Jumat, 30 Juni 2017

Sayyid Fadhlullah: Jilbab dan Pakaian yang Tidak Dibolehkan

Soal: Bagaimana pendapat Anda tentang beberapa wanita berkerudung yang berusaha mengharmoniskan jilbabnya dengan mode baru?

Jawab: Saya kira jilbab semacam ini (yang memperlihatkan lekukan tubuh--redaksi Misykat) tidak menjadi sarana penyucian. Malahan menjadi sumber pembangkit nafsu. Mode semacam ini membuat jilbab semakin memancing laki-laki. Oleh karena itu, konsep jilbab telah disimpangkan dari maknanya yang suci.

Kamis, 29 Juni 2017

Sayyid Fadhlullah: Gaun Panjang sebagai Ganti Jilbab

image
Soal: Beberapa orang tidak meyakini jilbab yang digunakan oleh beberapa wanita, dan perlunya mengenakan gaun (kebaya), bagaimana pendapat Anda?
Jawab: Jilbab mencakup dua arti: menutup badan tatkala ada orang asing dan menghindari semua jenis make up atau apa saja yang mungkin membangkitkan gairah. Para wanita dibolehkan mengenakan pakaian apa saja selama pakaian-pakaian ini melindungi mereka dari pandangan tak bermoral. Kita katakan bahwa gaun yang panjang tidaklah penting sebagai satu-satunya baju Muslim saja mengingat tidak ada bukti akan keekstensifan absolutnya. Gaun dipakai dalam periode-periode waktu tertentu disebabkan kondisi sosial, agama, dan politik tertentu. Baju yang baik adalah baju yang menggambarkan wanita sebagai manusia, dan bukan sebagai laki-laki, adalah benar-benar pakaian yang sah.[]
(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005).

Rabu, 28 Juni 2017

Pengalaman Mudik di Cianjur: Melihat Laku kaum Tarekat

Bismillahirrahmanirrahim.
Allahumma Shalli 'ala Sayyidina Muhammad wa 'ala Aali Sayyidina Muhammad.

Baru saja dari masjid, Pesantren Nurul Falah, di Pamoyanan Cianjur. Usai shalat subuh berjamaah, ikhwan sufi tarekat Qadiriyah Naqsyabandiyah melantunkan dzikir laa ilaha illallaah dengan hentakan suara yang kuat keras. Mereka dzikir dan baca tahlil sambil duduk. Kepala dan badanya gerak seiring ucapan asma Allah. Terus berulang-ulang.

Selasa, 27 Juni 2017

Belajar Tawadhu dari Arnold Toynbee

Pagi yang damai di tempat kelahiranku. Jiwa haus akan ilmu, tapi tidak ada buku yang aku bawa? Padahal haus jiwa akan ilmu sudah sampai kerongkongan.

Akhirnya kutemukan buku lama di rumah kampungku buku A Study of History karangan Arnold Toynbee, yang 4 bab pertamanya telah pernah aku terjemahkan 20 tahun yang lalu, kemudian kubaca bab terakhirnya "why study history?" dan terkesan dengan ungkapan pengarangnya yang bagus sekali: 

Senin, 26 Juni 2017

Minggu, 25 Juni 2017

Fikih Jafari: Shalat Idul Fitri dan Idul Adha

Shalat  Idul Fitri dan Idul Adha dilakukan setahun sekali secara berjamaah di lapangan maupun di masjid, baik itu Muslim Syiah maupun Sunni. Dengan waktu pelaksanaannya pagi hari antara pukul 06.30 hingga 09.00. 

Dalam buku Fiqih Imam Jafar Shadiq karya Muhammad Jawad Mughniyah (terbitan Lentera, 2004, halaman 250-252) disebutkan Imam Jafar Shadiq as berkata: “Shalat dua hari raya adalah wajib, begitu juga shalat kusuf.” Beliau as juga berkata: “Tidak ada shalat pada dua hari raya kecuali bersama imam. Jika kamu shalat sendiri tidak apa-apa.”
Imam Jafar Shadiq menerangkan bahwa dalam shalat Idul Fitri dan Idul Adha tidak ada azan dan iqamah, hanya panggilan berupa: Ash-sholaah (sebanyak tiga kali). Shalat dilakukan sebelum khutbah Idul Fitri.

Sabtu, 24 Juni 2017

Tiga Cerita Fiktif Menyebar di Medsos

Kini muncul kembali cerita fiktif dengan tujuan memperburuk citra Islam mazhab Syiah. Ada tiga cerita yang menyebar.

Pertama: sempat ada cerita pendek (fiksi) yang dimuat dalam sebuah media yang tidak pernah terbit lagi. Penulis dan medianya tidak jelas. Tidak ada keterangan redaksi dan pengelolanya. Isi ceritanya tentang seorang perempuan yang kena penyakit kelamin gara-gara nikah mutah. Dari alur ceritanya tidak jelas sosok wanita dan dokternya. Dari narasi sangat mirip cerita pendek atau cerpen, yang dibuat sengaja untuk membuat citra Syiah menjadi buruk. Nikah mutah yang disebutkan dalam cerita fiktif tersebut sangat jauh dari tuntunan syariat Islam yang tercantum dalam kitab Fikih Imam Jafar Ash-Shadiq atau fatwa dari para ulama Syiah yang muktabar. 

Jumat, 23 Juni 2017

Zakat dan Khumus

Saya kembali menulis. Ini masih tentang Fikih dalam mazhab Syiah. Ini terkait dengan zakat dan khumus sebagai cabang syariat Islam.

Sesuai dengan uraian dalam cabang-cabang dari agama Islam (Furuddin atau rukun Islam) bahwa orang Islam memiliki kewajiban untuk membayar zakat dan khumus. 

Kamis, 22 Juni 2017

Pancasila Senafas dengan Ajaran Islam

Wakil Rektor 1 IAILM Tasikmalaya, Asep Salahudin mengaku tidak mengerti dengan sikap sebagian pihak yang menyebut Indonesia sebagai negara thogut (berhala). Padahal kata dia, para pendiri bangsa ini merupakan ulama, kaum cerdik cendekia yang paham dengan nilai-nilai ketuhanan. 

"Mereka menyebut negeri ini sebagai negeri thogut. Tapi mereka juga hidup dan makan di negeri ini dengan leluasa. Mereka mengaharamkan demokrasi, tapi gemar demonstrasi yang merupakan salah satu ciri khas di negara demokrasi," ujarnya saat Diskusi dalam rangka memperingati Hari Lahirnya Pancasila, di Aula Kampus Muthahhari, Jalan Kiaracondong, Kota Bandung, Kamis (1/6/2017).

Rabu, 21 Juni 2017

Tuhan Bersama Kita

Kita mungkin sering mengatakan bahwa Allah bersama kita dimana saja kita berada. Kita tidak bisa bersembunyi dari Allah SWT. Tapi kita harus sadari bahwa Allah adalah wujud nonmateri dan gaib mutlak, maka kebersamaan Allah dengan makhluk-Nya bukanlah bermakna bersama-sama menempati ruang tertentu, tetapi bermakna pengawasan, pengetahuan, pertolongan, dan sebagainya. Lantas apa saja bentuk kebersamaan Allah dengan kita?

Selasa, 20 Juni 2017

Sayid Ali Sistani: Zakat Fitrah dan Waktu Shalat Id

Soal: Apakah wajib memberikan zakat fitrah kepada wakil marja yang kita ikuti? Atau boleh memberikan kepada wakil marja lainnya?

Jawab: Boleh memberikannya langsung kepada yang berhak dan boleh juga diserahkan kepada orang yang dipercayai untuk disalurkan kepada yang berhak, baik kepada wakil Marja atau pun bukan.

Soal: apakah boleh kotak-kotak amal yang mengumpulkan zakat fitrah kemudian hasilnya diberikan kepada orang-orang faqir setiap bulannya atau wajib diberikan kepada orang-orang faqir malam itu juga atau hari itu juga?

Jawab: tidak boleh memperlambat atau menundanya kecuali ada izin syar'i dari hakim syar'i atau Marja.

Senin, 19 Juni 2017

Sejarah adalah Pohon

Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

Dalam sebuah diskusi, ayah saya ditanya tentang topik pilihannya yang membahas misteri wasiat Nabi Saw. Penanya, seorang dosen berpengalaman, menyayangkan ketertarikan ayah saya yang tidak bergerak: dari dulu sejak beliau dikenal hingga sekarang, tetap saja membahas perihal wasiat Nabi Saw. Itu dan itu lagi. Tak berubah. Kata penanya, seakan tak ada kemajuan. Semestinya Pak Jalal, begitu menurutnya, sudah bisa melebihi aspek rasional, dan masuk pada ranah tasawuf yang di luar rasional.

Selalu menarik memang mendengarkan diskusi para guru besar. Cair, konstruktif dan penuh dengan semangat pencarian ilmu. Kepada merekalah selayaknya kita berguru.

Minggu, 18 Juni 2017

Cinta Tanah Air [by Miftah Rakhmat]


Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammad wa Ali Muhammad

Masih kuingat wajah-wajah itu. Kawan-kawan yang karena satu dan lain hal memilih menetap di luar negeri. Ada yang menikah dengan orang luar, ada yang tak mengurus perpanjangan paspornya, atau karena berbagai kesulitan dan masalah yang mereka hadapi di tanah air. Dan pada setiap mereka kulihat air mata kerinduan. Tetesan air yang mengembang, membentuk butiran kecil. Dan dalam butiran itu membentang kenangan akan tanah air seluruhnya. Akan tanah kelahiran, tanah leluhur, tanah yang menyimpan memori kolektif dari keberadaan mereka. Tanah yang menjadi identitas lahiriah. Tanah yang menjadi ungkap syukur keberadaan jati diri di muka bumi. Saya bayangkan, dalam sunyi terucap satu kata dalam batin mereka: “Indonesia…”

Sabtu, 17 Juni 2017

Amalan Malam 23 Ramadhan

Saya layak berterima kasih kepada yang telah kirim hadis pada whatsapp saya tentang malam 23 Ramadhan. Hadisnya sebagai berikut:

Abu Yahya Abdullah bin Unais al-Juhanni, seorang pengembala dari suku Juhan menghadap Nabi Muhammad saw dan berkata: Wahai Nabi Allah, aku ingin engkau memerintahkanku agar dalam satu malam Ramadhan aku datang ke Madinah dan memanjatkan doa. Nabi Muhammad saw mengundangnya pada malam 23 Ramadhan. Hadis ini dikutip dari kitab Bihar Al-Anwar, jilid 99, halaman 20; dan Kitab Usud al-Ghabah, jilid 3, halaman 20.

Jumat, 16 Juni 2017

Menolak Ide Khilafah [by Moh. Mahfud MD]

"Buktikan bahwa sistem politik dan ketatanegaraan Islam itu tidak ada. Islam itu lengkap dan sempurna, semua diatur di dalamnya, termasuk khilafah sebagai sistem pemerintahan”. Pernyataan dengan nada agak marah itu diberondongkan kepada saya oleh seorang aktivis ormas Islam asal Blitar saat saya mengisi halaqah di dalam pertemuan Muhammadiyah se-Jawa Timur ketika saya masih menjadi ketua Mahkamah Konstitusi.

Saat itu, teman saya, Prof Zainuri yang juga dosen di Universitas Muhammadiyah Sidoarjo, mengundang saya untuk menjadi narasumber dalam forum tersebut dan saya diminta berbicara seputar ”Konstitusi bagi Umat Islam Indonesia”.

Pada saat itu saya mengatakan, umat Islam Indonesia harus menerima sistem politik dan ketatanegaraan Indonesia yang berdasar Pancasila dan Undang-Undang Dasar (UUD) 1945. Sistem negara Pancasila yang berbasis pluralisme, Bhinneka Tunggal Ika, sudah kompatibel dengan realitas keberagaman dari bangsa Indonesia.

Saya mengatakan pula, di dalam sumber primer ajaran Islam, Al Quran dan Sunah Nabi Muhammad SAW, tidak ada ajaran sistem politik, ketatanegaraan, dan pemerintahan yang baku. Di dalam Islam memang ada ajaran hidup bernegara dan istilah khilafah, tetapi sistem dan strukturisasinya tidak diatur di dalam Al Quran dan Sunah, melainkan diserahkan kepada kaum Muslimin sesuai dengan tuntutan tempat dan zaman.

Kamis, 15 Juni 2017

Hurun ‘Ain

 Bismillahirrahmanirrahim
Allahumma shalli ‘ala Muhammadin wa Ali Muhammad

Hurun ‘Ain atau Hurun ‘ în adalah bidadari surgawi yang dijanjikan Allah Ta’ala menemani penghuni surga. “Bidadari-bidadari yang dipelihara dalam kemah-kemah” (QS. Ar-Rahman [55]:72); “Dan ada bidadari-bidadari yang bermata indah” (QS. Al-Waqiah [56]:22). 

Dalam Bahasa Indonesia, bidadari identik dengan makhluk sejenis perempuan yang berasal dari surga. Kamus Besar Bahasa Indonesia pada entri bidadari menjelaskan: putri atau dewi dari kayangan, perempuan yang elok. Singkat kata, bidadari adalah perempuan surgawi. Karenanya, ia diperuntukkan bagi kaum lelaki. Bahkan, hadis-hadis yang berkisah tentang kenikmatan surga, juga cenderung memanjakan kaum lelaki. Simak misalnya “Rombongan yang pertama kali masuk surga bentuk mereka seperti bentuk rembulan di malam purnama, mereka tidak berludah, tidak beringus, tidak buang air. Bejana-bejana mereka dari emas, sisir-sisir mereka dari emas dan perak, pembakar gaharu mereka dari kayu india, keringat mereka beraroma misik. Bagi setiap mereka dua orang istri, yang terlihat sum-sum betis mereka di balik daging karena kecantikan. Tidak ada perselisihan di antara mereka, tidak ada permusuhan. Hati-hati mereka hati yang satu, mereka bertasbih kepada Allah setiap pagi dan petang” (HR Al-Bukhari No. 3073)

Rabu, 14 Juni 2017

MUI, Ulama As-su?

As-su adalah kosa kata Arab yang berarti buruk. Ulama As-su artinya Ulama yang buruk. Apanya yang buruk? Fatwanya, karena menjadi sumber konflik. Bisa juga buruk ilmu pengetahuannya karena tidak bisa memahami ayat suci al-Qur`an dan hadis Nabi dengan baik. Ulama yang pemahaman agamanya buruk sedemikian rupa sehingga menghasilkan fatwa sesat dan menyesatkan. 

As-su juga bisa berarti asy-syar yang artinya jahat. Ulama As-su artinya ulama yang jahat. Disebut ulama jahat karena baginya agama hanya menjadi kedok untuk meraih ambisi pribadinya yang jahat.

 Terminologi ini dimunculkan al-Ghazali untuk menggambarkan realitas sekelompok orang yang dianggap sebagai ahli agama yang memperjualbelikan teks-teks suci dengan kedok fatwa, atau PSK dalam istilah MUI.

Selasa, 13 Juni 2017

Inilah Hikmah Puasa

Bulan puasa memberikan kita kesempatan terbaik untuk memahami rahasia-rahasia manusia dan alam semesta. Sebab itu seharusnya di bulan puasa ini kita mencukupkan makan dan minum sekadarnya bagi tubuh kita. Sebab kita tak akan sampai kepada hakikat makrifat dalam kondisi kekenyangan. Rasulullah saw bersabda, “tak ada wadah bagi manusia yang lebih buruk seperti perut”. Jika perut dalam kondisi kekenyangan akan mempengaruhi pemahaman kita. Dan itu sebabnya dengan perut kekenyangan tak kan mampu menembus rahasia-rahasia batin alam ini.

Kekenyangan hanya akan memberikan kemalasan dan membuat tubuh menjadi lemah. Sedangkan makan sekadarnya akan memberikan kesehatan, keselamatan, umur panjang, dan hati yang bercahaya. Makan yang melampaui batas tentu akan menyibukkan jiwa sebab jiwa akan disibukkan mengurai makanan tambahan bagi tubuh, selain itu tubuh membutuhkan energi yang lebih banyak dalam proses pembakaran. Jika demikian, manusia yang sering dalam kondisi kekenyangan akan mempercepat proses pengrusakan tubuhnya atau dalam kata lain mempercepat kematiannya.

Senin, 12 Juni 2017

Jalaluddin Rakhmat: Hukum Berpuasa bagi Orang yang Menyusui


Ramadhan yang lalu istri saya sedang menyusui anak yang baru berumur satu bulan, karena itu tidak puasa. Namun, kemudian istri saya membayar fidyah. Dalam masalah ini kami merasa wajib meng-qadha-nya dan Alhamdulillah sudah lunas. Bagaiman yang benar menurut syara’?

Minggu, 11 Juni 2017

Syiah dan Sunni di Indonesia: Sebuah Tinjauan Sejarah

Aliran Islam Syiah sering dipersepsi sebagai aliran yang baru datang ke Indonesia setelah revolusi Iran 1979, dan melalui imbas revolusi yang fenomenal menyusup ke tengah-tengah masyarakat Sunni kontemporer Indonesia. 

Di sini saya tidak akan membahas tentang pandangan orang terhadap Syi'ah baik yang menerima maupun yang menolaknya. Yang ingin saya sampaikan adalah meninjau keberadaan Syi'ah dan Sunni di Nusantara ini dari perspektif historis dan pelajaran apa yang bisa dipetik darinya. 

Sabtu, 10 Juni 2017

Mengenang Abu Thalib: Menjelang Wafat

image
Menjelang wafat, 'Abdul Muththalib berkata kepada Abu Thalib,
يا بني، قد علمت شدة حبي لمحمد (ص) ووجدي به أنظر كيف تحفظني فيه ؟
"Wahai anakku, kamu tahu betapa aku sangat mencintai dan menyayangi Muhammad Saw. Aku mau tahu bagaimana kamu akan menjalankan pesanku dalam mengasuhnya?"
Abu Thalib menjawab,
يا أبه، لا توصني بمحمد (ص) فانه ابني وابن أخي
"Wahai ayah, jangan berpesan apa-apa mengenai Muhammad Saw. Sebab dia adalah anakku dan juga anak saudaraku." 
Setelah mengutip tutur indah itu, Ibnu Syahr Asyub mengisahkan sepeninggal 'Abdul Muththalib, Abu Thalib mengasuh dan menafkahkan Baginda Nabi Saw lebih dari untuk dirinya dan anak-anaknya sendiri.(1) 

Jumat, 09 Juni 2017

Fanatik dan Taat [by Mulyadhi Kartanegara]

Beberapa hari terakhir ini saya melihat dan menyadari adanya salah paham yang lumayan akut tentang arti kata "fanatik" dan "taat." Ada seorang yang mengomentari postingan saya, katanya: "Umat Islam harus fanatik Prof, supaya tetap taat menjalankan perintah Allah." Yang lain mengatakan: "Muslim fanatik itu orang Islam yang taat, sementara yang moderat setengah taat."

Saya kira ini sebuah kesalahpahaman. Fanatik itu tidak sama dan harus dibedakan dengan taat (tha'at). Taat itu artinya patuh. Patuh itu menjalankan perintah agama dan meninggalkan larangannya. Sedangkan kata fanatik (fanatic) menurut kamus Oxford adalah "seseorang yang memiliki kepercayaan yang berlebihan sehingga bisa mendorong orang tersebut pada tindakan atau tingkah laku yang tidak masuk akal dan melakukan kekerasan (a person who has very extreme beliefs that may lead them to behave in unreasonable or violent ways).

Kamis, 08 Juni 2017

IJABI dalam Dakwah Menyebarkan Senyuman Sang Nabi

IJABI berdiri secara resmi tanggal 1 Juli 2000 di Gedung Merdeka Bandung, Jawa Barat. Saat Republik Indonesia dipimpin oleh presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Organisasi masyarakat (Ormas) yang bernama IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) ini resmi terdaftar pada Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Departemen Dalam Negeri No.127 Tahun 2000/D.I. Tanggal 11 Agustus 2000. ​Ormas IJABI berazaskan Pancasila dan UUD 1945, sehngga bisa diterima di tengah masyarakat Indonesia dan berhak mendapat perlindungan dari pemerintah Republik Indonesia. 

Rabu, 07 Juni 2017

Nikah Mutah di Indonesia

Seorang teman yang non IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia), yang mengaku pengikut Syiah bertanya kepada saya: benarkah orang IJABI tidak boleh nikah mutah? Apa dasarnya? Bukankah itu yang dilarang oleh Umar bin Khaththab?
Saya hanya senyum. Saya bilang bahwa saya hanya jamaah pengajian IJABI. Saya seorang jamaah KH Jalaluddin Rakhmat dan seorang pembaca buku-bukunya.

Memang saya mendengar dari orang yang aktif di IJABI kemudian membaca berita bahwa Ketua Dewan Syura IJABI KH Jalaluddin Rakhmat "melarang" nikah mut'ah untuk anggota IJABI. Menurutnya bahwa nikah biasa (daim) yang dijalankan di negeri Indonesia termasuk dalam nikah mut'ah karena ada ketentuan yang disepakati antara suami dan istri yang dibacakan setelah ucapan akad nikah. Mungkin karena sama dengan nikah mut'ah sehingga anggota IJABI tidak perlu melakukan nikah mut'ah, tetapi cukup dengan nikah yang legal di Indonesia.

Selasa, 06 Juni 2017

Lima Pilar IJABI sebagai Kultur dan Perilaku Keberagamaan

Penjelasan singkat tentang Lima Pilar IJABI (Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia) yang ditulis oleh Ustadz Muhammad Ashar (Dewan Penasehat IJABI Sulawesi Selatan).

Di usia enam belas tahun, IJABI mentransformasikan diri sebagai lembaga yang memiliki sifat keindonesiaan yang sangat kuat. 

Senin, 05 Juni 2017

Rosihon Anwar: Al-Thabathaba’i, Tokoh Syiah yang Terbuka

Sabtu, 3 Juni 2017, Lembaga Pembinaan Ilmu-ilmu Islam (LPII) Muthahhari dan Ikatan Jamaah Ahlulbait Indonesia (IJABI) mengadakan agenda bulanannya, yaitu Diseminasi Karya Ilmiah, yang bertempat di Aula Muthahhari, Jalan Kampus II No. 20 Babakan Sari Kiaracondong, Bandung. Kali ini yang menjadi topik perbincangan, yaitu tafsir esoterik menurut pandangan Al-Thabaththaba’i yang disampaikan oleh Prof. Dr. Rosihon Anwar, M. Ag selaku penulis disertasi dan Miftah Fauzi Rakhmat, Lc. MA selaku pembanding. Sedangkan yang menjadi moderator adalah Dr. H. Muhammad Babul Ulum, M. Ag.

Bahu Membahu Membangun Peradaban: Refleksi Sikap Moderat Islam

Ada suatu masa di mana di bawah kekuasaan Islam umat beragama (Mislim, Kristen, Yahudi, Zoroaster) bahu membahu membangun peradaban Islam yang agung.

Misalnya salah satu penerjemah ulung yang menerjemahkan karya-karya Yunani dan Suryani di bawah naungan patron Muslim ke dalam bahasa Arab adalah Hunayn bin Ishak, seorang Kristen Nestorian. Terjemahan-terjemahan beliau sangat bermanfaat dan digunakan oleh para sarjana Muslim sezamannya dan setelahnya.

Guru logika dan filsafat al-Farabi, dua-duanya adalah orang Kristen, Yuhanna bin Haylan dan Bisyr Matta bin Yunus. Demikian juga salah satu murid terkemukanya adalah seorang pemikir Kristen yang hebat, Yahya bin 'Adi, yang pada gilirannya juga menjadi guru seorang pemikir Muslim Abu Sulayman al-Sijistani.

Minggu, 04 Juni 2017

Kang Jalal: Mempertahankan Islam, Berarti Mempertahankan Kebudayaan

“Ketuhanan yang harus dikembangkan adalah ketuhanan yang mempertemukan agama dengan budaya. Agama kita datang ke setiap tempat dan diberi warna oleh kebudayaan tempat itu. Ada agama Islam gaya Iran, yang dibentuk oleh kebudayaan Iran. Ada juga agama Islam gaya Indonesia, yang dibentuk oleh kebudayaan Indonesia. Bahkan ada penulis yang menulis buku tentang Islam Indonesia dan Islam Maroko, yang memperihatkan perbedaan antara Islam di Indonesia dan Islam di Maroko. Dari Islam yang tersebar dan bertemu kebudayaan setempat itu ada persamaan, seperti dalam shalat semuanya rukuk ke depan. Tidak ada satu pun orang Islam yang rukuk ke belakang, karena selain tidak ada contohnya dari Nabi, itu bisa sangat membahayakan,” papar Jalaluddin Rakhmat dalam talk show Pancasila yang digelar Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia (IJABI) di Aula Muthahhari, Bandung, Kamis 1 Juni 2017.

Sabtu, 03 Juni 2017

Hadis tentang Makan Sahur

image
Semua tentu sudah tahu tentang amalan-amalan sunnah yang ditekankan untuk dilakukan selama bulan Ramadhan, termasuk makan sahur sebelum fajar. Untuk itu pada kesempatan kali ini kami akan membahasnya dari sisi riwayat yang menunjukan kesunnahan perbuatan tersebut dari referensi Syiah. 

Jalaluddin Rakhmat: Hukum Mengganti Puasa Ramadhan


Apakah mengganti puasa di bulan Ramadhan harus dilakukan sebelum datangnya bulan Ramadhan selanjutnya atau dapat dilakukan kapan saja?

Jumat, 02 Juni 2017

Hormati Orang yang Tidak Berpuasa [by KH Dr Jalaluddin Rakhmat]

Bulan puasa aku punya pengalaman menarik. Aku diundang oleh seorang pendeta Kristen untuk berbuka bersama di rumahnya. Menjelang Magrib ruang tamu sudah dipenuhi oleh wakil dari berbagai agama dan aliran kepercayaan. Di samping agama-agama yang lazim, aku berjumpa juga dengan wakil-wakil Bahai dan ajaran Tao. Mereka adalah anggota perkumpulan yang membawa missi perdamaian di antara umat beragama dan berkepercayaan. Perkumpulan ini namanya Badan Perjuangan Kebebasan Beragama dan Berkepercayaan.

Tentu saja hanya orang-orang Islam yang berpuasa, tapi kami berkumpul untuk berbuka bersama. Saya terharu karena yang memberikan jamuan makan adalah umat Kristiani. Yang menemai makan adalah sejawat dalam keluarga besar Tuhan. Kami mulai berbuka dengan bersama-bersama berdoa, bukan berdoa bersama (jadi tidak melanggar fatwa Majlis Ulama). Kami berdoa dengan cara masing-masing. 

Kamis, 01 Juni 2017

SAMBUTAN PRESIDEN RI DALAM RANGKA PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA 1 JUNI 1945 - 1 JUNI 2017

image
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalmu'alaikum Wr. Wb.
Salam sejahtera bagi kita semua,
Om Swastiast,
Namo Buddhaya.


Hadirin yang saya hormati,
Puji syukur  kepada  Tuhan Yang  Maha  Esa  pada  pagi hari ini  kita dapat berkumpul  menyelenggarakan  Upacara Peringatan  Hari Lahir Pancasila  untuk  yang  pertama  kalinya. Upacara  ini  meneguhkan  komitmen  kita  agar lebih  mendalami, menghayati  dan mengamalkan  nilai-nilai  luhur  Pancasila sebagai  dasar  bermasyarakat,  berbangsa  dan  bernegara.

Jalaluddin Rakhmat: Puasa dan KB


Saya mendengar dari media massa bahwa sekarang sudah ditemukan obat yang bernama nerotisteron dan microgynon yang dapat menunda haid sehingga wanita dapat menjalankan ibadah puasa atau karir olahraga. Bagaimana hukumnya menunda haid dengan obat-obatan? Tidakkah ini melawan sesuatu yang sudah bersifat alami?