Rabu, 31 Mei 2017

Jalaluddin Rakhmat: Hukum Wanita Hamil Berpuasa

Saya sedang hamil melakukan shaum (puasa). Yang ingin saya tanyakan: jika saya tidak kuat kemudian muntah dan menyebabkan batal, apakah saya harus membayar fidyah plus qadha atau qadha saja?

Senin, 29 Mei 2017

Jalaluddin Rakhmat: Ihwal Pembatalan Puasa


Di dalam perjalanan, katanya boleh membatalkan puasa berdasarkan ayat: “Maka jika di antara kamu ada yang sakit atau berada dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” (QS Al-Baqarah: 184).

Tetapi, di dalam ayat tersebut terdapat: “Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui” (QS Al-Baqarah: 184). Bagaimana penjelasan ayat tersebut?

Minggu, 28 Mei 2017

Jalaluddin Rakhmat: Hukum Qadha Puasa bagi yang Safar

Saya bekerja di Jakarta dan pulang sabtu dan minggu ke Bandung. Apakah saya harus melakukan qadha puasa yang hari sabtu dan minggu? Kalau saya pergi ke Jakarta sebelum lohor (dzuhur), apakah saya harus membatalkan puasa pada hari itu?

Jalaluddin Rakhmat: Metode Istihsan untuk Memilih Puasa

Bagi seorang wanita, mana yang harus didahulukan, apakah puasa sunnah pada bulan syawal atau puasa qadha terlebih dahulu?

Jawaban
Lebih baik Anda kerjakan yang wajib terlebih dahulu. Ada metode istihsan di dalam ushul fiqih, dahulukanlah yang penting di atas yang kurang penting. Dan meng-qadha itu lebih wajib didahulukan daripada puasa sunnah, baik syawal maupun bulan lain.


[Jalaluddin Rakhmat, Menjawab Soal-soal Islam Kontemporer. Bandung: Mizan, 1999. Halaman 77]

Sabtu, 27 Mei 2017

Aneka Ragam Cara Sambut Ramadhan

image
Menjelang puasa Ramadhan, banyak orang yang melakukan acara kebersamaan. Di Tatar Sunda, istilahnya "botram" dan ada pula "papajar". Dua istilah ini terkait dengan urusan perut. Ada pula yang bersih-bersih masjid, setelah itu makan dan minum. Ini juga urusan perut, tetapi ada amalnya. 
Dan saya lihat di facebook, ternyata ada yang sambut bulan suci Ramadhan dengan pawai bergerombol dan menyalakan opor (yang berapi). Untuk apa ya? Bukankah kesucian mesti disambut nuansa yang sama dengan unsur suci? Bukan dengan gejolak api! Ya mestinya dengan kontribusi yang guna bagi sekitar. Mestinya yang mencerminkan pada kesucian. Entahlah, apa yang berada dibenak mereka?

Boleh Berbuka Puasa Setelah Shalat

Umumnya dalam buka puasa, orang-orang menyegerakan berbuka saat tiba adzan maghrib dan kadang mengakhirkan ibadah shalat maghrib yang termasuk wajib. Alangkah baiknya jika melakukan ibadah shalat wajib tersebut dalam keadaan puasa.

Tentang ini tercantum dalam riwayat dari Ahlulbait disebutkan sunah berbuka puasa setelah shalat. Berikut ini hadis tentang berbuka puasa setelah melakukan shalat.

Jumat, 26 Mei 2017

Tanggapan atas Muzakarah Nasional ANNAS [by Candiki Repantu]

"Di masa ini, tak sepatutnya kita mendengarkan omongan siapa saja yang mengutip secara sembarangan atau melepas lidahnya tanpa bukti nyata. Ia harus menunjukkan kepada kita sumber informasinya, secara jelas dan pasti. Beribu-ribu karangan ulama Syiah imamiyah telah tersebar luas di seluruh negeri Parsi, India, dan lainnya, baik dibidang fikih, hadis, ilmu kalam, akidah, tafsir, ushul, ataupun doa-doa, zikir, etika, dan akhlak. Silakan mencarinya agar anda memperoleh informasi yang sebenarnya. Jangan sekali-kali mengandalkan ocehan orang-orang yang memang kerjanya hanya menebarkan benih-benih kebencian dan permusuhan di kalangan sesama Muslim. Yaitu mereka yang setiap kali menulis tentang Syiah, senantiasa mengutip segala sesuatu yang berupa kebohongan amat keji.”

Demikianlah peringatan Sayid Syarafuddin Al-Musawi, penulis buku legendaris Dialog Sunni-Syiah atas fenomena kajian dan informasi yang menipulatif yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu tentang syiah. Peringatan Sayid Syarafuddin ini kembali menjadi penting diingat seiring dengan maraknya informasi hoax dan fitnah keji kepada Syiah yang dilontarkan oleh orang-orang, organisasi atau komplotan, dan media yang tidak bertanggungjawab.

Kamis, 25 Mei 2017

Fikih Ibadah Puasa

Pada bulan Ramadhan terdapat kewajiban bagi orang yang beragama Islam, yaitu menunaikan ibadah puasa. Seperti biasa ada perbedaan tentang hari pertama puasa. Saya bersama keluarga selalu ikut pemerintah dalam puasa Ramadhan dan hari Idul Fitri. Saya percaya pemerintah melalui tim Kementerian Agama RI yang melibatkan ilmuwan yang bergerak di bidang astronomi, telah melakukan upaya-upaya yang terbaik dengan peralatan canggih dan pertimbangan syariah.

Dahulu saat malam pertama puasa Ramadhan mengawalinya dengan shalat tarawih. Sejak kuliah di IAIN (kini UIN) saya mengetahui bahwa shalat tarawih termasuk sunah dan yang dicontohkan hanya tiga hari oleh Rasulullah saw, maka tidak lagi full dalam shalat tarawih. Maklum saya agak malas dan lelah dalam ibadah.

Rabu, 24 Mei 2017

Jasser Audah: Soal Pakaian Islami

Sekitar sebulan yang lalu, Universiti Brunei Darussalam (UBD) kedatangan Prof. Jasser Audah, pengarang buku Maqasid al-Syari'a as Philosophy of Islamic Law, yang dikenal di seluruh dunia sebagai ahli tentang Maqashid al-Syari'ah. 

Dalam sesi tanya jawab setelah menyampaikan ceramahnya di Harvard Hall, UBD, tentang Maqashid Syari'ah saya bertanya kepada prof Jasser, "Menurut Anda, apa sebenarnya disebut pakaian Islami? Apakah mesti seperti orang Arab?" 

Selasa, 23 Mei 2017

Air Mata Persembahan: Mengenang Kelahiran Ksatria

Di Madinah, dalam sebuah rumah yang sangat sederhana, dengan luas sekitar 15 m (diperkirakan berukuran panjang 4,6m, lebar 3,4 m dan tinggi 3,15 m), yang beratapkan pelepah kurma dengan batangnya sebagai tiang penyangga, sedangkan dinding-dindingnya terdiri dari susunan batu atau tanah liat yang dikeraskan, mendapatkan berkah dan cahaya rahmat dengan lahirnya seorang bayi nan indah tepat tanggal 3 Sya’ban 4 H.

Suasana kota Madinah semakin bersinar, rumah kenabian harum semerbak, Nabi dan keluarganya serta masyarakat Madinah menyambut lahirnya seorang pemimpin pemuda surga, putra pemimpin orang yang takwa, Ali bin Abi Thalib, dari rahim wanita penghulu semesta, Fatimah az-Zahra as. Bayi mungil ini, berdasarkan wahyu yang diterima oleh kakeknya, diberilah nama al-Husain. Secara fisik dikatakan bahwa  Imam Husain menyerupai Nabi dari dada hingga kaki.

Senin, 22 Mei 2017

Warisan [by Afi Nihaya Faradisa]

Kebetulan saya lahir di Indonesia dari pasangan muslim, maka saya beragama Islam. Seandainya saja saya lahir di Swedia atau Israel dari keluarga Kristen atau Yahudi, apakah ada jaminan bahwa hari ini saya memeluk Islam sebagai agama saya? Tidak.

Saya tidak bisa memilih dari mana saya akan lahir dan di mana saya akan tinggal setelah dilahirkan. 

Kewarganegaraan saya warisan, nama saya warisan, dan agama saya juga warisan. Untungnya, saya belum pernah bersitegang dengan orang-orang yang memiliki warisan berbeda-beda karena saya tahu bahwa mereka juga tidak bisa memilih apa yang akan mereka terima sebagai warisan dari orangtua dan negara.

Setelah beberapa menit kita lahir, lingkungan menentukan agama, ras, suku, dan kebangsaan kita. Setelah itu, kita membela sampai mati segala hal yang bahkan tidak pernah kita putuskan sendiri.

Minggu, 21 Mei 2017

Renaisans Ketiga: Mungkinkah Terjadi di Indonesia dan Asia tenggara? [by Mulyadhi Kartanegara]

Bagian 1
Besar harapanku bahwa bangsa Indonesia sebagai penduduk terbesar umat Islam mampu memainkan peranan intelektual yang vital, bukan hanya pada taraf domestik, melainkan juga regional, bahkan kalau mungkin, dunia, Banyak harapan serupa pernah dilontarkan rekan-rekan kita di Malaysia, bahkan almarhum Prof. Dr. Fazlur Rahman (w. 1988 M) sendiri pernah meramalkan bahwa kebangkitan Islam pada masa mendatang akan muncul bukan di dunia Arab, melainkan di Asia Tenggara, khususnya Indonesia dan Malaysia.

Seberapa feasible-kah harapan tersebut untuk diwujudkan? Jika kita melihat morat-maritnya kondisi ekonomi dan politik kita saat ini, boleh jadi kita akan sangat pesimis. Namun, terlepas dari kondisi real di atas, masyarakat Indonesia sebenarnya telah memiliki aset yang sangat potensial-dilihat dari keterbukaannya terhadap informasi dan pemikiran apa pun yang datang dari luar.

Sabtu, 20 Mei 2017

Renungan Keberagamaan [by Mulyadhi Kartanegara]

Ketika kita bicara tentang luas ilmu pengetahuan, Holmes Rolston, pengarang buku Science and Religion, melukiskan pendakian para ilmuwan mengeksplorasi ilmu, sebagai berikut: 

"We climb one summit to see further peaks... the area of the island of knowledge grows only to enlarge the shoreline where it touches the unknown... Our beams probe farther out, only to confront more dark sky. There is an explosion of knowledge, but it ignites an explosion of mystery. Science removes the small mysteries to replace them with bigger ones."

Jumat, 19 Mei 2017

Deklarasi PTKIN di UIN Ar Raniry 2017 (Lonceng Tanda Bahaya)

Sebanyak 50 pimpinan Perguruan Tinggi keagamaan Islam Negeri (PTKIN) pada 26 April 2017 di kampus UIN Ar Raniry, Banda Aceh, telah membuat sebuah deklarasi yang berani dan tepat waktu tentang situasi politik keagamaan di Indonesia terkini.

Bagi saya, deklarasi ini sangat strategis disuarakan oleh perguruan tinggi Islam negeri yang berkumpul di Tanah Rencong pada tanggal di atas. Karena pentingnya isi Deklarasi Aceh itu, Resonansi ini perlu mengutip seluruhnya, kemudian diberi ulasan untuk penguatan.

Kamis, 18 Mei 2017

Analogi yang Salah: Pohon Kristen

“Kang, tolong pohon Kristen di samping pesantren itu ditebang !” pinta Kiyai Bakar tiba-tiba pada seorang santri.

Santri itupun bingung dan belum mengerti, ia melihat ke kanan kiri pesantren.

“Iya, pohon cemara itu. Tebang segera. Itu pohon Kristen !” tukas kiyai Bakar lebih tegas.

“Pohon Kristen? Apa maksudnya? Lagian itu pohon ditanam oleh Kiyai Ahmad. Beliau sendiri yang menanam tiga tahun lalu,” gumam santri dalam hati.

“Sebelum menebang cemara itu, aku harus minta izin Kiai Ahmad dulu."

“Punten Kiyai. Kulo disuruh Kiyai Bakar untuk menebang cemara yang ada di samping pesantren, Pripun?”kata santri pada Kiyai Ahmad.

“Hah ! Cemara ditebang...? Wit-witan apik ngono arep ditebang, kenapa?” ucap Kiyai Ahmad kaget.

“Nganu Kiyai... kata Kiyai Bakar, pohon cemara itu pohon Kristen,” ujar si santri polos.

“Hah? Pohon Kristen ? Ada-ada saja Kiyai Bakar itu, wit-witan nganggo agomo mbarang. Pohon Kristen lagi. Nggak ono iku. KTP saja dia tidak punya kok. Gak usah ditebang. Biar nanti saya yang menjelaskan ke Kiyai Bakar," Kiyai Ahmad.

Selasa, 16 Mei 2017

Fatwa Sayyid Ali Khamanei: Penentuan Awal Puasa Ramadhan dan Idul Fitri

Perkara no. 837: Sekiranya penentuan awal bulan Ramadhan atau Idul Fitri karena tiadanya kemungkinan melihat Hilal atau menentukan wujudnya di langit karena sebab yang lain, dan 30 hari di bulan Sya'ban atau bulan Ramadhan belum lengkap sepenuhnya, apakah bagi kami yang tinggal di Jepang diperbolehkan untuk mengikuti Ufuq Iran atau mengikuti penanggalan yang kami yakini? Apa kewajiban kami?

Jawab:
Sekiranya awal bulan tidak memungkinkan diketahui dari ru'yat Hilal bahkan di ufuk kota-kota yang bertetangga yang satu ufuk, atau dari kesaksian dua orang adil, atau dari ketentuan Hakim (pemerintah), maka ia harus berihtiyath hingga awal bulan ditentukan.

Senin, 15 Mei 2017

Dibohongi Oknum Ulama

Pidato Ahok di Pulau Seribu tidak ada yang salah. Banyak orang yang disebut ulama karena kebetulan menjadi pengurus MUI, misalnya, memakai ayat-ayat suci untuk membohongi umat. 

Saya sebut kebetulan karena untuk menjadi pengurus MUI, Anda tidak harus benar-benar ulama dengan latar belakang pendidikan pesantren hingga paham betul peliknya persoalan keagamaan. Bila Anda seorang pensiunan asal punya jaringan perkoncoan Anda dapat menjadi pengurus MUI.

Waktu diskusi di Tanjung Balai Karimun, kebetulan saya bertemu ketua MUI Kepri yang berasal dari kalangan pensiunan. Di jajaran pengurus MUI Pusat sekarang ada seorang purnawirawan jenderal polisi, yang bahkan membaca al-Qur`an saja tidak becus, menjadi pengurus teras MUI pusat. Kalau membaca al-Qur`an yang bertuliskan Arab saja tidak becus, bagaimana ia memahami aneka ragam tafsir al-Qur`an berbahasa Arab? Bisa dibayangkan bila kualitas 'ulama' seperti itu, maka fatwa atau Pendapat dan Sikap Keagamaan (PSK) MUI menjadi sumber masalah. 

Minggu, 14 Mei 2017

Siapa Menista Agama: Ahok atau MUI?

image
Hakim telah menjatuhkan putusannya. Ahok divonis 2 tahun penjara. Keterangan saksi ahli dari pihak Ahok diabaikan. Fakta persidangan tidak dilihat secara komprehensif. Walhasil melahirkan keputusan yang aneh. Tapi apapun yang terjadi keputusan pengadilan harus dihormati. Sebagai warga negara yang baik Ahok pun patuh dengan segera menjalani hukuman tanpa protes.
Masih ada jalan baginya untuk banding. Kita tunggu saja proses selanjutnya. Permasalah hukum kita serahkan kepada pihak-pihak yang berurusan langsung. Akal sehat saya mengatakan ada ketidakadilan dalam masalah ini. Sebagai orang Islam saya harus bersuara melihat ketidakadilan ini. Memang tulisan ini tidak dapat merubah keputusan pengadilan. Tapi, paling tidak, kewajiban telah saya tunaikan saat melihat kezaliman di depan mata. 

Sabtu, 13 Mei 2017

Marja Taqlid, Fikih Taklifi, dan Ikhtilaf

Marja Taqlid adalah ulama Syiah Imamiyyah yang memiliki pengetahuan mendalam dalam ilmu-ilmu Islam, khususnya ushul fiqih dan fikih, dan memahami kondisi sosial dan budaya umat Syiah. Tidak semua ulama bisa menduduki posisi Marja. Hanya ulama Mujtahid, yang keilmuannya teruji dan diakui para ulama Syiah lainnya. Mereka inilah yang boleh dirujuk, diminta pendapat, dan dijadikan pembimbing dalam urusan ibadah (fikih Ahlul Bait).

Karena itu, seorang Muslim atau Muslimah yang mengikuti Islam mazhab Syiah dalam menjalankan praktek beragama dan amal ibadah harus taqlid kepada seorang Marja. Sedangkan masalah sosial, budaya, politik, atau kemasyarakatan yang menentukan adalah Muslim dan Muslimah itu sendiri. Bahkan dalam memahami akidah Syiah Imamiyyah (ushuluddin) harus dipahami secara mandiri yang merujuk pada sumber utama: Kitabullah wa Itrah Ahlulbait.

Jumat, 12 Mei 2017

Khutbah Jumat: Yang Sering Dilupakan di Bulan Syaban


Khutbah I

الحَمْدُ لِلهِ الَّذِيْ خَلَقَ الزّمَانِ وَفَضَّلَ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ فَخَصَّ بَعْضُ الشُّهُوْرِ وَالأَيَّامِ وَالَليَالِي بِمَزَايَا وَفَضَائِلِ يُعَظَّمُ فِيْهَا الأَجْرُ والحَسَنَاتُ. أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى بِقَوْلِهِ وَفِعْلِهِ إِلَى الرَّشَادِ. اللّهُمَّ صَلّ وسّلِّمْ علَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمّدٍ وِعَلَى آلِه وأصْحَابِهِ هُدَاةِ الأَنَامِ في أَنْحَاءِ البِلاَدِ. أمَّا بعْدُ، فيَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللهَ تَعَالَى بِفِعْلِ الطَّاعَاتِ

فَقَدْ قَالَ اللهُ تَعَالىَ فِي كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ: بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا، وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

Jamaah shalat Jumat haafidhakumullah.

Kamis, 11 Mei 2017

Bisakah Komunitas Syiah Dibubarkan?

Tentang komunitas Syiah di Indonesia, saya kira perlu banyak baca dan lakukan analisa yang mendalam dari hasil riset akademik. Sekadar dipahami bahwa Syiah dalam sejarah adalah mazhab dalam Islam yang tertua dan dianut oleh umat Islam yang tersebar di seluruh bumi. Jumlahnya kalah dibandingkan pengikut Ahlus Sunnah. Namun, lebih banyak dari pengikut Wahabi.

Sama seperti Ahlus Sunnah. Meski beredar di Timur Tengah, tetapi sebarannya sampai kepada orang Indonesia. Kini banyak dianut oleh umat Islam di Indonesia. Sejarah gerakan dan penyebaran di Indonesia bisa baca buku-buku dan dialog langsung dengan Jalaluddin Rakhmat, Azyumardi Azra, dan kaum akademisi yang konsern dalam kajian Syiah.

Rabu, 10 Mei 2017

Fikih Ibadah Shalat

Beberapa waktu lalu saya ditanya: shalat Syiah dan Sunni, bedanya dalam hal apa saja? Kemudian saya jawab dengan pengetahuan seadanya. Saya sampaikan bahwa memang ada perbedaan dalam shalat antara mazhab Syiah dengan mazhab Ahlussunah.

Sekedar berbagi saja, saya tulis berdasarkan pada bacaan dari buku Islamic Rulings  dan Fatawa Wadihah  karya Sayyid Muhammad Husein Fadlullah, buku Fiqih Imam Jafar Shadiq karya Muhammad Jawad Mughniyyah, dan buku-buku fikih dari Marja lainnya.

Selasa, 09 Mei 2017

Syahadatain dan Rukun Islam

Ini masih terkait dengan agama Islam. Masih tentang Islam versi mazhab Syiah. Sekarang yang dibahas tentang syahadat yang tidak ada pada rukun Islam mazhab Syiah.

Ada anggapan bahwa kaum Muslim Syiah tidak mengucapkan syahadat. Dalam rukun Islam mazhab Syiah (yang populer dikenal Furuddin) bahwa syahadat tidak tercantum karena penjelasannya terdapat dalam prinsip keimanan (ushuluddin): Tauhid dan Nubuwwah. Orang yang beragama Islam wajib mengimani Allah sebagai Tuhan yang Esa dan Muhammad sebagai Rasul Allah. Dua keyakinan tersebut disebut dengan syahadatain.

Minggu, 07 Mei 2017

Wudhu dan Tayamum

Saya meneruskan lagi menulis tentang fikih. Mudah-mudahan berguna dan bisa dijadikan panduan. Masih berdasarkan mazhab Syiah Imamiyah dengan merujuk pada Al-Quran dan Hadis kemudian Imam Ahlulbait.  Fikih ibadah yang dibahas sekarang ini adalah Wudhu dan Tayamum dalam mazhab Syiah.

Sabtu, 06 Mei 2017

Abu Thalib ra menurut Syiah

Tanggal 26 Rajab diyakini sebagai hari wafat Abu Thalib ra. Paman Nabi Muhammad Saw dan ayah Imam 'Ali bin Abi Thalib ra. Di antara hal yang diperselisihkan adalah tentang keimanan Abu Thalib ra. Ulama mazhab Syiah sepakat mengenai keimanannya dan tidak kafir.

Keyakinan ulama Syiah didasarkan pada hadis-hadis dari jalur 'Itrah Ahlul Bait. Salah satunya dari Imam Jafar ash-Shadiq as bahwa:

Jumat, 05 Mei 2017

Sedekah Berjamaah di Sebuah Pesantren

Ahad pagi di sebuah pesantren milik ustad ternama. Orang-orang berdatangan ke masjid untuk menyimak ceramah dari ustad ternama. 

Ada yang menarik dari pengajian rutin sang ustad ternama itu. Jamaah yang datang membawa makanan dan minuman. Saat masuk pintu depan, sebelah kanan dan kiri tersedia meja. Di meja itu jamaah menyimpan makanan dan minuman. Hampir setiap orang yang datang membawa makanan. Dan menyimpannya di meja. 

Ada pisang satu sisir. Kerupuk, gehu, gorengan tempe, pisang goreng, kue bolu, keripik, dan lainnya. Bahkan ada stoples kopi beserta gula dan teh siap seduh. Lengkap dengan gelas dan air termos. Air minum dalam botol pun tersedia. Itu semua dari jamaah yang hadir. Dan, saya lihat hampir setiap orang yang datang membawa makanan dan menyimpan di meja. 

Kamis, 04 Mei 2017

Syiah Tidak Sesat

Tahun 2005 di Jordania telah berkumpul ratusan ulama dari seluruh dunia, termasuk dari Indonesia. Mereka menanda tangani Risalah Amman untuk persatuan Islam di seluruh dunia. Di dalamnya menyebutkan mazhab Syiah (Jafari dan Zaydi) sebagai Islam dan sama seperti  mazhab Ahlussunnah (Syafii, Maliki, Hanafi, Hanbali,) serta mazhab Dzahiri dan mazhab Ibadhi, sehingga penganutnya tidak boleh ditumpahkan darahnya. Pengikut mazhab tersebut tidak boleh dikafirkan karena sama-sama menyakini Allah sebagai Tuhan, Muhammad saw sebagai Nabi, dan berpedoman pada Al-Quran serta Ka’bah adalah kiblat.

Harus diakui sekarang ini banyak isu dan fitnah. Segelintir orang di Bandung, Bekasi, Makassar, dan Jakarta menyebarkan bahwa Syiah bukan Islam. Padahal sudah jelas ulaman dan cendekiawan Islam Indonesia menyatakan Syiah masih bagian dari Islam.

Misalnya di TV One pada berita pagi (2 Januari 2012), Ketua MUI Pusat Bidang Ukhuwah: KH Umar Shihab menyatakan dengan tegas bahwa Syiah tidak sesat dan para ulama dalam forum-forum internasional menyatakan Syiah atau ajaran Ahlulbait termasuk dalam Islam. Umar Shihab menegaskan bahwa Syiah dan Ahlussunah adalah dua mazhab besar dalam Islam yang berkembang hingga sekarang dan termasuk mazhab yang sah dalam Islam.

Selasa, 02 Mei 2017

Sedikit tentang IJABI

Organisasi masyarakat IJABI (Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia) sejak tanggal 1 Juli 2000 resmi menjadi ormas agama Islam di Indonesia. Presiden Republik Indonesia yang saat itu dipegang KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) melalui Djohan Efendi yang menjabat Menteri Sekretariat Negara, meresmikan IJABI di Gedung Merdeka Bandung.

Sebelum ada ormas IJABI, di berbagai daerah telah ada yayasan dan lembaga kajian yang khusus mengkaji mazhab Syiah dan Ahlulbait (Keluarga Rasulullah saw). Juga beredar buku-buku yang penulisnya dari tokoh-tokoh Islam Syiah, yang tentunya sangat menambah khazanah pemikiran Islam di Indonesia.

Senin, 01 Mei 2017

Islam sebagai Agama Madani [KH Jalaluddin Rakhmat]

Kita tidak bisa mengandalkan agama yang berbeda-beda yang dianut oleh warga negara, yakni agama-agama seperti Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Budha atau Konghucu. Agama-agama seperti itu adalah agama partikular, yang hanya berfungsi sebagai acuan doktrinal bagi para pemeluknya. Agama-agama partikular hanya mampu memberikan kesetiaan partikular yang tertutup, bukan kesetiaan terbuka yang bersifat civic terhadap negara.

Sebagai contoh, jika DI/TII berhasil mengukuhkan Negara Indonesia menjadi Negara Islam karena pikiran bahwa orang Islam harus lebih setia pada agamanya ketimbang pada negaranya, maka hanya kepentingan-kepentingan Islam saja yang akan didahulukan, sementara kepentingan agama lain akan diabaikan. Pikiran seperti ini tentu bersifat destruktif terhadap Negara Indonesia yang ingin memperlakukan pemeluk agama apapun secara sederajad. Jadi, inilah risiko jika kita membuat kesetiaan agama menjadi bersifat dikotomis.