Senin, 26 Oktober 2015

Pecinta Keluarga Nabi Selalu Diuji


Dalam sejarah Islam, para pecinta keluarga Nabi selalu mendapat cobaan. Bahkan sekian banyak jiwa menjadi tebusan untuk rasa cinta tersebut. Maka jika saat ini banyak tentangan terhadap para pecinta Nabi, hal itu tidak seberapa jika dibanding para pecinta terdahulu. Hendaknya cobaan ini semakin mengokohkan rasa cinta tersebut dan menyebarkannya di tengah kaum Muslimin.

“Kita berada di sini untuk mengungkapkan rasa cita kita kepada keluarga Nabi, ahli bait Nabi. Sebab hal itu diperintahkan Rasulullah,” kata Ketua Dewan Syuro PP Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI), KH. Dr. Jalaluddin Rakhmat, pada acara Tabligh Akbar Asyura, di Stadion Persib, Jumat  (23/10/2015) malam.  Dalam acara itu dilantunkan pula syair-syair bernada duka dan penghormatan pada keluarga Nabi.

Minggu, 25 Oktober 2015

Asyura di Bandung: Terima Kasih untuk Pemerintah dan Aparat


Sebuah kemenangan untuk para pecinta. Itu kesan saya kemarin malam saat hadiri majelis duka Imam Husain as di Stadion Persib, Jalan Ahmad Yani Bandung. Panitia Asyura dalam pembukaan menyampaikan bahwa kehadiran jamaah yang memadati lapangan sepak bola sebagai bukti kecintaan kepada Keluarga Nabi. Cinta memang perlu diuji dan pecinta Keluarga Nabi di Bandung sedang diuji. Hal itu harus dijalani dengan sikap arif dan positif. Soal orang yang demo atau yang melarang atas nama warga, biarlah itu menjadi dinamika umat Islam. Dan, saya kira tampaknya tidak terlalu berpengaruh untuk kehidupan umat Islam di Bandung.

Seorang panitia bercerita lika liku acara Asyura tahun 2015 ini. Sejak beberapa hari sebelum acara, panitia Asyura IJABI dan Muthahhari mencari gedung yang berkapasitas ribuan. Karena setiap tahun jumlah jamaah yang hadir kerap meningkat.

Asyura di Bandung Tidak Dibubarkan!



Pagi hari sebelum shalat subuh, saya buka WhatsApp grup terbatas. Di sana ada chat yang diambil dari panitia Asyura dan komentar seorang jurnalis:

Tidak ada pembubaran apalagi pemaksaan, karena kami (panitia) memang sepakat dengan pengelola sidolig pk.21.00 WIB sdh harus selesai dan lapangan sudah "clear" kembali.” 

Saya baca di wall2 yg anti-syiah, bertebaran foto massa yg membentangkan spanduk mengecam syiah dan asyura di Bandung. Lalu diberi judul "Alhamdulillah Asyura di Kota Bandung berhasil dibubarkan". Saya jadi geli, karena tahu apa yang terjadi sebenarnya.....

Kamis, 22 Oktober 2015

Fatwa-Fatwa Ulama Syiah Mengenai Tradisi Melukai Diri di Hari Asyura

Ayatullah Al-Udzma Sayyid Ali Khamenei: Qamezani adalah budaya yang dibuat-buat (tidak memiliki hujjah); dan sama sekali tidak berkaitan dengan agama. Tidak diragukan lagi, Allah tidak meridhainya.

Ayatullah Al-Udzma Jawadi Amuli: Tidak dibenarkan melakukan perkara yang menjadi penyebab ajaran Islam dihina dan kehormatan Islam dilecehkan; Qamezani dan amalan seperti itu hendaklah dijauhi.

Ayatullah Makarim Syirazi: Metodologi Azadari hendakkah tidak memberi kesempatan kepada musuh Islam untuk menyalahgunakannya. Hendaklah acara besar ini tidak diperkecilkankan dan menyebabkan penghinaan kepada mazhab. Memukul badan dengan pisau atau rantai tajam hendaklah dijauhi.

Rabu, 21 Oktober 2015

Samudera Cinta

Siapa saja menjadi santri di Persia atau Babilonia pasti kenal seorang ulama besar, sayyid dari keturunan Baginda Nabi Saw, Allamah Sayyid Ali Qadhi namanya.

Para guru menjulukinya singkat: Ustadz al-Urafa. Gurunya para arif bijaksana. Di antara yang berbahagia jadi muridnya adalah Allamah Bahjah, Ayatullah Teherani dan marja' besar Ayatullah al-'Uzhma Sayyid Khu'i.

Allamah Thabatabai, penulis Tafsir Mizan itu mengisahkan di antara keistimewaan Allamah Sayyid Ali Qadhi adalah karamah "Thayyil Ardhi" yang dimilikinya. Jurus yang satu ini, memendekkan bumi di bawah pijak kakinya. Pendek kata, orang berziarah ke Karbala berjumpa dengannya. Dan pada kurun waktu yang sangat berdekatan, terdengar juga kisah tentangnya di Khurasan, di pusara Imam Ridha as ratusan kilometer jauhnya.

Selasa, 20 Oktober 2015

Andai saja ia memberi sedikit minuman pada Al-Husain

Ah, bulan Muharram kembali menyapa. Syukurku pada Tuhan berselimutkan duka. Saudaraku seagama merayakannya dalam suka. Tahun baru kata mereka. Maka parade diarak, gegap gempita menyeruak. Semangat kebahagiaan terasa semarak.

Tak perlu dalil untuk itu. Tak perlu berpanjang kata. Para cendikia berjajar dalam barisan pawai raya.
Aku menjemputnya dalam wajah murung dan tangisan yang tertahan. Dan seberkas cahaya kerinduan membersit menghunjam, memberikan kehangatan. Selembar kertas kenangan terhampar di hadapan.

Sabtu, 17 Oktober 2015

Telaah Buku: Teologi dan Ajaran Shiah Menurut Referensi Induknya (4)

image
Nah, dengan latarbelakang seperti ini saya ingin mengajak Anda memahami apa yang terjadi di Timur Tengah sana secara obyektif. Bahwa Syiah bukanlah penyebab konflik Suriah, sebagaimana dituduhkan Hamid. Tapi Israel dengan semua sekutu Arabnyalah yang membuat Suriah terjerembab dalam konflik berdarah yang berkepanjangan. Saya jamin, hipotesis ini bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
Berdasarkan banyak bukti yang otentik dan dapat diverifikasi ternyata semua kelompok pemberontak yang menentang Pemerintah Suriah berpaham Wahabi. Baik yang bergabung di ISIS pimpinan Abu Bakar al-Baghdadi, Jabhah al-Nusrah pimpinan Abu Muhammad al-Julani, maupun Jabhah Islamiyah bentukan Zahran 'Alush bahkan yang dianggap sekuler sekalipun, Free Syirian Army, bentukan Jenderal pembelot, Riyadh As'ad, semuanya berpatron pada Qatar dan Saudi.

Kamis, 15 Oktober 2015

Telaah Buku: Teologi dan Ajaran Shiah Menurut Referensi Induknya (3)

image
Selain Bahrain, Hamid juga menyebut Syiah sebagai sumber konflik di Kuwait. Hipotesis seperti ini menunjukkan kalau Hamid adalah seorang yang tidak berwawasan --untuk tidak menyebut T-O-L-O-L. Hipotesisnya tidak sejalan dengan motto pendidikan di Gontor: berpengetahuan luas. Perlu Hamid ketahui bahwa di Kuwait tidak terjadi konflik sebagaimana yang terjadi di Bahrain dan Irak, seperti saya singgung di atas. Apalagi tuduhan bahwa konflik tersebut disebabkan oleh perkembangan Syiah. Semuanya itu hanya ada di alam mimpinya saja.

Selasa, 13 Oktober 2015

Telaah Buku: Teologi dan Ajaran Shiah Menurut Referensi Induknya (2)

image
Seperti saya singgung di atas, untuk menentukan sebuah karya itu ilmiah atau tidak, diperlukan metode dengan standar yang jelas dan terakreditasi. Saya menolak klaim sepihak Hamid yang menyebut karyanya dan karya teman-temannya adalah ilmiah dengan tiga asumsi di atas. Dan, supaya tidak ikut-ikutan seperti mereka, saya harus membuktikan asumsi tersebut secara ilmiah. Karena kita berbicara tentang Syiah --dan Sunni, tentunya. Sedangkan keduanya, menurut Kamaruddin, adalah produk sejarah. Maka kita memerlukan metode sejarah. Dan metode sejarah dinilai ilmiah, menurut Louis Gottschalk, bila memenuhi dua syarat. Pertama, mampu menentukan fakta yang dapat dibuktikan. Kedua, fakta itu berasal dari unsur yang diperoleh dari hasil pemeriksaan yang kritis terhadap dokumen sejarah. Dan ketiga, tambahan dari saya meminjam istilah Prof. Suwito, harus dari sumber yang otoritatif dan dapat diverifikasi.

Minggu, 11 Oktober 2015

Telaah Buku: Teologi dan Ajaran Shiah Menurut Referensi Induknya (1)

image
Dosen saya di Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, berkata kepada saya: Hamid Fahmi menerbitkan buku tentang Syiah. Setelah memperlihatkan sampul buku yang di-up load di group diskusi yang ia ikuti tertulis nama Hamid Fahmy Zarkasyi sebagai editor buku berjudul Teologi dan Ajaran Shiah Menurut Referensi Induknya. Segera saya menjawab: isinya bisa ditebak. Terlepas dari cara menulisnya yang jauh dari kaidah ilmiah walaupun Hamid mengklaim sebagai buku ilmiah, saya harus bersyukur. Sebab sekelompok santri Gontor telah mengangkat persoalan Syiah ke panggung polemik yang lebih kondusif untuk merangsang gairah pemikiran para santri dalam bentuk buku yang bisa dikritisi, daripada dalam bentuk pembekalan lisan yang sulit dibuktikan seperti yang selama ini dilakukan.

Sabtu, 10 Oktober 2015

Ada Syiah di Tengah Suni [Enton SS]

image
NU adalah Syiah minus imamah.Syiah adalah NU plus imamah (KH Abdurrahman Wahid)
KETIKA Gus Dur mengungkapkan kalimat di atas di berbagai tempat, tentu berkaitan dengan upaya mereduksi isu-isu sensitif yang kerap jadi pemicu konflik Suni-Syiah di Indonesia. Cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU) itu berusaha menyederhanakan persoalan. Seolah ingin mengatakan, NU yang berbasis pada mazhab Syafi’i memiliki banyak kesamaan dengan Mazhab Syiah Itsna Asyariyah (Syiah Dua Belas Imam atau Syiah Imamiyah) dalam tradisi keberagamaannya.
Perbedaannya hanya terletak pada konsep imamah (kepemimpinan) di tengah umat. Kalangan Ahlusunnah Waljamaah (Suni) –termasuk di dalamnya Mazhab Syafi’i- berpandangan pemegang tampuk kepemimpinan umat selepas Rasulullah SAW wafat, merupakan urusan kaum Muslimin yang ditentukan lewat musyawarah. Dengan demikian, urutan Khulafaurrasyidin yang terdiri dari Abu Bakar bin Abi Khuhafah, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib sudah on the track. Tidak ada persoalan.

Rabu, 07 Oktober 2015

Tuhan dalam Perspektif Islam Syiah


image
Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad
Hari ini, 2 Oktober 2015, bertepatan dengan 18 Dzulhijjah 1436 H. Pada tarikh yang sama, sepuluh tahun setelah Nabi Muhammad Saw (Saw: Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam, salam sejahtera dari Allah baginya dan keluarganya) hijrah ke Madinah, beliau memimpin kafilah jemaah haji. Itulah haji yang pertama, haji yang terakhir. Haji satu-satunya.
Sepulang dari Makkah, jemaah haji berniat kembali ke daerah mereka masing-masing, tetapi Nabi Muhammad Saw memberhentikan jemaah. Yang sudah jauh, dimintanya untuk kembali. Yang belum datang, beliau tunggu. Pada tanggal 18 Dzulhijjah itu, Nabi Muhammad Saw meminta para sahabat membuat mimbar dari pelana kuda dan unta, kemudian naik ke atasnya bersama Ali bin Thalib as (as: ‘alaihis salam, salam sejahtera baginya). Setelah khutbah, beliau berkata, “Bukankah aku lebih kalian dahulukan dari siapapun?” Para sahabat menjawab, “Benar ya Rasulallah.” Lalu terdengar Nabi bersabda, “Man kuntu mawlaahu fa hadza ‘Aliyyun mawlaahu.” Barangsiapa menjadikan aku mawlanya, jadikan Ali mawla dia juga.”

Jumat, 02 Oktober 2015

Sejarah: Memahami Al-Ghadir [Akmal Kamil]

image
18 Dzul-Hijjah kaum Muslimin merayakan sebuah hari raya, bahkan merupakan hari raya terbesar di antara hari-hari raya Islam, seperti Idul Fitri dan Idul Qurban. Hari itu adalah hari imamah, khilafah dan hari kesempurnaan agama dan kemanusiaan. Hari dimana Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib As dinobatkan sebagai imam dan khalifah kaum Muslimin pasca Rasulullah Saw. Hari itu sepanjang perjalanan sejarah kaum Muslimin dikenal sebagai hari Ghadir.

Apabila Ghadir bermakna kembalinya ingatan pada perubahan besar dalam sejarah umat manusia, di tengah budaya kaum Muslimin, hari Ghadir layak untuk diperingati sebagai hari raya akbar umat manusia khususnya bagi kaum Muslimin.

Lantaran perubahan besar dalam sejarah umat manusia berlangsung pada hari ini. Dan sebagaimana kita mendengar dari lisan riwayat, bahwa pada hari ini kesempurnaan agama dan kebahagiaan manusia telah distempel dan dijamin.

Kamis, 01 Oktober 2015

Kesamaan Nama Putra Ali dengan Sahabat

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad 
“Nahnu abnaa’u al-dalil, ayna ma maala, namil.” Kalimat itu akrab bagi para pengikut mazhab Ahlul Bait as. Kami ini putra-putra bukti, kemana pun ia pergi kami ikuti. Konon, ia dinisbatkan pada Imam ke-6, Imam Ja’far Shadiq as. Riwayat itu menegaskan agar kita tidak mengikuti sesuatu tanpa penelusuran, tanpa penelaahan, tanpa keyakinan. 
Dan tampaknya, sejak awal pengelompokkan kaum Muslimin dalam dua bagian pasca kekhalifahan Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib as, ada satu kelompok yang kerap dihujani berbagai fitnah dan tuduhan. Mereka dibesarkan dalam keharusan menyediakan bukti. Mereka tumbuh dengan kesiapan berargumentasi. Apa pasal? Mereka sasaran tudingan, mereka dihantam isu dan dipaksa menjelaskan. 
Kita sebut saja dua kelompok pasca Amirul Mu’minin Ali as itu, Hasani dan Umawi. Yang satu mengikuti Imam Hasan putra khalifah Ali as, yang lainnya mengikuti Mu’awiyyah bin Abi Sufyan pendiri kekhalifah Umayyah. Karena Dinasti Umayyah dalam sejarah kemudian berkuasa, kelompok yang pertama yang dikejar-kejar, dipersekusi, bahkan dicaci maki. Keyakinan mereka karenanya harus dipertahankan dengan berbagai bukti: baik ‘aqli maupun naqli.