Senin, 31 Agustus 2015

Pandangan Pemerintah Republik Indonesia tentang Mazhab Syiah

Menteri Agama Republik Indonesia Lukman Hakim Saifuddin diwawancara VIVA.co.id (Senin, 27 April 2015) tentang ongkos naik, maraknya aksi penolakan terhadap Syiah, sikap pemerintah terhadap Syiah, gerakan ISIS, dan upaya pemerintah dalam meredam konflik beragama. 
Karena terlalu panjang maka Redaksi Misykat mengambilnya yang berkaitan dengan isu Syiah. Bagi yang ingin membaca secara lengkap bisa mengunjungi situs: Misykat dan Lukman Saifuddin. Selamat membaca!
.... Saat ini sentimen anti Syiah menguat. Tanggapan Anda?
Bagaimana pun juga ini menyangkut keragaman paham keagamaan Islam. Di dalam Islam tidak dipungkiri ada beragam paham keagamaan, dalam hal teologi, dalam hal fiqih, tasawuf. Ada Sunni ada Syiah. Itu bagian realitas umat Islam sejak awal. Syiah ada sejak zaman sahabat. Ini bukan barang baru, sejak zaman Abubakar dan seterusnya sudah ada.

Minggu, 30 Agustus 2015

Seruan Damai, Syiah Sampang, dan Ustadz Provokator

Baru saja membaca berita di portal Detik. Saya gembira karena para tokoh agama yang bertemu dengan Presiden RI Joko Widodo menyerukan perdamaian antarumat beragama. Para tokoh meminta kepada pemuka agama tidak menyiarkan kebencian dalam ibadah.

“Kami imbau para Khotib Salat Jumat jangan sampai menyebarkan hal-hal yang provokatif,” ujar Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj, di Istana Negara, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Kamis (23/7/2015). 
Syiah Sampang

Sabtu, 29 Agustus 2015

Cerita dari Masamba: Intinya, Syiah bukan Islam

Di Masamba, salah satu daerah di wilayah Luwu Sulawesi Selatan, juga punya cerita menarik sehari sebelum lebaran 1436H lalu. Sekelompok orang dari dua ormas Islam yang cukup banyak perwakilannya di berbagai daerah Sulawesi Selatan itu mendatangi beberapa tokoh masyarakat, termasuk anggota DPRD. Kata mereka, warga Masamba harus mewaspadai masuknya ajaran Syiah ke daerah itu. Intinya, Syiah bukan Islam.

Maka salah seorang anggota DPRD mengajak orang-orang ini menemui dan berdialog dengan seorang Ustadz dari Jakarta, yang dikenal sebagai Muslim Syiah. Namun, dengan berbagai alasan, mereka tidak bisa memenuhi permintaan itu.

Kamis, 27 Agustus 2015

Benarkah Nikah Mut’ah Tidak Dipraktekan Rasulullah saw dan Aimmah?

Seseorang mengirimkan e-mail dan bertanya: apakah Nabi dan Imam Ahlulbait mempraktikan nikah mutah? Benarkah tidak ada dalil yang kuat tentang nikah mutah, khususnya dari para Imam Ahlulbait?
JAWABAN: Kami belum menemukan riwayat atau data sejarah tentang Rasulullah saw dan Aimmah melakukan nikah mut’ah. Meski tidak dipraktekan oleh Rasulullah saw dan Aimmah, tetapi masih bagian dari syariat Islam.
Sejarah menyebutkan praktek nikah mut’ah, berdasarkan hadis dan riwayat dari Ahlusunnah dan Ahlulbait, bahwa terjadi ketika para sahabat jauh dari istri-istrinya dan dalam kondisi perang. Para sahabat yang tidak tahan saat melihat kaum wanita diizinkan oleh Rasulullah saw untuk menikahinya dengan dibatasi waktu. Nikah yang dibatasi waktu inilah yang disebut dengan nikah mut’ah dengan ketentuan rukun dan syarat ditunaikan. Sama dengan ketentuan dalam rukun dan syarat nikah daim, baik monogami maupun poligami.

Selasa, 25 Agustus 2015

Analisa Akun yang Disebarkan Takfiri

Sampai sekarang, isu pernyataan Ibu Emilia dalam akun Facebook terus beredar. Mereka tidak membaca klarifikasi dari Ibu Emilia yang menyatakan akun tersebut palsu.

“Saya tak punya akun seperti itu, jadi jelas bukan punya saya,” katanya. Bahwa akun facebook “Emilia Renita AZ” itu adalah palsu. Sedangkan akun aslinya “Emilia Renita Az”. Yang palsu akun dengan AZ (kapital) dan yang asli tidak kapital.

Dalam status akun palsu yang mengatasnamakan Emilia, dikutip tokoh syiah Al-Gharawi yang mengatakan bahwa, “Tuhan kita (syiah) adalah tuhan yang menurunkan wahyu kepada Ali, sedangkan tuhan yang menurunkan wahyu kepada Muhammad maka bukan tuhan kita. Shollu ‘Ala Nabii……”

Jumat, 21 Agustus 2015

Fakta tentang Eksistensi Syiah

image
Fakta menunjukkan bahwa komunitas Syiah ada di seluruh Dunia Islam, dan tak ada satu pun negara Islam yang memfatwakan Syiah sebagai mazhab sesat apalagi kafir dan di luar Islam. Kaum Syiah tak pernah dianggap sebagai bukan bagian kaum Muslim sebagaimana terbukti dari keleluasaan mereka untuk melakukan ibadah haji dan umrah ke Tanah Suci Makkah dan Madinah.  
Para penganut Mazhab Syiah telah menjadi bagian tak terpisahkan dari tubuh umat Islam sebagaimana terbukti keikutsertaan mereka dalam Organisasi Konferensi Islam (OKI), Rabithah Al-‘Alam Al-Islami, Organisasi Parlemen-Parlemen Dunia Islam (PUIC), `Majma’ Taqrib, Tajammu’ Ulama’ Al-Muslimin, dan yang paling terbaru adalah Deklarasi Makkah 14-15 Agustus 2012 dalam KTT Luar Biasa OKI di Kota Makkah Al Mukarrahmah.

Kamis, 20 Agustus 2015

Buku Putih Mazhab Syiah: Ajaran Syiah (3)

Dalam bidang akhlak, Syiah merujuk pada ajaran-ajaran akhlak yang disepakati oleh ijma’ dan jumhur muslimin. Karena itu, dalam dimensi akhlak, Mazhab Syiah dan Ahlus Sunnah tidak memiliki perbedaan nyata. Bahkan, banyak buku akhlak ulama Ahlus Sunnah yang disyarahi oleh ulama Syiah. Contohnya Ihya’ ‘Ulumuddin  yang disyarahi oleh Faydh Al-Kasyani dan Fushush Al-Hikam disyarahi oleh Sayyid Haydar Amuli, Imam Khomeini, dan Hasan Zadeh Amuli.
Berbeda dalam akidah, dalam bidang  fiqih terdapat  dua pendekatan: akhbari dan  ushuli. Akhbari adalah pendekatan tekstualis dan skripturalis yang mirip pendekatan Ahlul Hadis yang menolak prinsip-prinsip rasional dalam penyimpulan hukum-hukum agama (istinbathul hukm). Ushuli adalah pendekatan yang menerima prinsip-prinsip rasional dalam memfahami teks Al-Quran dan Sunnah, serta menyimpulkan hukum-hukum dari kedua sumber tersebut. Namun,jumhur ulama Syiah zaman ini mengikuti pendekatan ushuli.

Rabu, 19 Agustus 2015

Buku Putih Mazhab Syiah: Ajaran Syiah (2)

Dalam prinsip al-imamah (kepemimpinan), Syiah meyakini bahwa kebijakan Tuhan (al-hikmah al-Ilahi-yah) menuntut perlunya kehadiran seorang imam sesudah meninggalnya seorang rasul guna terus dapat membimbing umat manusia dan memelihara kemurnian ajaran para nabi dan agama Ilahi dari penyimpangan dan perubahan. Selain itu, untuk menerangkan kebutuhan-kebutuhan zaman dan me nyeru umat manusia ke jalan serta pelaksanaan ajaran para nabi. Tanpa itu, tujuan penciptaan, yaitu kesempurnaan dan kebahagiaan (al-takamul wa al-sa’adah) lebih sulit dicapai.
Oleh karena itu, Syiah meyakini bahwa sesudah Nabi Muhammad Saw wafat ada seorang imam untuk setiap masa yang melanjutkan misi Rasulullah Saw. Mereka adalah orang-orang yang terbaik pada masanya. Dalam hal ini, Syiah (Imamiyah) meyakini   bahwa Allah telah menetapkan garis imamah sesudah Nabi Muhammad Saw pada orang-orang suci dari dzuriyatnya atau keturunannya, yang berjumlah 12 orang, yaitu 1. Ali ibn Abu Thalib, 2. Hasan ibn Ali Al-Mujtaba,   3. Husan ibn Ali Sayyidussyuhada, penghulu para syuhada,   4. Ali ibn Husain, 5. Muhammad Al-Baqir, 6. Ja’far ibn Muhammad Ash-Shadiq, 7. Musa ibn Ja’far, 8. Ali ibn Musa Ar-Ridha, 9. Mohammad ibn Ali Al-Taqi Al-Jawad, 10. Ali ibn Mohammad an-Naqi Al-Hadi, 11. Hasan ibn Ali Al-Askari, dan terakhir, 12. Muhammad ibn Hasan Al-Mahdi.   Syiah meyakini bahwa Imam Muhammad ibn Hasan Al-Mahdi masih hidup hingga sekarang ini, tapi dalam keadaan gaib, namun akan muncul kembali pada akhir zaman.

Selasa, 18 Agustus 2015

Buku Putih Mazhab Syiah: Ajaran Syiah (1)

image
Dalam Syiah ada tiga dimensi ajaran: akidah, akhlak, dan fiqih (syariat) sebagaimana pembagian yang disepakati sebagian besar ulama Islam.
Syiah telah memformulasikan akidah dalam tiga prinsip utama, yaitu tauhid, kenabian, dan hari kebangkitan. Dari prinsip dasar tauhid, muncul prinsip ke adilan Ilahi; dari prinsip kenabian, muncul prinsip imamah. (Catatan: Meski demikian, Syiah tidak menganggap kafir orang yang tidak percaya kepada prinsip imamah ini).
Untuk memudahkan sistematika pengajaran, sebagian ulama memasukkan kedua prinsip ikutan di atas, yakni keadilan dan imamah, dalam Ushuluddin. Sistematika ini pada dasarnya mengikuti kaidah idkhalul juz’ ilal kull (menyertakan yang partikular kepada yang universal). Dengan demikian, berkembang menjadi lima prinsip, yaitu  al-tauhid, al-nubuwwah, al-imamah, al-‘adl, dan al-ma’ad.

Senin, 17 Agustus 2015

Syiah dan Rafidhah

image
“Para pemeluk Islam awal-awal sekali, al-sabiqun al-awwalun, dari golongan Muhajirin dan Anshar dan para pengikut mereka dengan kebaikan, Allah ridha kepada mereka dan mereka ridha kepada Allah.” (QS. Al-Taubah  [9]: 100)
Bukan tidak pada tempatnya di sini untuk menjernihkan makna dan asal-usul kata Rafidhah, yang sering disalahartikan sebagai Syiah. Kata Rafidhah, berarti penolak, ditujukan kepada orang-orang yang menolak dua orang sahabat utama Nabi yang menjadi khalifah sepeninggal beliau, yakni Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar ibn Khaththab.

Minggu, 16 Agustus 2015

Perkawinan Mutah

image
Tak dapat dimungkiri bahwa institusi perkawinan mutah sering kali disalahfahami, baik oleh yang tidak dapat menerimanya, maupun oleh yang menerimanya. Khusus terkait dengan kelompok yang menerimanya, juga tak dapat dimungkiri adanya penyelewengan-penyelewangan dan praktik-praktik yang tak dapat dibenarkan. Namun, hal ini tentunya tak serta-merta membatalkan keabsahannya. Karena sesungguhnya, bukan hanya mut’ah yang terbuka bagi penyelewengan, melainkan juga aturan-aturan syariat lainnya. Bahkan, bukan tidak mungkin institusi perkawinan biasa (permanen, da'im) tak jarang diwarnai oleh praktik yang bertentangan dengan syariat.

Sabtu, 15 Agustus 2015

Syiah dan Taqiyyah

image
Taqiyyah berarti penjagaan. Dikatakan: seseorang  ‘ittaqa syaian’ apabila dia menjadikan sesuatu sebagai penutup yang menjaganya dari bahaya. Taqiyyah  juga didefinisikan sebagai berikut: Sesungguhnya taqiyyah adalah penjagaan seseorang atas dirinya dengan menampakkan sesuatu yang berlawanan dengan apa yang ada dalam hatinya.
Taqiyyah dalam pandangan Syiah merupakan mafhum Qur’ani  yang diambil dari surat Ali Imran ayat 28:
“Janganlah orang-orang mukmin menjadikan orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin, barang siapa berbuat demikian niscaya lepaslah ia dari wilayah Allah, kecuali karena (siasat) menjaga diri  (tattaquberasal dari akar kata yang sama dengan taqiyyah ) dari sesuatu yang ditakuti dari mereka.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 28).

Jumat, 14 Agustus 2015

Ayat-Ayat yang Mendukung Pandangan Syiah tentang Imam Ali (3)

image
Kategori Ayat Ketiga
Terdapat beberapa ayat yang turun berkenaan dengan Amirul Mukminin Ali a.s. dan juga berkenaan dengan para sahabat Nabi pilihan dan terkemuka. Berikut ini ayat-ayat tersebut:
Allah Swt. berfirman: “Dan di atas Al-A‘râf tersebut ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka.”  (QS. Al-A‘râf [7]: 46).

Kamis, 13 Agustus 2015

Ayat-Ayat yang Mendukung Pandangan Syiah tentang Imam Ali (2)

image
Kategori Ayat Kedua
Al-Quran Al-Karim  dihiasi dengan banyak ayat yang turun berkenaan dengan Ahlul Bait a.s. Ayat-ayat ini secara otomatis juga ditujukan kepada junjungan mereka, Amirul Mukminin  Ali a.s. Berikut ini sebagian dari ayat-ayat tersebut:
Allah Swt. berfirman: “Katakanlah, ‘Aku tidak meminta kepadamu upah apa pun atas dakwahku itu selain mencintai  Al-Qurbâ. Dan barang siapa mengerjakan kebajikan akan Kami tambahkan kepadanya kebajikan itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.’”  (QS. Al-Syûrâ [42]: 23).

Rabu, 12 Agustus 2015

Ayat-Ayat yang Mendukung Pandangan Syiah tentang Imam Ali (1)


image
Syiah berpendapat, tidak sedikit ayat-ayat Al-Quran yang menegaskan keutamaan Amirul Mukminin  Ali a.s. dan memperkenalkannya sebagai pribadi islami yang tinggi dan mulia setelah Rasulullah Saw. Ini menunjukkan bahwa ia mendapat perhatian yang tinggi di sisi Allah Swt.
Banyak sekali buku literatur Islam yang menegaskan bahwa terdapat tiga ratus ayat Al-Quran yang turun berkenaan dengan keutamaan dan ketinggian pribadi Imam Ali a.s.

Selasa, 11 Agustus 2015

Imam Ali dalam Kacamata Hadis (2)

image
Mencintai Ali a.s. Adalah Keimanan; Membencinya Adalah Kemunafikan
Nabi Muhammad Saw. menegaskan kepada umat bahwa mencintai Ali a.s. adalah tanda keimanan dan ketakwaan. Sementara membencinya adalah kemunafikan dan maksiat. Berikut ini sebagian riwayat yang telah diriwayatkan darinya tentang hal ini:
Ali a.s. berkata: “Demi Zat yang membelah biji- bijian dan menciptakan manusia, sesungguhnya janji Nabi yang ummî  kepadaku adalah bahwa tidak ada yang mencintaiku kecuali orang mukmin dan tidak membenciku melainkan orang munafik.”

Senin, 10 Agustus 2015

Imam Ali dalam Kacamata Hadis (1)


image
Buku-buku literatur hadis, baik Shihah maupun Sunan , dipenuhi oleh hadis-hadis Nabi Saw. yang menegaskan keutamaan Imam Ali a.s. dan mengangkatnya tinggi di tengah-tengah masyarakat Islam.
Syiah berpendapat, setiap orang yang mau merenungkan hadis-hadis yang masyhur dan telah tersebar di kalangan para perawi hadis itu pasti memfahami tujuan utama Nabi Saw di balik hadis-hadis tersebut, yaitu dia ingin mengangkat Ali a.s. sebagai khalifah sepeninggalnya sehingga dia menjadi penerus tongkat estafet kenabian dan tempat rujukan umat yang bertugas menegakkan tonggak kehidupan mereka, memperbaiki kondisi mereka, dan menuntun mereka menapak jalan kehidupannya sehingga umat Islam menjadi pelopor bagi bangsa-bangsa lain di dunia.

Minggu, 09 Agustus 2015

Hadis Dua Belas Imam

image
Syiah mendasarkan kepercayaan mereka pada banyak hadis yang mengisyaratkan mengenai hal ini. Selain tersebar dalam literatur hadis Syiah, hadis-hadis yang mengarah pada pemahaman ini juga terdapat dalam berbagai versi dalam literatur Ahlus Sunnah, sebagai berikut.

Sahabat Abdullah ibn Mas’ud berkata, “Tidak ada seorang pun yang bertanya kepadaku tentang hal itu sejak aku datang ke Irak.” Kemudian, dia berkata, ‘Ya, kami telah menanyakan hal itu kepada Rasulullah Saw., lalu dia menjawab, “Dua belas, seperti bilangan pemimpin Bani Isra’il.”

Imam Ahmad ibn Hanbal juga meriwayatkan hadis tersebut dengan jalur yang lain. Dia juga meriwayatkan dalam Musnad -nya dari Jabir ibn Samurah yang berkata, “Aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda pada haji Wadâ’, agama ini senantiasa akan mengalahkan orang yang memusuhinya, dan orang yang menentangnya tidak akan membahayakannya sehingga berlalu dua belas pemimpin dari umatku, semuanya berasal dari Quraisy.”

Sabtu, 08 Agustus 2015

Riwayat Tahrif Quran berasal dari Pembenci Syiah

image
Hadis yang disebutkan sebagai tuduhan tahrif  dalam Al-Kâfi adalah sebagai berikut:“Sesungguhnya Al-Quran yang dibawa Jibril a.s. kepada (Nabi) Muhammad Saw adalah 17.000/tujuh belas ribu ayat.”
Hadis di atas diriwayatkan Al-Kulaini dalam kitab Al-Kâfi pada bab Kitabu Fadhli Al-Quran , bab An- Nawâdir . Para perawi dalam silsilah riwayat di atas adalah tsiqâh  seperti dinyatakan para Ahli Ilmu Rijâl Syiah.
Karenanya, sebagian orang menyerang Syiah dengan menyatakan bahwa hadis riwayat Al-Kâfi  yang menunjukkan adanya tahrif  di atas adalah sahih. Jadi, berarti Syiah meyakini adanya tahrif.

Jumat, 07 Agustus 2015

Riwayat Tahrif Quran dalam Hadis Ahlussunnah

image
Ada sejumlah hadis yang juga seolah-olah menunjukkan tahrif dalam hadis-hadis Ahlus Sunnah.
Misalnya dalam kitab tafsir Ad-Durr Al-Mantsur  karya Jalaluddin As-Suyuthi, yang menyebutkan riwayat Ibnu Mardawaih dari Sayyidina Umar ibn Al-Khaththab, yang berkata, “Rasulullah Saw. bersabda,
“Al-Quran itu terdiri dari satu juta dua puluh tujuh ribu huruf, barang siapa membacanya dengan niat mengharap pahala, maka baginya untuk setiap hurufnya seorang istri dari bidadari.”

Rabu, 05 Agustus 2015

Rukun Iman dan Rukun Islam

image
Di bawah ini buktinya, sesuai dengan hadis-hadis sahih di kalangan Ahlus Sunnah. Hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim dalam kitab Shahîh-nya, 1/30 Bab Al-Imân Ma Huwa wa Bayâni Khishalihi.
Hadis Bukhari: dari Abu Hurairah, dia berkata, “Pada suatu hari, Nabi Saw. muncul di hadapan orang- orang. Kemudian Jibril mendatanginya dan berkata, ‘Apakah iman itu?’ Beliau menjawab, ‘Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, percaya kepada pertemuan dengan-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, dan engkau percaya kepada yang gaib.’”

Selasa, 04 Agustus 2015

Kesefahaman, Urat Nadi Persaudaraan Islam [Prof. Dr. M. Quraish Shihab]

image
BUKU putih ini, dan upaya-upaya merakit persatuan umat, adalah dua hal yang menyatu. Buku Putih Mazhab Syiah ini memuat uraian-uraian untuk kesefahaman demi kerukunan umat Islam. Tidak akan ada persatuan dan kerukunan, kalau tidak ada kesefahaman. Lalu, tidak bisa pula ada kesefahaman kalau tidak ada upaya yang sungguh-sungguh untuk   memfahami diri masing-masing. Setiap diri atau kelompok harus memfahami dirinya sendiri dan kemudian memfahami pihak lain. 
Buku Putih Mazhab Syiah merupakan upaya memperkenalkan Syiah agar difahami dengan benar. Hal ini tidak cukup jika pihak di luar Syiah tidak memfahami dirinya. Kesefahaman, dengan demikian, sangat perlu sebab kesalahfahaman hanyalah akan menyimpan potensi konflik. Boleh jadi, berbagai konflik seperti yang terjadi dalam masyarakat Islam di dunia dan di Indonesia ini merupakan akibat dari kesalahfahaman. Ringkasnya, jika disederhanakan, mungkin ada kesalahfahaman orang Syiah terhadap Mazhab Syiah, dan kesalahfahaman orang Sunni terhadap Mazhab Sunni.

Senin, 03 Agustus 2015

Buku Putih Mazhab Syiah: Pengantar Tim Penulis

image
SEPERTI segera dapat dibaca dari sampul buku yang ada di tangan pembaca ini, Buku Putih Mazhab Syiah: Menurut Para Ulamanya yang Muktabar diterbitkan sebagai penjelasan demi mencapai kerukunan umat. Memang, tak sedikit pun ada   niatan untuk memperpanjang kontroversi dan pole-mik Sunnah-Syiah yang, sesungguhnya, sudah berlangsung sejak awal sejarah Islam ini. Pada saat ini, kami yakin bahwa yang diperlukan adalah sikap saling mengerti, meski tidak harus saling sepakat, dan toleransi. Bukan pembelaan atas, apalagi justru menyudutkan, posisi masing-masing.

Minggu, 02 Agustus 2015

Buku Putih Mazhab Syiah: Pengantar Umum tentang Islam

image
La ilahailla-llah dan Muhammad Rasulullah adalah  kunci  Islam.Syahadatayn ini adalah kata kunci yang memisahkan antara Muslim dan kafir, antara yang sesat dan yang masuk dalam naungan umat Muhammad.
Islam terdiri atas  dharuriyyat (qath’iyyat) dan zhanniyyat(ijtihadiyyat). Dharuriyyat (qath’iyyat) adalah hal-hal yang sudah disepakati oleh seluruh Muslim antara lain, kalimat Syahadatayn, Al-Quran sebagai kitab Allah yang diturunkan kepada Baginda Nabi Muhammad, Nabi Muhammad adalah Nabi Termulia dan Terakhir bagi seluruh umat manusia,   kewajiban shalat lima kali sehari, puasa, zakat, haji, dan Ka‘bah sebagai kiblat.

Sabtu, 01 Agustus 2015

Syiah di Indonesia

image
Indonesia adalah bangsa yang plural dan menghormati perbedaan dan keanekaragaman suku, bangsa, aliran, dan agama, sesuai dengan berdasar prinsip Bhinneka Tunggal Ika.
Sebagai bangsa yang selalu menjunjung tinggi toleransi, Indonesia mengakui dan menjamin penghormatan terhadap kebebasan HAM di konstitusi UUD 1945 dan berbagai konvensi dan perjanjian internasional tentang HAM.