Kamis, 31 Maret 2016

Membedah Buku: Mengapa Saya Keluar dari Syiah? (3)

image
Kejanggalan Sosok Pengarang
Ada pepatah yang terkenal: “sepandai-pandai tupai melompat, sekali-kali jatuh juga” dan “sepandai-pandai menyembunyikan bangkai akhirnya akan tercium juga”. Pepatah ini kelihatannya sesuai untuk penulis buku ini, bahkan bukan hanya sekali-kali saja dia jatuh, tetapi seringkali dia jatuh pada berbagai kesalahan dalam tulisannya. Kita akan lihat bahwa buku ini tidak lebih merupakan dongeng imajiner seorang penulis untuk menciptakan provokasi kepada umat Islam. Tapialhamdulillah, Allah masih menjaga kaum muslimin dari berbagai perpecahan dan tipu daya setan baik setan yang berbentuk jin maupun setan manusia.

Rabu, 30 Maret 2016

Membedah Buku: Mengapa Saya Keluar dari Syiah? (2)

image
Sekilas Sosok Buku dan Pengarang
Buku ini berjudul asliLillahi Tsumma Littarikh, yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul yang cukup propokatif: Mengapa Saya Keluar dari Syiah? yang diterbitkan oleh penerbit Pustaka al-Kaustsar edisi pertama tahun 2002 dan kini telah dicetak edisi kelimanya tahun 2008.  
Buku ini ditulis oleh seorang yang mengaku bernama Sayid Husain al-Musawi. Dari namanya, ia mengaku keturunan Nabi saaw dan telah menjadi mujtahid dengan menyelesaikan pendidikannya di haujah Najaf Irak dibawah asuhan Sayid (?) Muhamamd Husain Ali Kasyf al-Ghita (lihat hal.4). Ia mengaku lahir di Karbala dari keluarga syiah yang taat beragama, serta mengawali pendidikannya hingga remaja di kota tempat Imam Husain as syahid tersebut (lihat hal. 2).

Selasa, 29 Maret 2016

Membedah Buku: Mengapa Saya Keluar dari Syiah? (1)

image
Pendahuluan
Perbedaan adalah rahmat Allah swt dan dinamika yang berkembang di dalam tradisi intelektual Islam dari zaman klasik hingga abad modern saat ini. Tapi terkadang perbedaan menjadi bencana di tangan manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab. Padahal Islam mengajarkan untuk menebarkan kedamaian baik dengan lisan maupun tulisan, dan tentu saja dengan tindakan. Bahkan Tuhan berpesan, "Janganlah kebencianmu pada suatu kaum membuat kamu berlaku tidak adil"...dan juga "janganlah kamu menghina suatu kaum karena boleh jadi mereka lebih baik dari kamu".
Namun, Falsafah Islam yang berkeadilan dan falsafah Indonesia yang menghargai kebhinekaan telah tercemari dengan berbagai tindakan atas nama agama. Gerakan islam yang mengandung kekerasan, Konflik keagamaan yang berujung peperangan, terorisme, dan saling menyesatkan telah menjadi konsumsi publik yang membahayakan. Setiap insan berinovatif bukan untuk membangun hal-hal yang positif, tetapi cenderung negatif dan destruktif.

Minggu, 27 Maret 2016

Peran Ummul Banin dalam Kehidupan Imam Ali

image
Peran Sayyidah Al Jalilah Ummul Banin as. semasa hidupnya bersama Imam Ali as. memiliki arti khusus. Bukan hanya urusan kewajiban-kewajiban rumah tangga, namun dalam pendidikan putra-putra beliau dengan kesabaran, penolakan terhadap yang buruk, ketaatan, dan persaudaraan.
Beliau termasuk wanita yang memiliki banyak keutamaan, mengenal hak-hak Ahlul Bait as. beliau juga seorang wanita yang fashih, ahli bahasa, wara', zuhud dan bertaqwa serta ahli ibadah. Di antara sifat beliau yang paling terkemuka adalah "kesetiaan".
Beliau hidup bersama Imam Ali as. dengan penuh kesucian dan ikhlas. Beliau hidup setelah kesyahidan Imam Ali as di masa yang cukup panjang tanpa menikah lagi.

Jumat, 18 Maret 2016

Peristiwa yang Berujung pada Wafatnya Bunda Fatimah AS (4)

image
Umar tak sabar melihat keadaan di mana Imam Ali dan Ahlul Baitnya belum juga memberikan baiatnya kepada Abu Bakar. Tanpa menunggu perintah Abu Bakar ia mengumpulkan orang-orang dari keluarga, sukunya dan sebagian orang-orang yang terbujuk olehnya untuk menyambut seruan dan membantu “Khalifah Rasulullah”.
Setelah berhasil mengumpulkan orang-orang yang berkuda dan berjalan kaki, Umar dan Abu Bakar menyuruh Qunfudh mendatangi Imam Ali dan memintanya datang memberikan baiat kepada Abu Bakar. Qunfudh berangkat dan mencoba meminta ijin dari Imam Ali untuk masuk ke rumahnya, namun ia ditolak. Ia kembali ke Masjid dimana saat itu orang-orang sudah berkumpul di sekeliling Abu Bakar dan Umar. Umar menyuruh Qunfudh untuk kembali ke rumah Imam Ali dan mencoba lagi meminta ijin darinya. Ia berangkat kembali bersama beberapa orang. Namun kali ini mereka ditolak oleh Az-Zahra. Qunfudh tetap berada di tempat sementara yang lain pergi memberi tahu Umar dan Abu Bakar. Umar gusar dan marah atas penolakan Az-Zahra ini. Ia menyuruh Khalid bin Walid dan Qunfudh mengumpulkan kayu bakar.

Kamis, 17 Maret 2016

Peristiwa yang Berujung pada Wafatnya Bunda Fatimah AS (3)

Ketika Abu Bakar diberitahu bahwa ada sebagian kecil diantara sahabat yang belum berbaiat kepadanya dan duduk bersama Imam Ali di rumahnya, ia mengirim Umar bersama segerombolan besar orang-orang ke rumah Imam Ali. Umar menyuruh orang-orang di rumah Imam Ali untuk keluar, namun mereka menolak.
Umar kemudian menyuruh orang membawakan kayu bakar baginya dan berkata, “Demi Yang jiwaku berada di Tangan-Nya. Jika kalian tidak keluar akan kubakar rumah ini bersama para penghuninya.”  (Al Imamah wa Siyasah, jilid 1 hlm 19). 
Ia diberi tahu, “Hai Abu Hafsah, Fatimah ada di dalam rumah itu.”
Ia menjawab, “Lalu mengapa” (atau “sekalipun demikian”) (Al Imamah wa Siyasah, jilid 1 hlm 19).

Rabu, 16 Maret 2016

Peristiwa yang Berujung pada Wafatnya Bunda Fatimah AS (2)

Imam Ali telah berjanji kepada Rasul dan beralasan kepada umat serta Khalifah yang terpilih saat itu bahwa ia akan tetap berada di rumah hingga ia menyelesaikan tugas mulianya menyusun dan menghimpun Al-Quran. Beberapa sahabat seperti Zubair dan Miqdad datang mengunjungi beliau secara teratur, berkonsultasi lalu kembali kepada kaumnya.
Melihat keadaan ini, Umar berkata kepada Imam Ali, “Jika orang-orang ini berlanjut mengunjungimu akan kuperintahkan orang untuk membakar rumahmu” (Al Munsif Ibnu Abi Syaibah, Jilid 14, hlm 267). Dalam riwayat lain Umar berkata “akan kuhancurkan rumah ini” (Al Jawab Al Hasim, Qadhi Asadabadi, Jilid 2/20 hlm 299).
Ia lalu mendatangi Abu Bakar dan bertanya apakah ia tak perlu menyuruh orang-orang yang menolak baiat itu untuk segera melakukannya. Ia berkilah bahwa semua orang sudah melakukannya kecuali satu orang itu (Imam Ali) dan keluarganya, yakni Fatimah AS (Hasan, Husain, Zainab dan Ummu Kultsum masih kecil untuk berbaiat). Ia berkata kepada Abu Bakar bahwa mereka tak akan menikmati kekuasaannya selama Ali tidak berbaiat kepadanya. Untuk itu ia meminta Abu Bakar untuk mengirim seseorang dan memohon Imam Ali untuk berbaiat.

Selasa, 15 Maret 2016

Peristiwa yang Berujung pada Wafatnya Bunda Fatimah AS (1)

image
Tak lama setelah peristiwa Saqifah dan pemakaman jenazah Rasulullah, sebagian para sahabat dan Bani Hasyim tetap berada di rumah Fatimah AS, rumah Imam Ali As. Sejauh itu mereka tidak bersedia berbaiat kepada Abu Bakar yang baru saja terpilih sebagai Khalifah. Diantara mereka Abbas (paman Nabi SAW), Zubair, Miqdad, Talhah, Saad bin Abi Waqas, dan lainnya. 
Umar yang telah berhasil mengumpulkan banyak orang untuk berbaiat kepada Abu Bakar, termasuk Asid bin Hazir dan Salmah bin Salamah. Kedua orang ini akan muncul kembali pada penyerangan-penyerangan berikutnya.

Senin, 14 Maret 2016

Marja dan Wilayah Faqih

image
Marjaiyyah merupakan bagian dari sistem Fiqih dalam Mazhab Ahlulbait. Sistem ini muncul dari sebuah prinsip Aqliyyah untuk mengikuti yang berilmu.
Marja' dihasilkan melalui proses pendidikan Fiqih tradisional yang cukup ketat. Setelah melakukan proses Ijtihad secara mutlak kemudian diakui hasil Ijtihad tersebut oleh para Marja' sebelumnya, ditambah kriteria lain yang cukup kompleks, maka layaklah sosok tersebut memiliki kedudukan sebagai Marja'.

Senin, 07 Maret 2016

Cara Melakukan Shalat Ayat (Gerhana, Gempa Bumi, dan Bencana Alam yang Menakutkan)

image
Shalat Ayat merupakan shalat yang berkaitan dengan gejala-gejala alam seperti gerhana bulan, gerhana matahari, gempa bumi, dan bencana-bencana alam yang menakutkan manusia. Shalat ini dilakukan oleh orang Islam yang mengalaminya.
Dalam fiqih Mazhab Ahlulbait terdapat beberapa untuk mengerjakan shalat ayat, yaitu:

Kamis, 03 Maret 2016

Dibilang Syiah, Siapa Takut? [by Ustadz Umar Shahab]

Salah satu teori yang coba dibangun beberapa kalangan untuk menjatuhkan lawan atau pesaing di negeri ini ialah, “Tuding lawan atau pesaing Anda sebagai Syiah. Jika orang mulai percaya bahwa dia adalah Syiah maka itu adalah awal kejatuhannya.”

Kendati teori ini masih sangat mentah dan dengan mudah dapat dibantah, tetapi paling tidak telah membuat banyak pihak takut berbicara tentang Syiah dan atau berhubungan dengan orang-orang Syiah. Pada saat Munas MUI di Surabaya tahun 2015 lalu misalnya, banyak ulama anggota MUI yang sesungguhnya tidak sejalan dengan agenda anti-Syiah yang dipaksakan sebagian pimpinan Munas MUI Surabaya, tetapi karena khawatir dicap Syiah atau paling tidak pro-Syiah merekapun lebih memilih diam dan atau malah “setuju” dengan rekomendasi Munas MUI 2015 yang anti-Syiah.

Selasa, 01 Maret 2016

Syiah Beda Dengan Rafidhah

image
Sedikit catatan saya tentang Rafidhah. Perlu diketahui bahwa kaum takfiri selalu berupaya mengaburkan makna dengan cara menyepadankan Syiah dengan Rafidhah. 
Tidak hanya itu, istilah Rafidhah juga digeser maknanya jauh sekali menjadi "orang yg suka mencaci Abubakar, Umar, dan Utsman". Padahal, sejauh yang saya tahu, secara historis istilah Rafidhah ini terkait dengan beragam fenomena.