Minggu, 24 April 2016

Wiladah Imam Ali dan Peluncuran Buku Kang Jalal

Merayakan hari lahir itu biasa. Bukan hanya kelahiran manusia yang dirayakan, bahkan lembaga yang tidak bernyawa pun dimeriahkan. Negara, perusahaan, sekolah, atau hari nikah pun dirayakan. Jadi, merayakan hari kelahiran itu biasa alias lumrah.

Lantas, mengapa ada orang dan sekelompok kaum beragama yang tidak suka ketika sebuah komunitas merayakan hari lahir Nabi, Putri Nabi, dan Menantu Nabi? Yang lebih parahnya orang yang rayakan hari lahir tiga orang istimewa itu disebut kultus individu. Sampai sekarang saya belum paham dan tidak paham dengan kata “kultus” yang ditempelkan kepada pengikut Ahlulbait yang cinta kepada Rasulullah saw dan keluarganya. Saya tidak paham apa latar belakang atau motif mereka saat melarang perayaan Milad Sayidah Fathimah, Maulid Nabi, dan menyatakan sesat pada acara-acara tersebut.

Ahlus Sunnah dan Sunni

Ahlus Sunnah
Kata “Ahlus Sunnah” terdiri dari dua suku kata, yaitu ahl yang berarti keluarga, pemilik, pelaku atau seorang yang menguasai suatu permasalahan. Sedangkan suku kata kedua adalah al-sunnah, yang berarti apa yang datang dari Nabi baik berupa syariat, agama, petunjuk yang lahir maupun yang batin, kemudian ditiru oleh sahabat, tabiin dan pengikutnya sampai hari Kiamat.

Dalam perspektif syariah (fikih) kata sunnah sering diartikan dengan perbuatan yang kalau dilakukan mendapat pahala, dan kalau ditinggalkan tidak mendapat dosa. Namun yang dimaksud dengan “Al-Sunnah” di sini adalah “Thariqah” (jalan hidup) Nabi Saw yang juga dilalui oleh para sahabat yang telah selamat dari syubhat dan syahwat.

Fudhail bin Iyadh berkata, “Ahlus Sunnah adalah orang yang mengetahui hal-hal yang masuk ke dalam perutnya dari (makanan) yang halal.”

Selasa, 19 April 2016

Imam Muhammad Al-Jawad, Teladan Umat Islam

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

Keistimewaan bagi Kaum Muslimin adalah teladan-teladan suci tak tertandingi semisal keluarga Nabi Saw (salam sejahtera senantiasa dilimpahkan Allah Ta’ala bagi mereka). 

Di hadapan kesewenang-wenangan, ada teladan Imam Hasan dan Imam Husain as. Hidup yang dihabiskan di penjara, ada Imam Musa al-Kazhim as. Terasing dan jauh dari keluarga, pelajari kisah Imam Ali Ar-Ridha as. Bagi para perempuan, ada teladan Sayyidah Zainab sa, srikandi megatragedi Karbala. Ada Ummul Banin, ada Sayyidah Ma’shumah, ada Fidhhah dan masih banyak lagi. Semua bermuara pada teladan Rasulullah Saw, Imam Ali as dan Sayyidah Fathimah sa. Merekalah silsilah emas teladan kehidupan sepeninggal Baginda Nabi Saw.

Jumat, 08 April 2016

Kecintaan kepada Putri Rasulullah saw


Kami menemukan catatan di internet tentang Wiladah Sayidah Fathimah (salamullah 'alaiha) dari situs yang tidak punya selera dalam kecintaan kepada Rasulullah saw dan Keluarganya (Ahlulbait). Kami membacanya. Tidak ada uraian baru. Masih mengulang dari isu-isu lama.

Dari tulisan yang cukup panjang dengan kutipan dari berbagai sumber yang tidak terlacak dengan jelas (sang penulisnya) mempertanyakan dalil perayaan hari ulang tahun bagi Sayidah Fathimah yang diselenggarakan pengikut Ahlulbait. Dari persoalan itu mudah dikenal: siapa dan dari kubu mana (dia yang mempertanyakan tersebut, yang katanya sedang siaga akidah).

Senin, 04 April 2016

Jalaluddin Rakhmat: Yang Kami Takuti adalah Dipisahkan dari Orang-orang yang Dicintai Rasulullah saw

Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) Ustadz Jalaluddin Rakhmat dalam kegiatan Majelis Wiladah Fathimah Azzahra mengawali ceramahnya dengan menyebutkan kejadian penyerangan kaum intoleran kepada pengikut Syiah yang merayakan hari lahir Sayyidah Fathimah di Bangil dan Riau.

Dalam ceramahnya, Ustadz Jalal menyebutkan bahagia dan menangisi orang yang dicintai oleh Rasulullah saw adalah bentuk cinta. Dalam rangka menunjukkan kecintaan itu kaum Muslim Syiah yang juga pecinta Ahlulbait senantiasa mengekspresikan dalam bentuk kegiatan bersama seperti Maulid Nabi, Wiladah Fathimah, Wiladah Ali bin Abi Thalib, peringatan duka cita Al-Husain (Asyura), dan Ghadir Khum. 

Minggu, 03 April 2016

IJABI Gelar Wiladah Sayyidah Azzahra, Hadirkan Musik Tradisional Iran

Seorang kawan memberitahu bahwa di Muthahhari Bandung hari Sabtu, 2 April 2016, pagi akan digelar Wiladah Sayyidah Fathimah Azzahra. Saya pun berangkat penuhi undangan tersebut. Setiba di Aula Muthahhari, sudah terlihat antrean jamaah masuk dalam aula. Dekat parikiran saya melihat ada ulen bakar. Juga ada pisang bakar. Saya lihat orang-orang mengambilnya tanpa bayar. Saya pun ikut mengambilnya. Kemudian masuk kantin sekolah untuk minum yang hangat. Maklum masih pagi dan belum sarapan.

Terdengar suara shalawat mengalun. Tanda acara dimulai. Saya pun segera masuk saat alunan lagu dinyanyikan oleh tiga anak perempuan didampingi seorang bapak dengan wajah Arab. Suaranya merdu dan terasa nikmat saat alunan shalawat mengalun.

Di pintu ibu-ibu memberikan tas untuk sepatu atau sandal jamaah. Saya pun memasukan sandal pada tas tersebut (yang kemudian saat keluar aula diminta kembali oleh panitia). Saya memilih duduk di bagian tengah aula. Kawan saya menghampiri dan sedikit menyampaikan tentang kegiatan sabtu pagi hingga siang.

Pada spanduk di aula tertera bahwa Majelis Wiladah Azzahra diselenggarakan oleh Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (Ijabi) dan Yayasan Muthahhari. Disebutkan pengisi acara adalah Dr KH Jalaluddin Rakhmat dan penampilan musik dari Iran.

Jumat, 01 April 2016

Wawancara Jalaluddin Rakhmat: Benih Radikalisme dan Intoleransi Indonesia

Kekerasan yang mengatasnamakan Agama, berdasarkan catatan Komnas HAM di tahun 2015 lalu terdapat 87 kasus. Dibandingkan dengan tahun sebelumnya, terjadi peningkatan kasus cukup signifikan.

Komnas HAM mencatat empat bentuk kekerasan itu adalah perusakan rumah ibadah, pelarangan terhadap aktivitas keagamaan, diskriminasi dengan alasan agama, dan pemaksaan keyakinan. Jemaat Ahmadiyah paling sering menjadi korban karena dianggap menyimpang dari ajaran Islam. Diskriminasi terhadap mereka didukung penuh lewat fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Peningkatan kekerasan juga disodorkan oleh The Wahid Institute. Mereka mencatat tahun 2015 ada 84 kasus kekerasan atasnama agama. Dalam laporan bertajuk ‘Laporan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (KBB) di Indonesia 2015’ itu, mencatat pelaku kekerasan itu dari negara dan non negara. Baru-baru ini menimpa komunitas Gafatar dan Ahmadiyah.

Cendikiawan Muslim Jalaluddin Rakhmat tidak terkejut dengan data tersebut. Bahkan dia memperkirakan kekerasan karena perbedaan dan atasnama agama bisa tercatat lebih banyak. Menurut dia, Indonesia merupakan negara yang tidak toleran.

Salah satu ‘biang keladi’ yang menyebabkan banyak kekerasan atasnama agama adalah masyarakat tidak bisa menghargai perbedaan sesama. Selain itu, keinginan pengajut agama mayoritas untuk dominan.

Ketua Dewan Syura Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) Jalaluddin Rakhmat mengatakan kekerasan terhadap minoritas juga diperburuk dengan pernyataan MUI yang menyesatkan agama dan keyakinan lain di luar agama resmi negara. Sebab yang menjadi korban adalah perempuan dan anak-anak. Mereka diusir, dan tidak diberikan tempat di negaranya sendiri.

Tidak hanya diskriminasi terhadap kelompok minoritas agama dan kepercayaan, Kang Jalal – sapaan akrab Jalaluddin Rakhmat – juga menyoroti penghakiman terhadap kaum gay, lesbian, biseksual dan transgender. Menurutnya, LGBT mempunyai hak tempat hidup. Negara wajib melindungi mereka.

“Nyatanya negara selalu tidak hadir saat diskriminasi dan kekerasan itu terjadi,” kata anggota DPR Komisi VIII itu.

Kang Jalal mengatakan beni intoleransi di Indonesia perlu dihapus. Jika tidak, radikalisme yang berujung terorisme bisa sibur di Indonesia. Bagaimana caranya? Apa yang membuat Indonesia ‘subur’ dengan kekerasan atasnama perbedaan? Sejak kapan itu terjadi?

Berikut wawancara lengkap suara.com dengan Kang Jalal di sebuah tempat di Ciputat, Tangerang Selatan pekan lalu: