Kamis, 08 Juni 2017

IJABI dalam Dakwah Menyebarkan Senyuman Sang Nabi

IJABI berdiri secara resmi tanggal 1 Juli 2000 di Gedung Merdeka Bandung, Jawa Barat. Saat Republik Indonesia dipimpin oleh presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Organisasi masyarakat (Ormas) yang bernama IJABI (Ikatan Jamaah Ahlul Bait Indonesia) ini resmi terdaftar pada Direktorat Jenderal Kesatuan Bangsa dan Perlindungan Masyarakat Departemen Dalam Negeri No.127 Tahun 2000/D.I. Tanggal 11 Agustus 2000. ​Ormas IJABI berazaskan Pancasila dan UUD 1945, sehngga bisa diterima di tengah masyarakat Indonesia dan berhak mendapat perlindungan dari pemerintah Republik Indonesia. 


Picture
Orang-orang Islam yang tergabung dalam ormas IJABI (Ijabiyyun) secara akidah menyakini Allah sebagai Tuhan, Muhammad bin Abdullah sebagai Rasulullah saw, Al-Quran sebagai kitab suci, Kabah sebagai kiblat saat ibadah shalat, dan meyakini adanya Hari Kiamat. Ijabiyyun melaksanakan shalat wajib yang lima, shaum ramadhan, zakat, haji ke baitullah (Makkah), serta membaca al-Quran, dan melantunkan shalawat: Allahumma shalli 'ala Muhammad wa Aali Muhammad (dibaca tiga kali) dalam setiap acara dan kegiatan keagamaan.
Lalu, apa yang membedakannya dengan ormas lainnya dari sisi keislaman dan praktik beragama? Setahu saya, ini mungkin yang bisa dianggap beda, bahwa kaum Muslimin Syiah yang tergabung dalam ormas IJABI meyakini Rasulullah saw telah mewasiatkan kepemimpinan Islam kepada Imam Ali bin Abi Thalib ra. Banyak dalil yang menguatkan tentang wasiat ini, salah satunya hadis Ghadir Khum dan Tsaqalayn. Dari Imam Ali as berlanjut kepemimpinan (Imamah) kepada sebelas keturunannya dan berakhir kepada Imam Mahdi as yang kini ghaib.

Kaum Muslim Syiah masih menanti kehadiran Imam Mahdi as yang merupakan Imam terakhir di akhir zaman. Penantian ini dalam mazhab Syiah disebut intidzar. Setiap orang Syiah selama masa penantian berkewajiban untuk mengisi masa penantiannya dengan kegiatan positif. Kaum Syiah percaya bahwa Imam Mahdi as akan menyelesaikan persoalan-persoalan dunia menjadi lebih baik. Segala bentuk kezaliman akan sirna berganti dengan kedamaian dan keselamatan. Selanjutnya maka akan tiba hari yang dinantikan: Kiamat, sebagai akhir kehidupan dunia. Inilah prinsip akidah mazhab Syiah yang membedakannya dengan mazhab Ahlus Sunnah. Meski tidak dipungkiri dalam Ahlus Sunnah ada kepercayaan akan datangnya Imam Mahdi as, tetapi tidak masuk dalam rukun Iman.

Terkait dengan Imamah, orang-orang Syiah tidak mempersoalkan orang yang tidak meyakini kepemimpinan Imam Ali as. Orang-orang Islam yang tidak percaya dengan Imamah Ahlulbait tetap dianggap sebagai Muslim dan Muslimah, karena Imamah Ahlulbait merupakan ajaran yang khas mazhab Syiah (dharuriyatul mazhab). Orang yang percaya dengan Imamah Ahlulbait maka ia bisa dianggap Syiah.

Sementara dalam mazhab Ahlus Sunnah bahwa Imamah (kepemimpinan Islam) bukan bagian dari akidah karena tidak masuk rukun Iman, sehingga tidak menjadi soal siapa pun yang menjadi pelanjut kepemimpinan setelah Rasulullah saw. Kaum Ahlu Sunnah meyakini kepemimpinan Islam menjadi urusan umat dan dipilih oleh umat Islam. Sedangkan dalam mazhab Syiah bahwa kepemimpinan bagian dari agama Islam yang berfungsi sebagai penerus risalah Islam (pasca Rasulullah saw), sehingga ditentukan oleh Rasulullah saw sebagaimana para Nabi dan Rasul dipilih oleh Allah.

Dalam persoalan Imamah, Ijabiyyun meyakini bahwa pelanjut risalah setelah Rasulullah saw berjumlah dua belas orang mulai dari Imam Ali bin Abi Thalib ra, Imam Hasan, Imam Husein, Imam Ali Sajjad (Zainal Abidin), Imam Muhammad Al-Baqir, Imam Jafar ash-Shadiq, Imam Musa al-Kazhim, Imam Ali Ar-Ridha, Imam Muhammad al-Jawad, Imam Ali Al-Hadi, Imam Hasan Askari, dan Imam Mahdi (yang dinantikan kehadirannya).  

Memang persoalan kepemimpinan Islam ini merupakan dinamika umat Islam. Sepanjang sejarah tidak selesai dibahas dan menimbulkan sikap keagamaan yang berbeda. Meski memang itu fakta, tetapi yang penting dalam beragama adalah sikap toleransi atas setiap prinsip umat Islam yang dipegangnya. Ini pula yang diusung ormas IJABI bahwa akhlak dan ukhuwah lebih penting didahulukan dari pada meributkan ikhtilaf (perbedaan).

Praktek Beragama
Dari segi praktek beragama Islam, Ijabiyyun tidak berbeda dengan umat Islam lainnya. Dalam urusan Ramadhan dan Idul Fitri mengikuti ketetapan Pemerintah Indonesia sehingga tidak meributkan 1 Ramadhan dan 1 Syawwal. Masih terkait dengan amaliah ibadah, ormas IJABI menetapkan dalam penyaluran zakat fitrah (menjelang Idul Fitri) diserahkan secara personal kepada orang-orang yang berhak menerima (mustahik atau mustadhafin) dengan tidak memandang mazhab orang yang diberi zakat.

Bahkan dianjurkan kepada Ijabiyyun agar melaksanakan shalat wajib dan shalat jumat berjamaah di masjid terdekat bersama jamaah Ahlus Sunnah. Sehingga para ustadz IJABI pun ada yang menjadi khotib dan imam shalat jumat di lingkungan tempat tinggalnya. Karena itu, secara esensi antara Ahlus Sunnah dan Syiah tidak berbeda dalam praktik ibadah. Hanya persoalan kepemimpinan Islam setelah Rasulullah saw yang berbeda antara Syiah dan Ahlus Sunnah.

Dan, yang menarik dari ormas IJABI ini bahwa Ketua Dewan Syura IJABI KH Jalaluddin Rakhmat menyatakan nikah mut'ah tidak boleh dilakukan oleh Ijabiyyun. Orang yang menjadi pengurus dan anggota dari ormas IJABI tidak diperbolehkan melakukan praktek mut’ah meski halal dan kuat dalilnya dari segi kajian tafsir maupun hadis. Hal ini disampaikan langsung oleh KH Jalaluddin Rakhmat dalam konferensi pers di Jakarta dan pertemuan para guru di Muthahhari Bandung.

Ormas IJABI juga simpati dengan nasib warga Palestina dan orang-orang tertindas di berbagai belahan bumi, tetapi tidak dengan turun aksi demonstrasi. Ormas IJABI lebih memilih kegiatan-kegiatan yang produktif dan maslahat bagi masyarakat dengan memberikan sumbangan atau kegiatan sosial.

Gerakan dan Pilar IJABI
IJABI sebagai ormas memiliki ciri khas dalam gerakan keagamaannya. Di antara gerakan IJABI yang populer adalah (1) Dahulukan Akhlak Di Atas Fikih, (2) Pluralisme dan Non Sektarian, dan (3) Islam Madani.

Pertama, dahulukan akhlak adalah membentuk masyarakat IJABI agar meningkatkan kualitas kemanusiaan dengan perilaku baik, menjalankan ibadah sesuai dengan keyakinan atau petunjuk yang benar, dan tidak mempersoalkan ikhtilaf yang mampu memecah persaudaraan di antara sesama umat Islam di Indonesia.

Yang kedua adalah agar mampu bekerjasama dan menghormati agama di luar agama Islam. Dilakukan dengan bentuk kerja sosial dan kemanusiaan serta dialog-dialog kebangsaan dan persaudaraan antar umat beragama.

Sementara yang ketiga adalah menciptakan tatanan masyarakat umat Islam yang memegang teguh Pancasila dan mempertahankan negara kesatuan Republik Indonesia dengan mengacu pada prinsip undang-undang yang berlaku di Indonesia.

Gerakan ormas IJABI tercantum dalam lima pilar IJABI, yaitu Islam rasional-spiritual, Non-sektarianisme (dahulukan akhlaq di atas fiqih), Pembelaan terhadap Mustadhafin, Islam Pluralis, dan Islam Madani. Kelimanya merupakan perwujudan pemikiran dari pendiri IJABI: Dr. KH. Jalaluddin Rakhmat, M.Sc. Sejak berdiri hingga kini, KH Jalaluddin Rakhmat berkedudukan sebagai Ketua Dewan Syura IJABI.  

Bentuk Dakwah IJABI
Karena IJABI ini ormas Islam yang mengacu pada mazhab Syiah Imamiyyah dalam pemahaman keislaman sehingga dalam dakwah pun tidak lepas darinya. Meski bisa dianggap mewakili ormas Syiah, tetapi secara kultur IJABI khas Indonesia sehingga berbeda dengan Islam mazhab Syiah yang berkembang di Lebanon, Iran, Irak, Bahrain, India, Canada, dan lainnya.

Secara umum dakwah IJABI adalah mengenalkan khazanah pemikiran Islam yang mencerahkan, kecintaan kepada Nabi Muhammad saw, dan mengikuti teladan Ahlulbait (keluarga Nabi). Misalnya memberikan kajian pencerahan pemikiran keislaman dengan membentuk dan menyelenggarakan seminar-seminar (disertasi dan riset keagamaan) yang terkait dengan Ahlulbait, seminar kebangsaan dan pluralisme, menyelenggarakan acara milad dan syahadah para Imam Ahlulbait, bekerjasama dalam kegiatan sosial kemasyarakatan dalam bentuk bakti sosial dan pelayanan kesehatan, pemberian beasiswa untuk anak-anak yang miskin agar bisa belajar, dan penyebaran buku-buku tentang Ahlulbait, serta audio ceramah yang tersebar di internet. 

Bisa dikatakan ormas IJABI ini sejak berdiri hingga sekarang (selama 17 tahun) hanya berdakwah dalam bentuk kegiatan keilmuan dan memberikan penjelasan tentang mazhab Syiah berdasarkan sumber-sumber Syiah, dan menghidupkan tradisi-tradisi Islam yang memiliki kesamaan dengan ormas Nahdlatul Ulama (NU). Di antaranya melakukan tahlilan kalau ada jamaah atau ulama yang meninggal dunia, menyelenggarakan Maulid Nabi Muhammad saw pada bulan Rabiul Awwal, menyelenggarakan ibadah malam Nisfu Syaban dan malam Al-Qadar di bulan Ramadhan, membaca tawasul dan doa Kumayl setiap malam Jumat, memperingati Asyura (wafatnya cucu Rasulullah saw) setiap 10 Muharram dan menggelar acara Ghadir Khum setiap 18 Dzulhijjah, serta merayakan hari lahir para Imam Ahlulbait.

Dalam menyikapi dinamika umat Islam, sesuai dengan pilar IJABI, kalangan Ijabiyyun dianjurkan untuk mendahulukan akhlak. Mereka lebih mengedepankan ukhuwah dan cinta damai ketimbang terlibat dalam konflik keagamaan. Aspek politik pun diserahkan kepada masing-masing individu Ijabiyyun sehingga bisa dikatakan IJABI bersifat non-politis dan non sektarian.

Sementara dakwah dalam bidang pendidikan yang bersifat doktrin belum terlihat karena belum memiliki lembaga pendidikan yang lahir dari "rahim" ormas IJABI. Maklum dari segi jamaah belum sebanyak ormas Muhammadiyah dan ormas Nahdlatul Ulama. Sehingga dalam urusan keagamaan tidak berpengaruh di tengah masyarakat Indonesia.

Terakhir, bahwa mazhab Syiah dan IJABI oleh segelintir orang di Indonesia dipemasalahkan, yaitu oleh kalangan Wahabi dan Takfiri. Meski dicitrakan buruk dalam media kaum takfiri, ormas IJABI ini tidak pernah melayani mereka yang "menyerang" dengan berbagai isu, fitnah, atau larangan kegiatan keagamaan. Dan ormas IJABI tetap sesuai dengan "mars" yang disuarakannya: menyebarkan senyuman Sang Nabi.

Menyebarkan kasih sayang dengan meneladani Rasulullah saw dan Ahlulbait as sekaligus menjalankan akhlak sebagai ukuran kemuliaan manusia dan tanda keberagamaan.

Itulah catatan kecil tentang IJABI. Ini hasil pengamatan personal. Mohon maaf jika menyalahi pemahaman kalangan Ijabiyyun. Insya Allah, saya siap untuk ditegur jika memang ada yang tidak sesuai dengan pemahaman Ijabyyun terkait dengan tulisan ini. Terima kasih untuk teman-teman IJABI yang sudah berkenan berbagi informasi. Salam ukhuwah.

​(Ikhwan Mustafa adalah jamaah pengajian ahad masjid al-munawwarah, yayasan muthahhari bandung)