporan soal ijazah palsu anggota F-PDIP Jalaluddin Rakhmat. Namun, aduan itu tidak terbukti.
Surahman menjelaskan bahwa laporan untuk Jalal berasal dari masyarakat. MKD sudah bersidang dan menyatakan bahwa ijazah Jalal dinyatakan asli.

Rabu, 27 Mei 2015

Diskusi Buku 40 Masalah Syiah: Catatan Untuk Fahmi Salim


Dalam diskusi buku berjudul 40 Masalah Syiah karya Emilia Renita Az yang diadakan Balitbang Kemenag, 17 Desember 2012, Fahmi Salim (Selanjut FS) menuduh penulis (Emilia Rebita Az) dan editornya (Kang Jalal) yang bertindak sebagai pembedah telah memutarbalikkan fakta sejarah terkait dengan terbunuhnya Utsman bin Affan.

Sembari menolak keterlibatan Aisyah, Thalhah, Zubair dan sahabat-sahabat yang lain, Fahmi menduga tuduhan Kang Jalal tersebut disandarkan pada kitab al-Muraja'at karangan Syafruddin al-Musawi yang menurutnya kitab fiktif yang penuh dengan tuduhan jahat.

Ada beberapa kesalahan fatal FS dalam diskusi atas studi kasus-kasus lektur dan khazanah keagamaan di Hotel Millenium, Tanah Abang, Jakarta Pusat tersebut.

Selasa, 26 Mei 2015

Kajian Sahabat: Kang Jalal dan Mas Babul



Rasa bangga dan bahagia tepercik dalam hati. Pasalnya, Kang Jalal (Dr KH Jalaluddin Rakhmat) sudah beres sidang desertasi di UIN Makassar. Berarti sudah ada karya ilmiah terbaru dari Kang Jalal. Saat dengar kabar lulus dengan predikat amat baik, saya senang dan ingin rasanya membaca utuh karya tersebut.

Desertasi yang berjudul Asal Usul Sunnah Sahabat, buah pena Kang Jalal ini termasuk fenomenal. Tidak semua karya ilmiah bisa membuat orang-orang marah dan gerah. Bahkan, segelintir orang dari Makassar mencoba untuk menggagalkan sidang karya ilmiah Kang Jalal dengan mengadukan kepada angota dewan. Tentu ini layak menjadi hiburan dan bahan bincang di media sosial.

Apa hubungannya karya ilmiah dengan anggota dewan? Saya kira mereka yang tidak suka dengan pemikiran Kang Jalal selayaknya masuk dalam bangku kuliah dan menulis karya ilmiah desertasi yang isinya melakukan kritik pemikiran Kang Jalal dalam desertasi. Dan, itu lebih terhormat ketimbang koar-koar dan teriak sana sini. Hanya menghabiskan energi dan memperlihatkan kebodohan.

Senin, 25 Mei 2015

Fuad Jabali dan Kang Jalal: Mengurai Sahabat Nabi

Rabu pagi (16 Maret 2011) saya dapat menghadiri diskusi buku Sahabat Nabi karya Dr.Fuad Jabali yang diterbitkan Mizan. Acara yang diprakarsai Jurusan Sejarah Peradaban Islam Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung ini digelar di Ruang Al-Jamiah Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Pimpinan tempat saya beraktivitas mengizinkan saya untuk menghadiri diskusi buku yang dikupas oleh guru saya: Prof.Dr.KH.Jalaluddin Rakhmat—yang biasa saya sapa dengan Ustadz Jalal.
Setiba di lokasi, saya kaget karena ruangan diskusi sudah penuh dan beberapa kawan lama, termasuk dosen-dosen yang pernah mengajar saya di Jurusan Sejarah Peradaban Islam, pun pada hadir. Biasanya kalau acara diskusi buku, para dosen enggan hadir. Jadi, pas tiba, serasa lepas kangen. Biasalah tanya ini itu. Sekira pukul 10-an, Ustadz Jalal tiba dan saat muncul dari tangga yang langsung menuju ruangan diskusi, segera saya hampiri kemudian mencium tangannya.
Diskusi yang dipandu Dr.Sulasman, M.Hum (dosen sejarah UIN Bandung) ini diawali dengan pemaparan Pak Fuad yang membahas tentang proses penulisan buku yang asalnya disertasi doktor sejarah di Universitas Leiden, Belanda.

Minggu, 24 Mei 2015

Menghadiri Haul Rasulullah saw

Tanggal 28 Shafar adalah hari wafat Rasulullah saw. Ini sejarah versi mazhab Syiah. Tidak semua orang mengetahui. Mungkin karena tidak belajar sejarah atau karena memang tidak peduli. Jika ini kebenaran maka alangkan abainya terhadap Rasulullah saw. Mengabaikan Nabi berarti tak menunjukkan kecintaan. Kalau sudah abai yang berujung tidak cinta maka alangkah ruginya. Orang yang tak cinta maka tak akan dicintai. Orang yang tak memberikan rasa kasih dan sayang, atau hanya menerima saja dari orang lain, termasuk yang pelit dan mungkin sombong. Ini harusnya dihindari.
Melawan lupa, mengingatkan momentum besar, dan duka cita atas Rasulullah saw merupakan sebuah bentuk kecintaan. Ini pula yang biasanya dilakukan warga Nahdlatul Ulama (NU) setiap kali mereka sampai pada hari wafat KH Hasyim Asyari dan KH Abdurrahman Wahid. Mereka berkumpul dalam satu majelis: baca yaasin, tahlilan, shalawat, doa, dan ceramah agama.

Sabtu, 23 Mei 2015

Asal Usul Sunnah Sahabat (oleh KH Jalaluddin Rakhmat)

Assalamu alaikum wr. Wb

Pada zaman Abdullāh bin Zubair, Abdullāh anak ‘Umar memberikan fatwa tentang hajji tamattu’ berdasarkan ayat Al-Quran dan sunnah Rasulullah saw. Orang-orang berkata kepada Ibnu ‘Umar: “Mengapa engkau menentang bapakmu, padahal ia telah melarang haji tamattu’.”  Ibnu ‘Umar berkata :

أفرسول الله ص أحق أن تتبعوا سنته أو عمر؟

Manakah yang lebih berhak diikuti: Sunnah Rasulullah saw atau sunnah ‘Umar?[1]
Pada zaman sahabat, telah muncul persoalan mana yang harus didahulukan: Sunnah Rasulullah saw atau Sunnah Sahabat.  Ibn Umar memilih sunnah Rasulullah saw, walaupun harus menentang sunnah ayahnya. 
Pada perkembangan tarikh tasyri’, Sunnah Sahabat  perlahan-lahan tetapi pasti  menjadi  salah-satu sumber syarak. Tiga tahun yang lalu, Maktabat al-Rasāʼil al-Jāmiʻīyah al-ʻĀlamīyah,menerbitkan jilid ke-47,  Qaul al-Sahabi: Hujjiyat al-‘Amal bih, ditulis oleh  Anas Muhammad Rida.

Jumat, 22 Mei 2015

Resensi Buku: Misteri Wasiat Nabi


Ketika menulis resensi ini, ingatan saya terbang pada pertanyaan teman di kuliah hadis. Saat itu sedang membahas biografi Abu Hurairah yang paling banyak meriwayatkan hadis. Dalam profesinya sebagai periwayat hadis, Abu Hurairah banyak dicela oleh sahabat besar lainnya seperti Khalifah ‘Umar dan Imam Ali. 

Lalu muncullah pertanyaan teman saya tadi, “Dengan kondisi Abu Hurairah yang memiliki problem, mengapa masih saja dipakai dalam rujukan hadis ?” Dosen menjawab “Kalau tidak diterima, maka hancurlah bangunan keislaman ini”.

Apa yang dikatakan oleh dosen tadi tentu saja bukan main-main. Abu Hurairah merupakan orang yang meriwayatkan lebih dari 5300 hadis. Coba bandingkan dengan Siti Aisyah, istri Nabi yang meriwayatkan 2200 hadis. Imam Ali bin Abi Thalib, yang merupakan menantu, sahabat dan pintu ilmu nubuwah hanya meriwayatkan 500-an Hadis saja.

Kamis, 21 Mei 2015

Emilia Az: Menjawab Sikap Resmi Muhammadiyah

image
Pedoman Pengurus Pusat Muhammadiyah ini lebih “intelektual” dan “open-minded” dari 10 kriteria MUI. Ia tidak menghakimi, tapi berusaha memahami. Ia tidak menyalahkan, tapi hanya menjelaskan. Seakan-akan pedoman ini ingin mengatakan: Ini pilihan Muhammadiyah dan itu pilihan Syiah.
“A Votre chose, a votre guise,” kata kaum Eksistensialis. Terserah pilihan loe! “Tetapi setiap pilihan harus dipertanggungjawabkan,” masih kata para filusuf.
Muhammadiyah mempertanggungjawabkannya dengan dalil-dalil dari al-Quran dan Sunnah. Begitu juga Syiah! Berikut ini adalah pertanggung-jawaban Syiah pada setiap pilihan itu.

Rabu, 20 Mei 2015

Inilah Buku Syiah untuk Menjawab Pensesatan Syiah

Ada buku baru berjudul Syiah Menurut Syiah. Buku ini diberi pengantar Menteri Agama RI. Diterbitkan oleh Ormas ABI tahun 2014. Isi bukunya menjawab sekaligus menyanggah buku Panduan MUI: Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia,  buku yang ditulis oleh oknum yang mengatasnamakan MUI Pusat. 
Sebelumnya, ormas ABI mengeluarkan Buku Putih Mazhab Syiah. Karya tim penulis ABI (Ahlul Bait Indonesia) sudah mengalami cetakan beberapa kali. Saya menemukannya di toko buku di Bandung. Segera membelinya takut kehabisan.
Maklum Buku Putih Mazhab Syiah isinya kuat dari sisi kajian dengan sumber rujukan yang kaya. Tampaknya tim penulis adalah orang-orang ahli sehingga jelas dalam setiap uraiannya dan bersifat informatif. Kalau Anda baca, benar-benar menyajikan Islam mazhab Syiah yang berbeda dengan yang didapatkan dari orang-orang yang suka memfitnah. Buku ini benar-benar klarifikasi dari kaum Muslim Syiah atas segala tuduhan dan fitnah kaum takfiri Wahabi yang semakin gencar di negeri kita ini.

Sebelumnya, seorang muslimah dari Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) menerbitkan buku yang berupaya memberikan jawaban atas tuduhan dan fitnah terhadap Kaum Muslimin Syiah. 

Selasa, 19 Mei 2015

Kaum Takfiri adalah Kaki Tangan Zionisme

Islam itu ajaran agama yang universal dan penuh kedamaian. Itulah inti agama Islam yang dibawa Rasulullah saw. Namun setelah wafat Nabi Muhammad saw hingga sekarang, Islam yang muncul dalam berbagai mazhab. Bahkan hampir dalam setiap ilmu-ilmu Islam terdapat mazhab dan aliran. Baik dalam bidang akidah atau ilmu kalam, tafsir, tawasuf atau tarekat, filsafat, fikih, politik, hadis, dan lainnya, terdapat aliran dan mazhab yang saling berbeda.
Dalam ilmu kalam (aqidah) terdapat mazhab-mazhab aqidah seperti Khawarij, Syiah, Jabariyah, Qadariyah, Murjiah, Maturidiyah, Mutazilah, Asyariyah (Sunni), Wahabiyah, dan lainnya.

Senin, 18 Mei 2015

Ciri Muslim Syiah: Cinta Ilmu

Salam wa rahmah. Sebelumnya kami minta maaf karena belum meminta izin untuk dituliskan. Namun, kami melihat ada pelajaran yang berharga sehingga kami tuliskan di sini dengan tetap kami jaga kerahasiaan orangnya. Ini berkaitan dengan pertemuan dengan seorang pembeli buku.
Tadi pagi kami ngobrol dengan pembeli buku Misteri Wasiat Nabi buah pena Kang Jalal (Dr.KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc) yang diterbitkan Misykat. Dia merasa senang dengan terbitnya buku tersebut dan terus memantau perkembangan Kang Jalal sejak dari munculnya desas desus Syiah hingga terakhir ujian doktoral di UIN  Alauddin Makassar.
Bapak yang berpenampilan sederhana dan berbicara dengan nada tenang, mengatakan bahwa buku Kang Jalal ini sebuah karya ilmiah yang mempunyai lika liku panjang dan memiliki kriteria ilmiah. Seharusnya, orang-orang yang merongrong Kang Jalal membuat karya ilmiah setingkat doktoral berupa bantahan. Sayangnya, mereka hanya mampu menyebar informasi murahan dan fitnah ketimbang membuat karya akademik setingkat doktoral. Semua yang dilakukan oleh orang yang benci Kang Jalal terlihat tidak memiliki ilmu dan hanya mengedepankan keberanian bicara dalam media. Tidak berani melakukan tabayun dan dialog dengan orang-orang yang dianggap para tokoh Syiah. Seharusnya kalau mereka merasa benar dalam paham agama yang dianutnya, segera buktikan dengan kajian ilmiah.

Sabtu, 16 Mei 2015

Melawan Kaum Takfiri Seperti Berhadapan Dengan Orang Sakit Jiwa

image
Salah seorang kawan bertanya: mengapa orang-orang Islam yang menganut mazhab Syiah disebut sesat dan diserang? Bukankah pengikut mazhab Syiah juga punya dalil-dalil yang berdasarkan Al-Quran dan Hadis?
Saya hanya tersenyum. Saya tidak bisa menjawabnya dengan tegas atau yang menenteramkan  hatinya. Saya hanya menyampaikan bahwa sebetulnya sudah banyak beredar buku-buku yang membahas kebenaran Syiah beserta dalil-dalilnya. Sudah banyak konferensi dan kegiatan musyawarah antara ulama sedunia yang menegaskan Syiah bagian dari Islam.
Semua mazhab yang masih bertuhankan Allah, ber-Nabi-kan Muhammad saw, dan memegang Al-Quran dan hadis Rasulullah saw sebagai pedomannya. Kemudian mengerjakan shalat dan berkiblat ke Baitullah (Ka’bah), haji ke Makkah, menjalankan puasa wajib Ramadhan, dan bayar zakat. Maka orang yang menunaikan itu semua masih layak disebut orang Islam.

Malaysia Menolak Wahabi, Mengapa Indonesia Tidak?

image
Sebuah situs resmi Mufti Perak, Malaysia , memuat fatwa penolakan terhadap paham Wahabi. Dalam situs tersebut disebutkan bahwa aliran atau paham Wahabi dianggap bercanggah atau bertentangan dengan Aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Meski pengikut Wahabi bersembunyi dibalik mazhab Ahlussunah, tetapi para ulam dalam lembaga Mufti Perak Malaysia bisa melihat perbedaannya sehingga diharamkan keberadaannya di Perak Malaysia.
Saya kira ini merupakan kabar yang baik. Semoga negeri-negeri yang banyak dihuni umat Islam berani dengan tegas menolak paham Wahabi. Selain meresahkan dan mencoba menghancurkan Islam dari dalam. Mereka tak segan-segan menyebut kafir dan sesat kepada sesama Muslim yang berbeda dari segi fikih atau tafsir maupun dalam ilmu kalam.
Kaum Wahabi termasuk yang menolak shalawatan, ziarah kubur, perayaan Asyura, tahlilan, syukuran ulang tahun, Maulid Nabi, dan perayaan Islam lainnya yang tidak dicontohkan Rasulullah saw. Dengan dalih menegakan tauhid mereka menghujat Ahlussunah dan Ahlulbait. Bahkan, yang paling mengerikan ada di antara mereka yang menyebut Amirul Mukminin kepada Yazid bin Muawiyah yang merupakan raja zalim. Dia yang menjadi dalang dibalik pembantaian Ahlulbait, dalam hal ini Imam Husain (cucu Rasulullah saw) di Karbala, Irak, yang terjadi pada 10 Muharram 61 Hijriah.

Selasa, 12 Mei 2015

Siapakah yang Dimaksud Aali Muhammad, Ahlulbait, dan Al-Qurba?


Seseorang bertanya melalui e-mail: apa bedanya Aali Muhammad dan Ahlul Bait? Mengapa dalam shalawat yang disebut Aali Muhammad, bukan Ahlul Bait? Juga apa itu Al-Qurba. Mohon penjelasannya. 
Jawaban
Aali (آل)   dan Ahli (أهل)   sama saja dalam sisi makna secara bahasa (lughawi), cuma Aali di sini merupakan perubahan dari Ahli. Kita bisa lihat di dalam kitab lisanul Arab :
لسان العرب ؛ ج‏11 ؛ ص30
آل‏ الله‏ و آل‏ رسوله: أَولياؤه، أَصلها أَهل ثم أُبدلت الهاء همزة فصارت في التقدير أَأْل، فلما توالت الهمزتان أَبدلوا الثانية أَلفاً كما قالوا آدم و آخر
Aalullahi wa Aalurrasuli, yakni auliyaauhu (maknanya pengikutnya), asalnya (Aali) dari Ahli kemudian diganti (ha) nya menjadi hamzah sehingga menjadi ( أأل ) dan ketika tawali (bertemu beriringan) kedua hamzah maka hamzah yang kedua berubah menjadi Alif (sehingga menjadi أال dan menjadi آل   seperti halnya Aadam dan Aakhar. 

Senin, 11 Mei 2015

Menjawab tentang Sonamay Quraisy (2)

Suffer membalas: Kenapa anda selalu menjawab dg kedustaan2 dan kebohongan2 hanya untuk ngeles dan lari kabur dar tanya jawab ini?!?!?!
JAWAB SAJA, BENARA ATAU TIDAK ULAMA SYIAH ANDA AL MAJLISI DAN ULAMA2 BESAR SYIAH YANG LAIN JELAS2 TELAH MENGKAFIRKAN PARA SAHABAT RASULULLAH?!?!?!?!?
SILAHKAN DIPERIKSA DI KITAB YANG ANA SEBUTKAN TERSEBUT!!!!
Bukankah al majlisi jelas2 mengatakan disitu bahwa riwayat kekafiran para sahabat itu adalah sahih?!?!?!?!?!?!?
Ana heran, kitab2 rijal dari ulama syiah termashur yang ana cantumkan selalu anda abaikan karena tidak bisa mendukung argumentasi anda, bahkan al majlisi dan kitabnya biharul anwar anda sepelekan dan lecehkan; seolah-olah orang itu dan kitabnya adalah orang jalanan yang mengarang buku roman picisan?!?!
Apakah anda tidak takut laknat dan kutukan para ulama syiah? Padahal mereka itu seperti al kulaini, al majlisi, khomeini khan pewaris dan pengganti imam maksum yg derajatnya sama dg para 12 imam syiah kalian?

Minggu, 10 Mei 2015

Menjawab tentang Sonamay Quraisy (1)

Dalam email, Suffer membalas: Doa agung tersebut dikenal dengan doa  صَنَمَيْ   قُرَيْشٍ  "Sonamay Quraisy" yang artinya dua berhala kaum Quraisy, yang mereka maksud adalah Abu Bakar dan Umar. Kaum Syi'ah adalah kaum yang hobinya mengkafirkan dan melaknat para sahabat. Diantara doa yang mereka agungkan adalah doa untuk melaknat Abu Bakar dan Umar bin Al-Khottob serta kedua putri mereka Aisyah dan Hafsoh radhiallahu 'anhum. Mereka mendakwahkan bahwa doa ini adalah doa yang dibaca oleh Ali bin Abi Tholib radhiallahu 'anhu dalam qunutnya, akan tetapi tentunya ini adalah kedustaan karena tidak diriwayatkan dengan sanad yang shahih dari Ali. Dan sesungguhnya merekapun mengakui akan hal ini (bahwasanya tidak ada sanad yang shahih tentang doa ini dari Ali).
Dalam salah satu website mereka yaitu Syi'ah Iraq, mereka berkata (seraya membongkar kedustaan taqiyyah mereka):  "Tatkala ahlus sunnah mempermasalahkan kita tentang adanya doa shonamay Quraisy dalam kitab-kitab kita, dan karena demi mengambil hati mereka maka kita berkata, "Sesungguhnya doa ini tidak mu'tabar (tidak diakui) di sisi kami". Bahkan tatkala sebagian ulama kita ketika ditanya tentang sejauh mana kevalidan doa ini maka mereka menjawab, "Sanad doa ini tidaklah shahih".
Semua jawaban ini hanyalah demi persatuan saja. Adapun hakekatnya bahwasanya doa ini adalah doa yang sangat agung, dan keabsahan/kevalidan doa ini tidak dipersyaratkan keshahihan sanadnya. Kita memiliki kaidah bahwasanya doa ini telah diamalkan oleh para ulama kita dan telah masyhur. Selain itu kitab-kitab Syi'ah yang menjadi pegangan/diakui telah menukil doa ini, demikian pula kitab-kitab yang ditulis untuk menjelaskannya. Ini sudah cukup menunjukkan akan absahnya/validnya doa ini. Berikut ini saya akan membawakan untuk kalian kitab-kitab yang menyebutkan doa yang mulia ini…"

Sabtu, 09 Mei 2015

Benarkah Ada: Dua Berhala Quraisy dalam Doa?

Muslimin Suffer dalam e-mail menulis: Nampaknya anda menganggap ana sebodoh anda ya, dg tipuan dan dusta murahan itu anda coba berbohong tentang kenyataan syiah yg sebenarnya … Lalu pelaknatan dan pengkafiran para sahabat di ucapan sahadat syiah itu apa, cuma bercanda ?!?!?! Ana sdh berpikir berulang-ulang, agama macam apa ya kok landasan utamanya adalah dusta, bohong dan nipu spt ini … 
(dalam emailnya, suffer mencantumkan cuplikan gambar FB orang yg sedang marah dan debat sampai keluar kalimat yang kurang santun di antara yang debat; maaf tidak dicantumkan kurang pas dengan karakter bangsa Indonesia—redaksi Misykat). 

Jumat, 08 Mei 2015

Fiqih: Shalat Jumat

Seseorang melayangkan pertanyaan setelah membaca sebuah artikel Dahlan Iskan tentang Shalat Jumat di Iran. Ia bertanya: apakah benar kalau sholat Jumat tidak wajib? Rujukannya nash yang mana? 
JAWABAN: Ada nash dalam al-Quran, surah Jumu'ah ayat 9: 'Hai orang yang beriman, "idza nuudiya lis shalaati min yawmil Jumu'ah..."(Apabila dipanggil salat di Hari Jum'at...)'. Yang memanggil shalat itu bukan (hanya) seruan azan, melainkan juga Amirul Mu'minin pada jamannya.

Kamis, 07 Mei 2015

Benarkah Ada Wasiat Rasulullah saw Kepada Imam Ali?

Seseorang mengirimkan e-mail dan bertanya tentang sahabat yang berjumlah 110 ribu orang yang hadir di ghadir khum. Dari peristiwa ghadir khum sampai wafat Rasulullah saw tidak kurang dari tujuh puluh hari. Di Ghadir Khum disebutkan bahwa Ali bin Abi Thalib ra menjadi imam/khalifah peneris Rasulullah saw. Semua sahabat menyambutnya. Hanya saja kenapa ketika wafat Nabi tidak ada yang mengingatkan tentang wasiat ghadir khum sehingga terjadi pemilihan Abu Bakar ra menjadi khalifah. Aneh sekali hanya tujuh puluh hari begitu cepat dilupakan. 
Benarkah sahabat yang ikut dalam Ghadir Khum sengaja melupakan atau peristiwa ghadir khum itu bukanlah berkaitan dengan khalifah setelah Rasulullah saw sehingga tidak perlu memegang wasiat Nabi?

Rabu, 06 Mei 2015

Kesamaan Nama Putra Imam Ali dengan Sahabat

Muslim in suffer (musliminsuffer@gmail.com) menulis: Sayang kamu tidak menjawab pertanyaan2 ana, hanya memberikan pembenaran2 saja! Padahal inti pertanyaan2 ana adalah bagaimana mungkin Ali bin Abi Thalib begitu bersemangat menjalin hubungan kekerabatan dan sangat senang memberi nama anak2 Beliau dengan musuh2 syiah (Abu Bakar, Umar Utsman dll yang menurut syiah musuh, kafir dan nama2 pintu neraka); mungkin pertanyaan2 ini sangat kontradiksi dg agama syiah itu sendiri?!?!?!
Ini ana tambahkan referensi lain: Dalam tatanan sosial masyarakat, ada dua hal penting yang bernilai sangat sakral, dan merupakan makna cinta super tinggi. Kedua hal yang kami maksud adalah perbesanan dan penamaan. Seorang muslim, akan sangat berhati-hati dalam memilih calon istri, calon menantu, dan calon besannya.
Sebelum keputusan diambil, berbagai kriteria dijadikan pertimbangan penting. Setelah akad pernikahan terealisasi, mulailah benih-benih cinta tumbuh dan berkembang. Kemudian, saat Allah mengkaruniai buah hati kepada dua pihak yang saling mencintai, mereka kemudian akan sama-sama mencari nama terindah, dan paling disukai, biasanya mereka akan melihat figur utama penyandang nama tersebut, juga melihat sisi keindahan arti sebuah nama. Dua hal ini benar-benar difahami oleh SAHABAT dan AHLU BAIT Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam, dengan nyata kita saksikan aplikasi cinta antara kedua pihak ini di semua generasi.

Selasa, 05 Mei 2015

Hubungan Imam Ali ra dengan Abu Bakar, Umar, dan Usman

Beberapa hari yang lalu, seorang yang mengatasnamakan Muslimin Suffer mengirimkan email-email yang bernuansa provokasi dan menyebarkan informasi yang kurang baik tentang Ahlulbait dan Syiah. Setelah melakukan dialog via email, ternayat tampak tak ada upaya untuk cari kebenaran malah sebaliknya. Kemudian dalam milis Pengajian Ahad, seorang kawan melayaninya via email. Inilah hasil diskusinya....
Tanggapan
Salam, sayang sekali anda tidak mencoba membaca dengan saksama. Menurut asumsi anda, Imam Ali "begitu bersemangat menjalin hubungan kekerabatan dan sangat senang memberi nama anak-anak beliau dengan musuh syiah (Abu Bakar, Umar Utsman dll)." 
Anda mencoba membuktikan bahwa beliau bersemangat menjalin hubungan baik dengan para ketiga Khulafa itu antara lain dengan memberi nama anak-anak beliau dengan nama-nama mereka. Saya mencoba membuktikan, bukan sekadar membenarkan, bahwa nama-nama yang beliau berikan itu TIDAK merujuk kepada ketiga Khalifah itu.  

Senin, 04 Mei 2015

Peluncuran Buku Terjemah Ushul Kafi

Salam wa rahmah. Minggu, 3 Mei 2015 (13 Rajab 1436) saya ke Muthahhari untuk mengikuti milad Imam Ali bin Abi Thalib ra dan milad Yayasan Muthahhari. Di aula Muthahhari, jalan Kampus Kiaracondong Bandung, sekira pukul 10.00 sudah padat. Jamaah penuh sesak. Harus ada aula baru. Semakin hari bertambah terus jamaah Kang Jalal (Dr KH Jalaluddin Rakhmat). Gumam saya dalam hati sambil duduk dempetan.
Dari arah kanan aula, terlihat Kang Jalal masuk sambil pupunten untuk dapat masuk ruangan bagian depan. Senyum lebar tampak ketika jalan. Di bagian depan sudah ada tokoh masyarakat dan pengurus ormas IJABI.
Saya lihat ada Ustadz Babul, doktor lulusan UIN Jakarta yang menulis buku Hadis-hadis Muawiyyah dan menerjemahkan kitab hadis Ushul Kafi bersama Dr Dimitri Mahayana.
Di spanduk depan tertera bahwa ada tiga buku diluncurkan: Misteri Wasiat Nabi karya Kang Jalal (ringkasan desertasi), Al-Muawiyyat, dan Ushul Kafi. Diluncurkan juga program Yayasan Muthahhari: Altanwir Digital, LPII, dan M-center. Kreatif dan tidak berhenti berkarya. Gumam saya dalam hati. Meski terus diserang dan dinyatakan sesat oleh segelintir orang, tetapi lembaga yang dinakodai oleh Kang Jalal ini makin melejit.

Minggu, 03 Mei 2015

Selamat Milad Yayasan Muthahhari: 26 Tahun

Salam… 13 Rajab 1436, tepat 26 tahun usia Yayasan Muthahhari Bandung. Banyak tantangan dari luar dan isu yang tersebar. Dari yang positif hingga negatif. Maklum menggunakan nama tokoh Islam Iran tentu sangat beresiko.
Namun, hingga kini lembaga yang dikomandani oleh Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat) terus melesat. Seakan tidak menghiraukan segala hambatan yang menghadang. Memang, begitulah seharusnya. Lebih baik banyak karya ketimbang berurusan dengan mereka yang tak suka atau yang merasa tersaingi. Dari lembaga ini lahir IJABI (Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia) dan masjid Al-Munawwarah, tempat pengajian saban minggu pagi.

Sabtu, 02 Mei 2015

Dua Wajah Islam

Alhamdulillah, saya bisa ikut pengajian ahad di masjid munawwarah, lingkungan Yayasan Muthahhari Bandung. Kang Jalal yang menjadi narasumber yang memaparkan dua wajah Islam: sunni dan syiah.
Kang Jalal menyatakan hanya ada dua beda dari kedua mazhab Islam ini. Pertama bahwa Syiah percaya Rasulullah saw telah mewasiatkan kepada Imam Ali untuk melanjutkan risalah Islam sekaligus kepemimpinan Islam. Sedangkan Sunni tidak percaya dengan wasiat sehingga kepemimpinan dipilih oleh umat. Kedua, Syiah menetapkan bahwa harus taat kepada pemimpin yang adil dan menentang kezaliman. Sedangkan Sunni (dalam hal ini sebagian ulamanya) menetapkan harus taat kepada pemimpin meski zalim.
Dari ceramahnya, Kang Jalal cerita bahwa ia ditanya seorang kiai yang punya jamaah yang banyak. Apa beda syiah dan sunni? Ditanya demikian, Kang Jalal menjawab bahwa Syiah meyakini setelah Rasulullah saw risalah Islam dilanjutkan oleh para imam yang berjumlah dua belas orang. Lalu, kiai itu berkata: imam kedua belas itu Khomeini, ya? Kemudian dijelaskan oleh Kang Jalal tentang siapa saja yang termasuk Imam Syiah dari jalur Ahlulbait yang dicantumkan dalam hadis-hadis Rasulullah saw.