Selasa, 31 Mei 2016

Obrolan dengan Pak Iip, Dosen, dan Tabayun kepada Ustadz Jalal

Seorang bapak berusia lanjut tersenyum. Di tangannya terselip sebatang rokok yang mengepul. Saya pun tersenyum kembali sambil terus menuju tempat pengajian. Pagi itu masih sepi. Belum ada orang di masjid. Saya masuk dan diam di ruang tengah masjid. 

Tiba-tiba bapak itu menghampiri. Bapak itu mengenalkan dirinya bernama Iip Saripin. Usia 73 tahun. Berasal dari Garut. Pak Iip mengatakan bahwa dulu setiap minggu datang. Sekarang ini karena faktor tidak punya ongkos maka dua bulan sekali datangnya. Pak Iip kalau mau ke masjid, malam minggu menginap di rumah anaknya di Cicalengka. Subuh berangkat pakai kereta api dan  berhenti di Kiaracondong. Kemudian pakai ojeg dan kadang jalan kaki menuju masjid.

“Hoyong ngiring pangajian salasa malem rebo. Malihan hoyongna mah unggal dinten minggon. Bapa atos kirang langkung dalapan taun ngiring pangajian Ahlulbait. Ngiring bae ka ajaran anu diajarkeun ku Ustadz Jalal sareng Ustadz Miftah. Bapa yakin ieu ajaran yang bener. Sanajan disebut sasar, tapi ari geus yakin mah teu paduli. Bapak cinta ka Rasulullah sareng Ahlulbait,” ucapnya.

Senin, 30 Mei 2016

Siapakah di antara kita yang tidak taqlid?

Dalam sebuah obrolan di masjid setelah salat magrib, seorang bapak jelang 60 an tahun membuka perbincangan.

"Saya belajar Islam dari guru saya. Saya ikut apa kata guru. Saya tidak tahu apa dalil-dalilnya. Tetapi saya yakin guru saya tidak mengajari saya keburukan apalagi kesesatan. Dengan ilmu yang saya dapatkan dari guru itulah saya mengamalkan Islam: shalat, puasa, bershalawat dan berdzikir, bertutur baik, beramal saleh dan lainnya. Nah, bagaimanakah cara berislam seperti saya ini?"

Siapakah di antara kita yang tidak bertaqlid, mengikuti orang yang kita anggap tahu sesuatu. Kita semua baru sampai pada tingkat muqallid, jauh sekali untuk mencapai tingkat mujtahid.

Selasa, 10 Mei 2016

Mahasiswa Perbandingan Mazhab dan Hukum UIN Bandung Gelar Diskusi Lintas Mazhab


Himpunan Mahasiswa Perbandingan Mazhab dan Hukum (PMH) Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar diskusi Lintas Mazhab, Senin (9/5/2016). Rencanya acara akan diisi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Dr Jalaluddn Rakhmat, tokoh NU muda Ulil Abshar Abdalla dan Marzuki Wahid. Namun karena faktor keamanan tidak datang.

"Kang Jalal tidak bisa hadir karena ada tugas ke Kualalumpur. Namun ada gantinya, Babul Ulum," ucap panitia.

Meski tidak hadir narasumber utama, Dr Muhammad Babul Ulum dari Ijabi (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) dan Ustadz Ayat Dimyati dari Muhammadiyah mengisi diskusi. 

Minggu, 01 Mei 2016

Benarkah nikah Mutah dalam ajaran Mazhab Ahlulbayt wajib?

Perlu dipahami bahwa tidak ada kewajiban dalam melakukan nikah mut'ah. Yang wajib itu menikah, karena Rasulullah saw bersabda bahwa nikah itu Sunnah beliau dan tidak termasuk umatnya mereka yang tidak menikah. Namun, ada beberapa hal yang perlu digarisbawahi di sini.
Pertama, orang harus membedakan antara menyatakan sebuah hukum benar dan sah dengan menjalankan hukum tersebut. Orang-orang yang anti Syiah dan para Syiah baru yang memanfaatkan kesempatan mengira keduanya sama, yaitu bahwa kalau mut'ah itu dibenarkan dan sah maka harus atau wajib dilakukan. Pemikiran yang super keliru. Pintu darurat di pesawat itu dibenarkan dan sah adanya, tapi apakah harus selalu dan segera Anda gunakan dalam keadaan normal?

Kedua, seperti yang diindikasikan oleh Syahid Murtadha Muthahhari bahwa mut'ah dalam bentuk tertentu dapat menjadi penyelamat muda-mudi dari kerusakan moral. Islam tidak mengenal dan mengesahkan pacaran, seperti halnya yang dilakukan di Barat dan ditiru sebagian masyarakat kita. Mut'ah dalam pengertian mengesahkan hubungan pemuda dan pemudi hingga mereka menentukan waktu yang tepat untuk menikah daim/permanen merupkan solusi yang tepat.

Karena itu, di luar hal di atas yang dianggap perlu, menghindarlah dari melakukan mut'ah, terutama buat mereka yang sudah berkeluarga. Apalagi yang menjalani kebahagiaan dalam keluarganya. Jangan rusak kebahagiaan Anda dengan pikiran serakah yang bisa muncul di kepala kita semua.

Kemudian yang menjadi masalah sebagian orang, apakah yang mengaku Aswaja atau Wahabi, tidak berusaha menelaah dengan baik apa yang ada dalam kitab-kitab standar Sunni.