Selasa, 22 November 2016

Soal Membela Agama


image

Soal apakah agama perlu dibela atau tidak, kelihatannya masih diperdebatkan. Ada yang bilang perlu, ada yang bilang tidak perlu. Menurut saya apabila agama kita dipandang keji atau Tuhan kita dipandang tidak benar atau hanya khayalan manusia saja, saya kira kita perlu membelanya.

Turun ke jalan berdemo dengan menamakan diri pembela agama mungkin salah satu cara untuk melakukannya, tapi pasti bukan satu-satunya.

Senin, 21 November 2016

Al-Kindi: Apa itu Kecemasan (Ghamm)?


Dalam bukunya al-Hilah lidaf'i al-Ahzan (Seni Menepis Kesedihan) al-Kindi mendiskusikan apa itu kecemasan. Kata beliau kecemasan itu adalah penyakit jiwa di mana kita merasa sakit dan sedih (huzn) terhadap yang belum terjadi. 

Dan tentu saja ini tindakan bodoh, karena apa yang dicemaskan itu belum terjadi, dan belum tentu terjadi. Karena kalau bicara apa yang akan terjadi, maka seribu satu kemungkinan bisa terbayang.

Apa yang barus dilakukan untuk menghadapi cemas?

Minggu, 20 November 2016

Tard Al-Ghamm: Menghindari Kecemasan



Apa yang mendorong seseorang bekerja, telah banyak mendapat jawaban. Misalnya Nietzsche mengatakan "will to power," Darwin "for survival," Freud "for Libido."

Lalu apa kata Ibn Hazm? Menurut Ibn Hazm, dalam bukunya "Tard al-Ghamm," seseorang bekerja atau berbuat sesuatu karena didorong (kadang secara tak sadar) oleh keinginan menghindarkan kecemasan (tard al-ghamm). 

Minggu, 13 November 2016

Catatan Dr Kholid Al-Walid: Sosial Media dan Buku di Indonesia



Beberapa waktu lalu saya melakukan penelitian kecil tentang kecenderungan masyarakat Indonesia ber-Sosial Media dan saya mendapatkan data-data yang sangat mencengangkan. Mencengangkan karena Indonesia berada di urutan ke 6 negara pengguna internet terbesar di dunia. Setelah China, USA, India, Brazil, Japan, dan tahun 2017 diperkirakan akan naik mengalahkan Japan. Dengan jumlah pemakai aktif 102.8 juta.

Dari kota terbesar pemakai Sosial Media, Jakarta ada pada urutan pertama dunia dan Bandung pada urutan kelima. Di antara keduanya: Tokyo, London, Sao Paolo dan New York. Sekira 87% pengguna internet tersebut menggunakannya untuk sosial media. Sekira 88% pengguna WhatsApp dan di bawahnya Facebook. Pengguna (smartphone) android meningkat 4000 kali antara tahun 2010-2016. Hampir rata-rata 14 jam perhari waktu yang digunakan di internet, baik melalui mobil handphone maupun komputer. Mengagetkan bukan? Bagi saya pribadi yang melakukan penelitian kecil ini sangat mengagetkan.

Kamis, 10 November 2016

Kepemimpinan Islam dan Kontekstualisasi Kebangsaan

 oleh  A.M.Safwan (pengasuh Ponpes Mahasiswa Madrasah Muthahhari- RausyanFikr)

Dalam sebuah postingan di pertemanan fb saya, seorang teman memposting sebuah tulisan tentang pandangan seorang pengajar dengan keterangan : "Hukum Memilih Pemimpin Non Muslim Menurut Ustadz Syiah".

Saya sebagai orang yang ingin memahami berbagai pandangan tentang kepemimpinan Islam tentu tertarik mempelajarinya apalagi saya bukan ahli dalam bidang ini (saya pastikan ini). Dari pandangan yang diposting ini intinya menyatakan (saya kutip persis):

Rabu, 09 November 2016

Bicara yang Baik atau Diam

Katakanlah yang Baik dan Benar, atau (kalau tak mampu) Diamlah! (فليقل خيرا او ليسمت)

Suatu saat Imam al-Ghazali diminta mengajar, tapi setelah di depan siswa-siswanya, tidak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya, karena saat itu beliau tengah dilanda oleh syak atau keraguan. Kenapa? Menurut beliau hanya kebenaran (dan kebaikan) yang boleh keluar dari mulutnya, khawatir bahwa yang keluarnya itu kesalahan atau kata-kata yang tak patut yang keluar dari hawa nafsunya. Karena menurut beliau setiap kata yang diucapkan akan dimintai pertanggung-jawabannya nanti di akhirat.

Selasa, 08 November 2016

Siapa Berwenang Menafsirkan al-Quran?


image


Dalam sebuah kultum seorang penceramah menyampaikan (bilmakna), “Di antara kehebatan Al-Quran adalah ia bisa dipahami oleh semua orang, oleh semua kalangan.”

Kalimat ini (dengan variasi redaksi) mungkin pernah disampaikan di berbagai tempat lain, oleh berbagai penceramah. Malah, jangan-jangan kalimat ini sudah populer dan masuk dalam alam bawah sadar sebagian besar orang...

Saya mencoba memahami bahwa maksud penceramah ini adalah sedang menjelaskan keagungan Al-Quran.. Karenanya saya tetap mengapresiasi. Hanya saja, kontennya tidak benar. Sebab, jika Al-Quran bisa dipahami oleh semua orang dan semua kalangan, dengan kadar intelektualitas ilmu yang berbeda, dan kualitas hati yang bervariasi, maka bisa dibayangkan seperti apa produk pemahaman mereka, dan pemahaman siapa yang akan dijadikan pegangan...

Senin, 07 November 2016

Doa untuk Bangsa



اَللَّهُمَّ إِنَّا نَشْكُوْ إِلَيْكَ فَقْدَ نَبِيِّنَا صَلَوَاتُكَ عَلَيْهِ وَ آلِهِ وَ غَيْبَةَ وَلِيِّنَا (إِمَامِنَا) وَ كَثْرَةَ عَدُوِّنَا وَ قِلَّةَ عَدَدِنَا وَ شِدَّةَ الْفِتَنِ بِنَا وَ تَظَاهُرَ الزَّمَانِ عَلَيْنَا، فَصَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِهِ (و آلِ مُحَمَّدٍ) وَ أَعِنَّا عَلَى ذَلِكَ بِفَتْحٍ مِنْكَ تُعَجِّلُهُ وَ بِضُرٍّ تَكْشِفُهُ وَ نَصْرٍ تُعِزُّهُ وَ سُلْطَانِ حَقٍّ تُظْهِرُهُ وَ رَحْمَةٍ مِنْكَ تُجَلِّلُنَاهَا وَ عَافِيَةٍ مِنْكَ تُلْبِسُنَاهَا، بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Ya Allah, kami mengadu kepada-Mu ketiadaan Nabi kami—semoga shalawat-Mu selalu tercurahkan atasnya dan atas keluarganya—, keghaiban imam kami, banyaknya musuh kami, sedikitnya jumlah kami, keganasan fitnah terhadap kami, dan kemenangan masa atas kami. Maka, curahkan shalawat atas Muhammad dan keluarganya, dan bantulah kami (untuk mengatasi) semua itu dengan kemenangan dari-Mu yang Kau segerakan, kesengsaraan yang Kau singkapkan, pertolongan yang Kau kokohkan, kerajaan haq yang Kau menangkan, rahmat dari-Mu yang Kau agungkan kami dengannya, dan ‘afiat dari-Mu yang Kau sandangkan pada kami, demi rahmat-Mu wahai Yang Lebih Pengasih dari para pengasih.

Minggu, 06 November 2016

Kebebasan Beragama Terancam

Sore pada Jumat, 7 Oktober 2016, begitu cerah. Para siswa SMA Plus Muthahhari Bandung berhamburan keluar dari kelas. Bel tanda berakhirnya pelajaran baru saja berdering. Halaman sekolah yang tak begitu luas ramai oleh lalu lalang dan derai tawa mereka. Kendaraan roda dua berbagi tempat dengan para pejalan kaki keluar dari gerbang sekolah yang tak berpintu itu.
Suasana sekolah yang ceria dan damai berubah tatkala sekelompok massa merangsek memasuki halaman. Massa yang mengenakan atribut umat Islam itu menggelar aksi demontstrasi. Dalam orasinya, perwakilan kelompok yang menamakan diri Aliansi Nasional Anti Syiah (ANAS) itu, menuntut sejumlah hal. Satu di antaranya ANAS melarang kegiatan peringatan syahidnya cucu nabi, Imam Husein bin Ali, baik di kompleks sekolah maupun di tempat lain.
Kejadian serupa berulang. Berselang lima hari dari aksi yang pertama, mereka kembali “menyeruduk” lembaga pendidikan ini. Pada Selasa malam, 12 Oktober 2016, sekitar seratus motor meraung-raung tak jauh dari kampus SMA Plus Muthahhari. Aparat kepolisian mengantisipasi aksi ini dengan menutup akses jalan; Upaya yang berhasil membuat para demonstran tertahan. Seperti pada aksinya terdahulu, pengunjuk rasa menuntut kegiatan As Syuro (peristiwa syahidnya cucu nabi itu) ditiadakan. Massa ANAS pun menuntut Mazhab Syiah dibubarkan. Syiah ancaman bagi NKRI, begitu bunyi sepanduk yang terbentang.