Selasa, 30 Juni 2015

Banyak yang Masuk Syiah karena Meneliti


“Mabniyyun ‘ala Sunni,” tegas Engkos Kosasih, seorang doktor yang bekerja sebagai dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Pernyataan itu saya dengar dalam diskusi Kesesatan Sunni Syiah–sebuah buku yang ditulis oleh M.Babul Ulum–di UIN Bandung.
Awalnya saya mengira beliau bukan dosen UIN. Seorang kawan mahasiswa bilang: ia lulusan Al-Azhar. Pantas. Sangat percaya diri. Apalagi melihat kasus kemarin ulama yang dibunuh dengan keji. Wah Mesir yang memiliki khazanah Islam dalam peradaban Islam semakin memudar dan tak mampu menampakkan kearifannya.

Pernyataan di atas, saya kira suatu yang wajar. Namun, bagi seorang akademis pasti bukan suatu kepastian karena bisa jadi nanti sekira sepuluh sampai dua puluh tahun kemudian ada perubahan. Itu juga yang diungkapkan Prof Rosihon Anwar, Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Bandung dalam diskusi.

Minggu, 28 Juni 2015

Buku Misteri Wasiat Nabi, Masuk Cetakan Dua

Alhamdulillah, itu yang saya ucapkan ketika seorang kawan dari Penerbit Misykat menyatakan buku Misteri Wasiat Nabi karya Dr KH Jalaluddin Rakhmat sudah masuk cetakan dua. Cetakan satu terbit bulan Mei dan cetakan dua terbit awal Juni ini. Buku ini juga dijual di sejumlah toko buku ternama di Indonesia.

Bagi saya informasi tentang buku Misteri Wasiat Nabi yang masuk cetakan dua merupakan sebuah kebahagiaan karena ringkasan desertasi yang ilmiah bisa diterima di masyarakat. Tampaknya dengan hadirnya buku tersebut telah menggugurkan pendapat umum di penerbitan bahwa karya ilmiah tidak laku di masyarakat. Dengan buku Kang Jalal, pernyataan tersebut gugur.

Kamis, 25 Juni 2015

Resensi Buku: Saqifah Bani Saidah, Awal Perselisihan Umat Islam

Judul  : Saqifah Bani Saidah, Awal Perselisihan Umat Islam
Penulis : Dr. Omar Hashem
Penerbit : Rausyan Fikr Institute  
Harga: 65.000 (belum termasuk ongkos kirim)

Pembaiatan Abû Bakar sebagai khalîfah pertama di Saqîfah Banî Sâ’idah adalah peristiwa yang berekor panjang. Abû Bakar dan Umar sendiri kemudian mengakuinya sebagai tindakan keliru yang dilakukan secara tergesa-gesa, faltah.

Rabu, 24 Juni 2015

Dari Literatur Syi'ah Ke Marja'iyyah [Ustadz Miftah F.Rakhmat]


Alkisah, seorang anak ditanya oleh ayahnya. Sang ayah adalah seorang alim besar pada zamannya.
“Ingin jadi apakah kau ketika besar nanti?”
“Aku ingin menjadi sepertimu” jawab si anak.
“Salah besar anakku, bercita-citalah untuk meniru Imam Ja’far Shadiq. Dengan begitu, walaupun 1 % cita-citamu itu tercapai, engkau sudah jauh lebih baik dariku”.

Cerita di atas menggambarkan sebuah tradisi keilmuan dalam mazhab Ahlul Bait. Tentu yang dimaksud dengan Ahlul Bait di sini adalah mazhab Syi’ah Imamiyyah. Walaupun saya pribadi cenderung memisahkan antara kedua istilah itu. Ahlul Bait adalah pusaka peninggalan Rasulullah untuk umatnya, karena itu ia tidak terbatas hanya kepada Syi’ah saja.

Dari cerita di atas terlihat betapa besar pengaruh para Imam Ahlul Bait kepada para pengikutnya. Imam Ja’far Shadiq, misalnya, meninggalkan khazanah keilmuan yang banyak untuk para pengikutnya. Pada masa beliaulah “universitas Islam” pertama didirikan. Abu Hanifah, salah seorang murid Imam Ja’far Shadiq, bahkan dididik dalam suasana toleransi dan pluralitas bermazhab yang tak terbatas. Bahkan para zindiq pun waktu itu mewarisi dan menikmati wacana intelektual yang beragam. 

Minggu, 21 Juni 2015

Kupas Buku: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (16),

Pada bagian ketiga tentang penyimpangan Syiah, MMPSI (Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia) mencoba menggiring pembacanya dengan menuduh syiah mengafirkan umat Islam selain syiah, termasuk ahlussunnah wal jamaah. 
Dalam hal ini, MMPSI menurunkan beberapa kutipan dari buku-buku syiah untuk menegakkan hujjahnya. Namun sayang, Tuduhan ini di dasarkan kepada beberapa riwayat lemah dan pendapat yang keliru dipahami serta diselewengkan maknanya. Berikut ini akan di bahas kutipan MMPSI dari kitab-kitab syiah tersebut. 
Semua Orang Selain Syiah adalah Anak Pelacur
MMPSI dengan mengutip kitab Raudhah min al-Kafi, vol.8 h.227 menyatakan :
“Seorang ulama Syiah, al-Kulaini mengatakan dalam kitabnya bahwa semua umat Islam selain syiah adalah anak pelacur. (hal. 43) 
Tanggapan :
Tentang hadis di atas, MMPSI keliru dalam memahami riwayat dari Syaikh al-Kulaini tersebut dan melakukan penyimpangan terhadap makna ‘pelacur’ dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Kulaini. Kekeliruan itu disebarkan dengan cara memotong-motong hadis tersebut sehingga terkesan buruk. Karena itu, untuk mendapatkan makna sesungguhnya, kita tuliskan teks yang dipotong tersebut. Berikut hadisnya :  
عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ عَنْ عَلِيِّ بْنِ الْعَبَّاسِ عَنِ الْحَسَنِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ عَاصِمِ بْنِ حُمَيْدٍ عَنْ أَبِي حَمْزَةَ عَنْ أَبِي جَعْفَرٍ ( عليه السلام ) قَالَ قُلْتُ لَهُ إِنَّ بَعْضَ أَصْحَابِنَا يَفْتَرُونَ وَ يَقْذِفُونَ مَنْ خَالَفَهُمْ فَقَالَ لِي الْكَفُّ عَنْهُمْ أَجْمَلُ ثُمَّ قَالَ وَ اللَّهِ يَا أَبَا حَمْزَةَ إِنَّ النَّاسَ كُلَّهُمْ أَوْلَادُ بَغَايَا مَا خَلَا شِيعَتَنَا قُلْتُ كَيْفَ لِي بِالْمَخْرَجِ مِنْ هَذَا فَقَالَ لِي يَا أَبَا حَمْزَةَ كِتَابُ اللَّهِ الْمُنْزَلُ يَدُلُّ عَلَيْهِ إِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَ تَعَالَى جَعَلَ لَنَا أَهْلَ الْبَيْتِ سِهَاماً ثَلَاثَةً فِي جَمِيعِ الْفَيْ‏ءِ ثُمَّ قَالَ عَزَّ وَ جَلَّ وَ اعْلَمُوا أَنَّما غَنِمْتُمْ مِنْ شَيْ‏ءٍ فَأَنَّ لِلَّهِ خُمُسَهُ وَ لِلرَّسُولِ وَ لِذِي الْقُرْبى وَ الْيَتامى وَ الْمَساكِينِ وَ ابْنِ السَّبِيلِ فَنَحْنُ أَصْحَابُ الْخُمُسِوَ الْفَيْ‏ءِ وَ قَدْ حَرَّمْنَاهُ عَلَى جَمِيعِ النَّاسِ مَا خَلَا شِيعَتَنَا وَ اللَّهِ يَا أَبَا حَمْزَةَ مَا مِنْ أَرْضٍ تُفْتَحُ وَ لَا خُمُسٍ يُخْمَسُ فَيُضْرَبُ عَلَى شَيْ‏ءٍ مِنْهُ إِلَّا كَانَ حَرَاماً عَلَى مَنْ يُصِيبُهُ فَرْجاً كَانَ أَوْ مَالًا وَ لَوْ قَدْ ظَهَرَ الْحَقُّ لَقَدْ بِيعَ الرَّجُلُ الْكَرِيمَةُ عَلَيْهِ نَفْسُهُ فِيمَنْ لَا يَزِيدُ حَتَّى إِنَّ الرَّجُلَ مِنْهُمْ لَيَفْتَدِي بِجَمِيعِ مَالِهِ وَ يَطْلُبُ النَّجَاةَ لِنَفْسِهِ فَلَا يَصِلُ إِلَى شَيْ‏ءٍ مِنْ ذَلِكَ وَ قَدْ أَخْرَجُونَا وَ شِيعَتَنَا مِنْ حَقِّنَا ذَلِكَ بِلَا عُذْرٍ وَ لَا حَقٍّ وَ لَا حُجَّةٍ 
“Ali bin Muhammad, dari Ali bin ‘Abbas, dari al-Hasan bin Abdurrahman, dari  Ashim bin Humaid, dari Abu Hamzah, dari Abu Ja‘far a.s. (Abu Hamzah) berkata, “Aku berkata kepadanya bahwa sebagian sahabat kami mencela dan menuduh siapa yang menyelisihi mereka”. Maka Imam Ja’far as berkata : “Menahan diri dari mereka itu lebih bagus”.  

Sabtu, 20 Juni 2015

Kupas Buku: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (15)

MMPSI (Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia) menyatakan bahwa Sayid Syarafuddin Al-Musawi di dalam bukunya Dialog Sunnah-Syiah, hal. 357 menyatakan “Aisyah mempropokasi khalayak dengan memerintahkan mereka agar membunuh Usman bin Affan. ‘Bunuhlah Na’tsal karena ia sudah kafir!’.” (hal. 35)
Emilia Renita dalam bukunya 40 Masalah Syiah, hal. 83 menyatakan : “Aisyah, Thalhah, Zubair, dan sahabat-sahabat yang satu aliran dengan mereka memerangi Imam Ali as. Sebelumnya, mereka berkomplot untuk membunuh Usman” (hal-35-36)
Di dalam buku Antologi Islam, tim penulis syiah menyatakan bahwa : “Para pemimpin itu [Aisyah, Thalhah, Zubair, dan lain-lain] tidak menuntut balas atas darah Usman karena mereka sendiri yang ada di balik persekongkolan itu. Mereka berpura-pura melakukan hal itu sebagai cara menjatuhkan kekhalifahan Imam Ali” (hal. 36)
Setelah menuliskan hal-hal tersebut kemudian MMPSI menegaskan bahwa :
Semua itu adalah tuduhan dusta dan fitnah yang sangat keji kepada sahabat Nabi yang berdasarkan imajinasi dan cerita-cerita bohong, serta bentuk penodaan terhadap agama dan sejarah Islam.” (hal-36) 
Tanggapan :

Jumat, 19 Juni 2015

Kupas Buku: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (14)

MMPSI (Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia) menyatakan bahwa syiah:“Melecehkan dan menfitnah Sayidah Aisyah ra tidak pantas menjadi Ummul Mukminin” (hal. 34)
Tanggapan :
MMPSI melontarkan tuduhan di atas kepada syiah telah berdasarkan buku Antologi Islam (2012: 59-60, dan 67-69), padahal buku tersebut tidak ada menyatakan demikian. Yang ada adalah bahwa buku tersebut menolak Sayidah Aisyah—dan juga isteri-isteri Nabi saaw yang lain—sebagai ahlul bait yang disucikan Allah swt dalam Q.S. al-Ahzab : 33.

Kamis, 18 Juni 2015

Kupas Buku: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (13)

Berikutnya, buku MMPSI (Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia ) juga menuduh buku-buku syiah yang berbahasa Indonesia atau terjemahan serta buletin-buletin yang disebarkan oleh komunitas syiah telah menfitnah, menjelek-jelekkan, melaknat, bahkan mengafirkan sahabat Nabi saaw. MMPSI menyatakan“Di Indonesia, berbagai publikasi syiah telah menfitnah, menjelek-jelekkan, melaknat, bahkan mengafirkan sahabat Nabi.”  (hal. 34)
Setelah menuliskan itu, MMPSI kemudian mengutip beberapa potongan kalimat dari buku-buku yang ada, diantaranya adalah MMPSImenyatakan bahwa syiah sebagaimana terdapat dalam buku Abbas Rais Kermani yang berjudul “Kecuali Ali”, hal. 155-156, “Menyebut Abu Bakar dan Umar sebagai Iblis” (hal. 34)
Tanggapan :
MMPSI menuduh syiah menganggap Abu Bakar dan Umar sebagai Iblis berdasarkan pada buku terjemahan karya Abbas Rais Kermani, Kecuali Ali, hal. 155-156. Padahal tidak ada pada buku itu pernyataan ulama syiah yang menyatakan demikian. Yang ada adalah riwayat tentang dialog antara Abu Bakar, Umar dan orang yang tak dikenal, yang menyebut mereka Iblis.
Selain itu, buku Kermani ini bukanlah buku standar syiah dalam periwayatan, yang dijadikan pegangan. Terlebih lagi, Kermani juga tidak menyebutkan sumber riwayatnya untuk bisa diperiksa, meskipun berkomentar hal itu terdapat di kitab yang berbeda dan muktabar. Sebagaimana diketahui, di dalam syiah tidak ada kitab shahih selain Alquran. Karena itu, sekalipun seandainya riwayat itu terdapat di kitab-kitab muktabar, tetapi belum tentu dianggap sahih. Meskpun begitu untuk memahaminya dengan utuh, berikut saya bawakan riwayat lengkapnya dari buku Abbas Rais Kermani tersebut :

Rabu, 17 Juni 2015

Kupas Buku: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (12)

Buku MMPSI (Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia) menyatakan :
Dalam kitab al-Thaharah (jilid 3 hal. 457), pemimpin Revolusi Iran, al-Khomeini menyatakan bahwa Aisyah, Thalhah, Zubair, Muawiyah, dan orang-orang sejenisnya meskipun secara lahiriah tidak najis, mereka lebih buruk dan menjijikkan daripada anjing dan babi” (hal. 33)
Tanggapan :
Pernyataan MMPSI di atas tak lebih hanyalah prasangka karena sudah diliputi dengan “kebencian” terhadap syiah. Ada pepatah, “kalau kita sudah  membenci seseorang, perbuatan baiknya pun akan terlihat buruk”, apalagi jika menemukan orang yang kita benci seolah-olah berbuat salah. Kemudian, kelihatannya MMPSI tidak ingin bersusah payah memahami kitab-kitab ulama syiah untuk menemukan makna dan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.

Selasa, 16 Juni 2015

Kupas Buku: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (11)

Buku MMPSI (Mengenal & Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia) menyatakan: "Al-Iyyasi dalam tafsirnya, dan al-Majlisi dalam Bihar al-Anwar, menyatakan bahwa meninggalnya Rasulullah saaw karena telah diracun oleh Aisyah dan Hafshah.” (hal. 33)
Tanggapan :
MMPSI melakukan kedustaan. Tidak ada disebutkan di dalam Tafsir Iyyasi dan Biharul Anwar bahwa Nabi saaw meninggal karena diracun oleh Aisyah dan Hafshah. Ini adalah kebohongan yang yang diada-adakan oleh MMPSI untuk menfitnah syiah.  Berikut saya kutipkan riwayat dari Tafsir Iyyasi yang juga disebutkan oleh al-Majlisi dalam Biharul Anwar :
 عن عبدالصمد بن بشير عن أبى عبدالله عليه السلام قال : تدرون مات النبى صلى الله عليه واله او قتل ان الله يقول : أفان مات أو قتل انقلبتم على أعقابكم . فسم قبل الموت. انهما سقتاه قبل الموت ـ فقلنا انهما وأبوهما شر من خلق الله
“Dari Abdusshomad bin Basyir dari Abi Abdillah as yang berkata : “Diriwayatkan tentang kematian atau terbunuhnya Nabi saaw sebagaimana firman Allah swt, ‘Apakah jika dia wafat atau terbunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)’. Nabi saaw diracun sebelum wafat. Sesungguhnya keduanya memberikannya minum sebelum wafat. Maka kami katakan keduanya dan ayah keduanya seburuk-buruk makhluk Allah” (lihat Tafsir Iyyasi jilid 1, hal. 200 no. 152; Biharul Anwar jilid 22, hal.  516)

Senin, 15 Juni 2015

Kupas Buku: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (10)

Setelah menuduh Syiah mengafirkan Khalifah Abu Bakar dan Umar, berikutnya MMPSI menuduh syiah mengafirkan semua sahabat, kecuali beberapa orang saja dengan bersandar pada riwayat Syaikh al-Kulaini. MMPSI menyatakan:
“Ulama syi’ah lainnya, al-Kulaini mengatakan bahwa seluruh sahabat itu murtad setelah Nabi saw wafat, kecuali tiga orang, al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghiffari, dan Salman al-Farisi.” (hal. 33)
Tanggapan :
Ini adalah salah satu hadis yang sering dipropagandakan kelompok anti syiah, tapi dengan menyelewengkan maknanya. MMPSI juga melakukan teknik ini, sebagaimana kita lihat pada kasus-kasus sebelumnya. Dan kini MMPSI megulanginya lagi dalam kasus “mutadnya sahabat” yang mana MMPSI memotong bagian akhir riwayat ini.

Minggu, 14 Juni 2015

Kupas Buku: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (9)

Setelah mengulas tentang tahrif Alquran, sekarang kita beralih pada bagian kedua tuduhan MMPSI tentang penyimpangan syiah, yakni mengafirkan sahabat Nabi. Tuduhan ini juga bukan propaganda baru bagi syiah, walaupun tentunya lagi-lagi tuduhan ini berdasarkan data yang manipulatif dan disinformatif.
Ketahuilah, Islam melarang keras mengafirkan dengan sembarangan siapapun kaum muslimin, bukan hanya para sahabat. Apakah menurut MMPSI, boleh mengafirkan kaum muslimin selain sahabat, seperti yang dilakukan oleh kaum takfiri, yang tercium juga aromanya pada buku MMPSI ini. Jadi pembatasan kepada sahabat, tidak pada tempatnya dalam ajaran Islam. Karena itulah syiah tidak sembarangan melakukan pengkafiran kepada sesama kaum Muslimin—apalagi kepada para sahabat— tanpa dalil-dalil yang valid dan otentik, bukan berdasarkan pada dugaan, prasangka atau propaganda semu. Karena syiah menyadari mengafirkan seseorang akan memiliki konsekuensi hukum yang luar biasa dalam agama Islam.

Sabtu, 13 Juni 2015

Kupas Buku: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (8)

Ahmad bin Ali at-Thabarshi
Berikutnya, ulama syiah yang dituduh MMPSI mempercayai tahrif Alquran adalah Ahmad bin Ali al-Thabarshi. MMPSI menyatakan: “Abu Manshur Ahmad bin Ali al-Thabarshi, seorang tokoh syiah abad ke-6 H menegaskan dalam kitab al-Ihtijaj, bahwa Alquran yang ada sekarang adalah palsu, tidak asli, dan telah terjadi pengurangan” (halaman 25-26).
Tanggapan :
Pernyataan di atas merupakan kesimpulan dari Kitab al-Ihtijaj juz 1/156 karya at-Thabarshi. Namun, setelah dicermati, ternyata MMPSI ini lagi-lagi melakukan penyimpangan. Terlepas dari kualitas riwayat yang dibawakan, At-Thabarshi tidak menyatakan demikian.

Jumat, 12 Juni 2015

Kupas Buku: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (7)

Allamah al-Majlisi
Ulama lain yang dinyatakan meyakini tahrif Alquran oleh MMPSI adalah Allamah al-Majlisi pengarang buku Mir’atul Uqul. MMPSI menyatakan :
§  Al-Majlisi mengatakan dalam kitab Mir’atul Uqul Syarh al-Kafi, menyatakan bahwa Alquran telah mengalami pengurangan dan perubahan.” (hal. 25).
Tanggapan :
Anggapan tersebut dinisbatkan berdasarkan pada pernyataan Allamah Al-Majlisi dalam Kitab Mir’atul Uqul fi Syarh Akhbar Aali al-Rasul  juz 12/525. Perlu diketahui kitab ini adalah adalah kitab yang mengomentari kitab Al-Kafi karya Syaikh al-Kulaini. Dan pada bagian yang disebutkan ini beliau sedang mensyarah hadis al-kafi yang menyebutkan tentang diturunkan Alquran dari Jibril sebanyak 17.000 ayat.
Di sini, ternyata MMPSI hanya mengutip bagian awal tulisan Al-Majlisi dan memotong paragraf berikutnya. Berikut paragraf pertama dari tulisan Al-Majlisi :

Kamis, 11 Juni 2015

Kupas Buku: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (6)

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat : 12)
Kita telah membedah dua bab dari isi Buku MMPSI ini, dan anda sudah menyaksikan bagaimana penyimpangannya. Maka kini masuklah kita pada Bab IIItentang Penyimpangan Ajaran Syiah
Bab ini tidak lebih berisi hal-hal propaganda dan banyak manipulasi data serta prasangka yang tidak sesuai dengan pandangan syiah. Selain itu isu-isu yang diangkat juga bukanlah isu baru, ntah kalau penulis MMPSI baru mengetahuinya. Apa yang diangkat adalah isu-isu lama yang diulang-ulang, dan ulama-ulama syiah telah menjawab dan menjelaskan hal-hal tersebut secara gamblang dalam puluhan jilid kitab-kitab mereka. Namun, sebagian kelompok yang masih sulit menerima kehadiran syiah membawa isu-isu itu kembali dari dulu hingga kini, termasuklah MMPSI.

Rabu, 10 Juni 2015

Kupas Buku: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (5)

Syiah Rafidhah dalam Periwayatan Hadis Sunni
Setelah kita saksikan bagaimana MMPSI mengarahkan pembaca untuk menyetujui kesesatan syiah dengan mengubah namanya menjadi rafidhah, maka berikutnya mencoba memperkuat asumsinya dengan menyatakan bahwa ulama hadis menolak periwayat rafidhah. Perhatikan pernyataan MMPSI di bawah ini :
  • “…Tidak ada syiah rafidhah yang dianggap moderat oleh para ulama salafSyiah moderat adalah syiah pada generasi sahabat dan thabiin yang berjuang bersama Ali dimana mereka tidak pernah bersikap ekstrim dalam memandang kedudukan Ali dan tidak pula mengutamakan Ali atas Abu Bakar dan Umar RA. Syiah moderat (yang tidak berakidah rafidhah) riwayatnya dapat diterima oleh para ulama hadis, tetapi tidak demikian halnya jika seorang perawi hadis tergolong syiah rafidah yang menolak, mencaci, dan mengafirkan Abu Bakar dan Umar serta mendakwahkan ajaran itu, pasti ditolak riwayatnya.” (hal. 18).

Tanggapan

Selasa, 09 Juni 2015

Kupas Buku: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (4)

Tentang Syiah dan Rafidhah 

“Alhamdulillah, hari ini telah hadir ditengah-tengah kita, seorang narasumber yang sudah tidak asing bagi kita, seorang intelektual muda, yang cukup valid untuk membincangkan tema seminar kita hari ini. Dan perlu juga diketahui oleh para audiens, Pak Candiki Repantu ini adalah seorang tokoh syiah di Medan dan Sumatera Utara.”

Begitulah kira-kira saat beberapa waktu lalu saya diundang untuk menjadi narasumber dalam suatu seminar tentang “Teror atas Nama Tuhan”. Ada yang menarik kali ini, karena dari berbagai seminar yang saya hadiri, baru kali ini saya diperkenalkan oleh panitia kepada audiens, dengan menyematkan atau melabelkan sesuatu yang lain.
Jika saya diperkenalkan hanya dengan label intelektual atau “cendekiawan” muda—(ini perasaan panitia saja, karena terpengaruh nama saya “Candiki” yang memang diambil dari kata Cendekiawan)—, sekarang labelnya ditambah lagi karena panitia memperkenalkan saya sebagai “tokoh syiah di Medan”.

Senin, 08 Juni 2015

Kupas Buku: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (3)

Bab II : Tentang Sejarah Munculnya Syiah
Ada pun tentang sejarah munculnya syiah buku MMPSI ini menyebutkan sebagai berikut:
"Ada yang menganggap syiah lahir pada masa akhir kekhalifahan Utsman bin Affan ra atau pada masa awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib ra…tampaknya pendapat yang paling populer adalah bahwa syiah lahir setelah gagalnya perundingan antara pihat Khlifah Ali dengan pihak Muawiyah bin Abu Sufyan ra di Shiffin yang lazim disebut sebagai peristiwa tahkim (arbitrasi)…sebagian besar orang yang tetap setia kepada khalifah Ali disebut syiah Ali (pengikut Ali).” (hal.5-6)
Tanggapan :
Para ahli memang berbeda pendapat tentang munculnya syiah. Sebagian mengatakan sesaat setelah Nabi saaw wafat, yaitu ketika perdebatan di Saqifah. Yang lainnya menyatakan syiah lahir pada masa akhir Khalifah Usman, awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib (35 H). Pendapat lain menyatakan bersamaan dengan Khawarij, yakni pasca perang shiffin (Ensiklopedi Tematis Dunia Islam jilid III, 2002: 34). Ada juga pendapat, syiah muncul setelah peristiwa Karbala syahidnya Imam Husain as (Hitti, History of the Arab, 2003: 237).

Minggu, 07 Juni 2015

Kupas Buku: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (2)


Di awal-awal babnya buku MMPSI ini menjelaskan visi MUI sebagai berikut“Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah wadah musyawarah para ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim, yang kehadirannya berfungsi untuk mengayomi dan menjaga umat. Selain itu MUI juga wadah silaturahim yang menggalang ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyyah, demi untuk mewujudkan kehidupan masyarakat yang harmonis, aman, damai, dan sejahtera dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia.” (hal. 1).
Tanggapan :
Betapa indahnya kalimat-kalimat di atas, dan tentu kita semua berharap MUI memang menjadi lembaga yang mengayomi dan menjaga umat Islam yang berbeda-beda mazhabnya baik sunni maupun syiah.
Kita berharap MUI menjadi wadah silturrahmi yang menggalangukhuwah islamiyah diantara sesama kaum muslim, baik sunni maupun syiah, ukhuwah wathaniyah bagi semua warga Indonesia apapun suku, agama dan mazhabnya, dan ukhuwah insaniyah bagi sesama manusia tanpa memperdulikan agama dan mazhabnya. Tapi apakah harapan tersebut terlihat dalam buku ini? Apakah setelah membaca buku tersebut akan muncul semangat untuk membangun ukhuwah ? Jauh panggang dari api. Sebab buku ini lebih berisi propaganda perpecahan daripada persatuan.

Sabtu, 06 Juni 2015

Kupas Buku: Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia (1)

Tulisan ini dibuat untuk menanggapi “Buku Panduan MUI” yang berjudul  Mengenal dan Mewaspadai Penyimpangan Syiah di Indonesia ” (selanjutnya disebut MMPSI)yang diterbitkan oleh penerbit Alqalam yang dieditori oleh Prof. Dr. Hasan Baharun.
Tanggapan ini sebagai niat baik untuk konfirmasi dan informasi karena terdapat penyimpangan-penyimpangan yang fatal dalam buku tersebut.
Perlu diketahui, syiah yang dimaksud dalam tulisan ini adalahsyiah imamiyah itsna asyariyah , yaitu syiah yang meyakini ada 12 imam setelah Rasul saaw yakni Imam Ali as hingga Imam Mahdi afs. Terkadang disebut juga Mazhab Ja’fari atau Mazhab Ahlul Bait.
Saya tidak mengulas syiah lainnya, karena pada dasarnya “Buku Panduan MUI”—meskipun masih diragukan benarkah diterbitkan oleh MUI secara resmi—mengarahkan tulisannya kepada syiah imamiyah ini, hal ini dibuktikan dengan membawa-bawa negara Iran sebagai “pengekspor” syiah tersebut, dan semua orang tahu Iran adalah satu-satunya negara yang menjadikan syiah imamiyah itsna asyariyah sebagai landasan negaranya. Selain itu, di Indonesia juga yang umumnya berkembang adalah Syiah Imamiyah ini.

Jumat, 05 Juni 2015

Mazhab Ahlul Bait, Mazhab Cinta [by KH Jalaluddin Rakhmat]

Malam sudah larut, dini hari sudah hampir, angin dingin sahara berhembus dalam kesepian. Bukit-bukit batu, rumah-rumah tanah, pepohonan semua tak bergerak; berdiri kaku dalam rangkaian silhuet. Tapi ditengah Masjidil Haram, seorang pemuda berjalan mengitari ka’bah sambil bergantung pada tirainya. Matanya menatap langit yang sunyi. Tak seorang pun berada disitu, kecuali Thawus Al-Yamani, yang menceritakan peristiwa ini kepada kita.

Kamis, 04 Juni 2015

KH Jalaluddin Rakhmat: Pancasila Sangat Relevan

KH Jalaluddin Rakhmat (Kang Jalal) punya catatan tersendiri tentang nasionalisme di Indonesia. Kontribusi pertama umat Islam Indonesia adalah membangun kebangsaan. Orang Indonesia yang beragama Islam, yang terdapat di berbagai daerah, bersama-sama membangun suatu bangsa. Islamlah yang mempersatukan mereka.
Kontribusi kedua, Islam membantu membentuk nasionalisme kebangsaan. Tentu saja karena Islam mayoritas, maka memegang peranan yang sangat penting dalam pembentukan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Sampai Bung Karno pendiri bangsa ini berkata, “Kalau kau gali hatiku ini lebih dalam, maka kau temukan di dalamnya itu Islam”. Para pejuang kemerdekaan juga mayoritas orang Islam. Sewaktu pembentukan UUD ‘45 menyusul setelah Piagam Jakarta, kaum muslimin bersedia “mengorbankan” kalimat “kewajiban menjalankan syariat Islam bagi para pemeluknya”.

Selasa, 02 Juni 2015

Isu Bahaya Syiah

Di salah satu Masjid di jalan Sancang Bandung, segelintir orang pada 16 Mei 2015 telah melalukan provokasi dan memfitnah umat Islam pengikut Syiah bahwa akan menggatikan pemerintahan RI. Hal itu tidak benar karena selama ini Muslim Syiah yang tergabung dalam ormas ABI dan IJABI benar-benar legal dengan terdaftar sebagai ormasi resmi. Kedua ormas Syiah ini menyatakan Pancasila sebagai asas dan menaati peraturan pemerintah dalam berorganisasi.

Senin, 01 Juni 2015

Nishfu Syaban [by KH Jalaluddin Rakhmat]

Setiap tahun, sebagian kaum Muslimin di seluruh dunia -baik Ahlus Sunnah maupun Syiah- menjadikan Nishfu Sya’ban sebagai hari istimewa. Malam harinya dipergunakan untuk menghidupkan malam dengan ibadah pengabdian kepada Allah dan perkhidmatan kepada sesama manusia. Siang harinya diisi dengan berpuasa. 

Setiap tahun juga ada kelompok kelompok Islam yang mengatakan bahwa semua ibadat dalam hubungannya dengan Nishfu Sya’ban adalah bid’ah. Yang lebih esktrem (dan sekaligus jahil) menyebutnya musyrik. Tidak jelas mengapa ibadat-ibadat itu dipandang musyrik. Tentu saja kalau ibadat itu sudah dipandang bid’ah atau syirk, pelakunya dicemoohkan karena melakukan perbuatan sia-sia atau dilarang karena dituduh merusak agama. “Setiap bid’ah sesat dan setiap kesesatan masuk neraka,” sering disebut sebagai hadis untuk menjatuhkan kehormatan kaum Muslim yang melakukan ibadat Nishfu Sya’ban.

Kado Teramat Kecil buat Dia yang Lahir pada Nishfu Sya’ban [by KH Jalaluddin Rakhmat]

Saya memerlukan telpon baru untuk jejaring baru. Untuk itu, sahabat saya di Palembang telah menyediakan dana cukup besar (dengan segala terima kasih saya).  Lalu, saya beli iPhone, gabungan telepon dengan iPad.  

Tiba-tiba saya menemukan manfaat besar. Dengan menginstall program aplikasi hadis al-Mausu’ah al-Haditsiyah, saya dapat mentakhrij –mengeluarkan- hadis-hadis dengan daftar rujukannya dan penilaian para ahli hadis tentangnya. Saya klik “Al-Mahdi” dan keluarlah 300 hadis yang di dalamnya ada kata “al-Mahdi”.  Fatabaarakallahu ahsanul khaaliqiin!

Saya kutipkan salah satu di antara 300 hadis itu di sini:

Syiah itu Islam [by Ikhwan Mustafa]

Salah seorang kawan bertanya: mengapa orang-orang Islam yang menganut mazhab Syiah disebut sesat dan diserang? Bukankah pengikut mazhab Syiah juga punya dalil-dalil yang berdasarkan Al-Quran dan Hadis?
Saya hanya tersenyum. Saya tidak bisa menjawabnya dengan tegas atau yang menenteramkan  hatinya. Saya hanya menyampaikan bahwa sebetulnya sudah banyak beredar buku-buku yang membahas kebenaran Syiah beserta dalil-dalilnya. Sudah banyak konferensi dan kegiatan musyawarah antara ulama sedunia yang menegaskan Syiah bagian dari Islam.
Karena itu, bagi saya, semua mazhab yang masih bertuhankan Allah, ber-Nabi-kan Muhammad saw, dan memegang Al-Quran dan hadis Rasulullah saw sebagai pedomannya. Kemudian mengerjakan shalat dan berkiblat ke Baitullah (Ka’bah), haji ke Makkah, menjalankan puasa wajib Ramadhan, dan bayar zakat. Maka orang yang menunaikan itu semua masih layak disebut orang Islam.