Senin, 25 Januari 2016

Catatan Dr Kholid Al-Walid: Imam Besar Masjid Istiqlal

image
Prof Nasaruddin Umar. Siapa yang tidak mengenal beliau? Kesejukkan dan kesederhanaan beliau banyak mendapat sorotan. Beliau bukan orator ulung yang menggebu-gebu ketika menyampaikan ceramah, malah sebaliknya. Beliau menyampaikan dengan tenang, lembut, meneduhkan, tapi mendalam. 
Saya mengenal beliau lebih sebagai guru, Abang, teman Mubahatsah. Kecintaan beliau pada ilmu luar biasa, sejak jam tiga dini hari, beliau selalu terjaga, sholat malam, menulis dan ba'da shubuh mendiskusikan Fusush al-Hikam karya Ibn Arabi. 

Sabtu, 16 Januari 2016

Teroris Nirtujuan [Ustadz Muhammad Rusli Malik]


Dua jam setelah serangan teroris di Sarinah, 100 meter dari tempat kejadian, penjual sate kembali jualan seperti biasa. Orang luar menyebut itu sebagai Indonesian's stoicism and defience. Mungkin ada benarnya. Tetapi sebetulnya yang terjadi adalah bahwa semakin sering serangan seperti itu terjadi akan semakin menghilangkan rasa takut pada publik. Dan bila efek ketakutan enyah, berarti serangan-serangan semacam itu tak bermakna terorisme lagi.

Sarana komunikasi yang menyatukan dunia membuat masyarakat tiap saat saksikan serangan barbarian (katanya terorisme) di berbagai negara. Dan tak hasilkan apa-apa. Kecuali gaduhan sesaat dan alihan isu: ada berita baru tutupi berita panas. Ada muak dan jijik pada agama peyerang, ada simpati dan empati pada pihak yang diserang--lazimnya simbol negara lain seperti hotel atau restoran. Buntutnya, ada tawar-menawar bisnis besar versus putusan politik. Kritik menggelarinya politik kapitalis atau kapitalis politik. Setelah itu, bisiness as usual.

Kamis, 14 Januari 2016

Sebelum Datang Wahabi, Tahlilan 7 Hari Populer di Makkah dan Madinah

Imam al-Hafidz Jalaluddin as-Suyuthi asy-Syafi’i rahimahullah (salah satu pengarang kitab tafsir Jalalain) didalam al-Hawi lil-Fatawi menceritakan bahwa kegiatan 'tahlilan' berupa memberikan makan selama 7 hari setelah kematian merupakan amalan yang tidak pernah ditinggalkan oleh umat Islam di Makkah maupun Madinah. Hal itu berlangsung hingga masa beliau:

أن سنة الإطعام سبعة أيام، بلغني أنها مستمرة إلى الآن بمكة والمدينة، فالظاهر أنها لم تترك من عهد الصحابة إلى الآن،
وأنهم أخذوها خلفا عن سلف إلى الصدر الأول

Selasa, 12 Januari 2016

Mendeteksi Tulisan Kyai NU dengan Plagiarism Detector

Akhir 2015 kemarin sempat ramai di facebook bahwa seorang yang mengaku Kyai NU menulis buku yang isinya hendak gugat pemikiran Syiah yang terdapat dalam buku Syiah Menurut Syiah, Kesesatan Sunni Syiah, dan Misteri Wasiat Nabi. Tiga buku karya ilmiah hendak digugat. 

Sayangnya, kala buku Kyai NU yang konon kritik pemikiran Syiah itu dibaca, jauh dari nuansa ilmiah dan tidak memenuhi standar dalam penulisan akademik. Apalagi Kyai NU tersebut tidak mengenal tradisi akademik dan bukan seorang ilmuwan sehingga bisa ditebak hanya sekadar menggerutu.

Dahulu buku yang berjudul: Kyai NU dan Imam Marja Syiah Memutilasi Salafi Wahabi pun saat dibaca ternyata hanya comot dari internet. Mungkin sekira 30% yang murni pemikirannya. Rujukannya pun hanya berupa situs dan blog. 
Kemudian saya lihat dan baca buku terbaru dari Kyai NU Membedah Pemikiran Syiah, yang konon kritik pemikiran Syiah. Saya lihat bagian demi bagian. Setelah itu saya hanya bisa senyum karena ternyata kembali tidak sesuai dengan standar akademik. Memang dicantumkan buku-buku berbahasa Arab. Saya kira itu hanya tempelan saja. Dari cara penulisan catatan kaki dan daftar pustaka saja sudah tidak memenuhi standar akademik. Lalu, mengapa mengaku karya ilmiah? Mungkin punya definisi sendiri.

Senin, 11 Januari 2016

Pesantren Sunni di Tengah Masyarakat Syiah [Prof. Dr. H. Imam Suprayogo]

Selama berkunjung ke Iran, saya  diagendakan bertemu dengan  Menteri Riset dan Teknologi di kantornya. Namun oleh karena menterinya tidak ada di tempat, maka ditemui oleh Wakil Menteri dan para stafnya. Ada yang menarik dalam pertemuan di kantor itu. Diantaranya adalah nuansa  ke-Islamannya. Pada saat itu terasa benar bahwa nilai-nilai Islam ingin ditunjukkan secara lebih nyata di kantor itu.

Nilai-nilai Islam yang saya maksudkan bukan saja  misalnya tampak dari kebersihan yang selalu terjaga mulai bagian depan hingga kamar kecil,  atau cara menerima tamu yang baik, tetapi juga sampai pada  ada sesuatu yang dinyatakan secara jelas. Sebelum acara penyambutan tamu itu dimulai, setelah Wakil Menteri Riset dan Teknologi datang di tempat, maka ada salah seorang yang membaca  beberapa ayat Al-Qur’an. Selain itu, sebagaimana tradisi di  Iran pada umumnya,  dilanjutkan dengan membaca shalawat atas nabi secara bersama-sama.

Sekedar membandingkan, di Indonesia, kegiatan   di kantor pemerintah yang biasa dilengkapi dengan bacaan Al-Qur’an hanyalah  dalam kegiatan serimonial, misalnya peringatan hari besar Islam,  seperti isra’ mi’raj, nuzulul Qur’an, dan sejenisnya. Acara-acara resmi lainnya, termasuk menerima tamu tidak akan dilakukan seperti itu.  Di Iran, dalam setiap pertemuan, termasuk juga di kampus, sebelum acara resmi dimulai selalu dibacakan ayat-ayat Al-Qur’an dan shalawat atas nabi.

Rabu, 06 Januari 2016

Dr Kholid Al-Walid: Syiah di Negeri Wahabi

Sejak Revolusi darah yang dilancarkan Muhammad bin Abd Wahab dengan dukungan dana dan kekuatan penuh berubahlah Hijaz menjadi Kerajaan Saudi Arabia. Ibn Saud menetapkan nama keluarganya sebagai nama negeri tersebut.

Aliran keagamaan yang digunakan resmi tidak lain adalah aliran yang digagas oleh Muhammad bin Abd Wahab yang kemudian dikenal sebagai Wahabi. Sebuah aliran puritanisme skripturalis baru yang menentang semua aliran dan mazhab Islam lainnya karena menganggap aliran dan mazhab Islam lainnya tidak lagi murni berpegang pada Al-Qur'an dan Al-Sunnah. Karena itu, idiom yang paling utama diserukan aliran ini adalah 'Kembali pada al-Qur'an dan al-Sunnah'.

Jumat, 01 Januari 2016

Dr. Fuad Jabali: Akal dan Tradisi Lokal Banyak Dipakai Sahabat Nabi

Dr. Fuad Jabali: Akal dan Tradisi Lokal Banyak Dipakai Sahabat Nabi

Jargon al-ruju' ila al-Qur'an wa al-Sunnah (kembali pada Alquran dan Sunnah) selalu diikuti dengan idealisasi masa lampau. Masa otentik kenabian memunculkan "mistifikasi" pada figur-figur sahabat disekeliling Nabi. Ironisnya, kecenderungan sahabat Nabi dahulu dalam
memaksimalkan al-ra'yu (akal) dan al-'urf (tradisi lokal), saat ini malah diabaikan. Poin inilah yang didapatkan dari wawancara Ulil Abshar-Abdalla dari Kajian Islam Utan Kayu (KIUK) dengan Dr. Fuad Jabali, pakar Sejarah Islam yang menuntaskan studi Ph.D-nya di Mc. Gill
University Canada. Ia sekarang bekerja sebagai wakil direktur Pusat Kajian Islam dan Masyarakat (PPIM) dan staf pengajar Pascasarjana UIN Jakarta. Wawancara berlangsung pada Kamis, 20 Februari 2003. Berikutpetikannya:

Mas Fuad, hampir semua agama muncul imbauan untuk kembali kepada ajaran fundamental agama masing-masing. Bagaimana kecenderungan itu terjadi dalam Islam dikaitkan dengan masa Nabi sebagai teladan?

Saya berawal dari pernyataan Anda yang menyatakan bahwa ada kesepakatan, baik dari kalangan modernis maupun tradisionalis, untuk kembali kepada Alquran dan Hadis sebagai dua sumber otentik ajaran Islam. Keinginan itu, juga ditambah dengan upaya untuk kembali mengikuti (teladan) Nabi Muhammad Saw dan para sahabatnya dalam berislam. Nah, kita tahu, Nabi Saw cuma seorang, dan beliau hidup tak begitu lama, hanya sekitar 63 tahun. Setelah beliau mangkat, yang tersisa adalah generasi berikutnya (para sahabat) yang jumlahnya cukup banyak.