Sabtu, 30 September 2017

Ayatullah Nuri Hamadani: Saya Tidak Mengizinkan Melukai Diri pada Peringatan Hari Asyura

Ayatullah al-Uzhma Nuri Hamadani dalam pertemuan dengan sejumlah muballigh Lebanon di Beirut mengatakan, "Untuk yang kesekian kalinya kita dipertemukan lagi dengan kemuliaan bulan suci Muharram. Bulan dimana kita diminta untuk mengungkapkan kesedihan dan kedukaan atas peristiwa tragis yang telah menimpa Sayidul Syuhada pada tahun 61 H silam."
"Menyampaikan syiar dan pesan dari kebangkitan Imam Husain as di Karbala adalah kewajiban bagi semua Syiah dan orang yang mengaku mencintai dan membela al-Husain as. Kewajiban ini harus lebih ditingkatkan lagi setiap Muharram tiba sampai semua orang tahu kebangkitan Imam Husain as untuk menjaga keutuhan agama Nabi Muhammad saw dan mencegah munculnya penyimpangan. Imam Husain as mengorbankan nyawanya untuk menyampaikan ajaran Islam yang asli bahwa kezaliman mengatasnamakan Islam adalah penyimpangan besar dalam Islam." Tambahnya. 
"Imam Husain as menyampaikan pesannya pada dunia, bahwa jadilah orang-orang yang berani berhadapan dengan pelaku kezaliman dan jangan berdiam diri. Itulah sebabnya penyelenggaraan majelis-majelis duka Husaini yang dilakukan untuk menghidupkan lagi pesan Imam Husain as tersebut mendapat penentangan dan penolakan dari pihak-pihak yang membangun tirani dan pemerintahan melalui kezaliman dan kesewenang-wenangan." Ungkap Ayatullah Nuri Hamadani selanjutnya. 
Guru besar Hauzah Ilmiah Qom tersebut menambahkan, "Harus diingat untuk berhati-hati dalam menyelenggarakan majelis duka Asyura. Jangan sampai dalam peringatan Asyura malah dilakukan aktivitas yang dapat menciderai pesan mulia dan maksud dari penyelenggaraan majelis duka tersebut. Seperti melakukan aksi-aksi melukai diri sampai berdarah-darah. Hal tersebut, justru dimanfaatkan musuh untuk mencoreng kemuliaan majelis Asyura. Saya tidak mengizinkan dilakukan aksi melukai diri dengan senjata tajam pada hari Asyura. Kalian lihat sendiri, citra Syiah dirusak dengan adanya aksi-aksi seperti itu. Aksi tersebut pada hari Asyura diliput banyak media dan disebarkan keseluruh dunia, yang dengan itu Syiah dan majelis Asyura difitnah dan dilecehkan." 
"Jangan jadikan peringatan Asyura sebagai formalitas belaka. Ambillah pelajaran-pelajaran mulia didalamnya untuk membentuk diri menjadi pribadi yang mulia dan berakhlak luhur. Jadilah pewaris semangat Asyura, yang berani menyampaikan kebenaran dan tidak takluk pada kezaliman," pesan ulama marja taklid Iran tersebut.
SUMBER: 
http://id.abna24.com/news/berita-iran/saya-tidak-mengizinkan-melukai-diri-pada-peringatan-hari-asyura_857086.html

Bubur Merah dan Bubur Putih [by Dadan Rusmana]

Masa kecilku di sekitar tahun 1975-1985-an masih sering menyaksikan beberapa pendudukan desa Melong, dan beberapa desa lainnya, di Cimahi Selatan kabupaten Bandung, menyuguhkan hidangan berupa bubur beureum (bubur merah) dan bubur bodas (bubur putih). Kebiasaan atau adat-istiadat ini dikenal oleh masyarakat Sunda Priangan sebagai tradisi ngabubur beureum jeung ngabubur bodas. Bubur ini, umumnya, dihidangkan bersamaan dalam sebuah piring kecil yang porsinya dibagi dua, yakni setengah untuk bubur merah, setengah lagi untuk bubur putih. Bubur merah terbuat dari beras ketan yang diberi gula merah [umumnya gula yang berasal dari gula kawung (aren)]. Sedangkan bubur putih terbuat dari beras yang diberi garam dan bumbu secukupnya.

Jumat, 29 September 2017

Cara Bijak Leluhur Jawa Melawan Lupa Tragedi Karbala

Jika Anda bertanya kepada masyarakat Jawa, apa nama penyangga pintu yang terpasang di rumahnya, mereka akan menjawab: kusen. Mereka yakin, tanpa kusen, pintu rumah takkan jadi kokoh dan mudah roboh.

Tapi pernahkan Anda menyangka bahwa nama ‘kusen’ bukan hanya sekadar nama tanpa makna?

Tahukah Anda bahwa ternyata inilah satu di antara banyak pesan tersembunyi dari ekspresi cinta masyarakat Jawa kepada keluarga Nabi yang disimbolkan melalui bagian penting dari sebuah rumah?

Rabu, 27 September 2017

Pemimpin Ahlul Bayt as Lebih Utama

Setelah Imam Husain as menyampaikan pidatonya di hadapan pasukan Hurr bin Yazid, dan shalat bersama kafilah di Syaraf, Imam Husain as menyampaikan hujjah Ahlul Bayt as. Tercatat dalam kitab al-Kamil fi al-Tarikh, jilid 4 halaman 47, paragraf 3, Imam as berkata:

أما بعد أيها الناس فإنكم إن تتقوا الله وتعرفوا الحق لأهله يكن أرضى لله ، ونحن أهل البيت أولى بولاية هذا الأمر من هؤلاء المدعين ما ليس لهم والسائرين فيكم بالجور والعدوان ، فإن أنتم كرهتمونا وجهلتم حقنا وكان رأيكم غير ما أتتني به كتبكم ورسلكم انصرفت عنكم .

Selasa, 26 September 2017

Labbaika Ya Husain [by Candiki Repantu]

Satu Muharram, rombongan kafilah Imam Husain menerabas jalanan gersang padang pasir Irak menuju Kufah. Di tengah perjalanan, di sebuah tempat yang bernama Qashr Bani Muqatil Imam Husain melihat sebuah tenda yang terpancang kokoh dengan tombak dan kuda mengitarinya. Inilah tenda tempat berteduhnya Ubaidillah bin Hurr al-Ju'fi dan Amr bin Qais melepas lelah mereka.

Melihat tenda tersebut, terbersit di hati Imam Husain as untuk mengajak mereka bergabung bersama kafilahnya. Maka diutuslah Hajjaj bin Masyruq menjumpai Ubaidillah bin Hurr menyampaikan undangan Sang Imam agar mereka berkenan mengunjungi Imam Husain di tendanya. Mendengar undangan Sang Imam, Ubaidillah sontak mengatakan "Inna lillahi wa Inna ilaihi Raji'un". Dia sudah bisa merasakan apa yang diinginkan Sang Imam dari dirinya. Setelah berpikir sejenak, Ubaidillah meminta maaf, agar diizinkan untuk  tidak menemui Sang Imam. Ia menolak undangan putra Rasul yang mulia. Ia enggan datang menghadap Imam Husain as, "Maafkan daku, Aku tidak bisa menolong dia dan aku tidak ingin dia melihatku atau aku melihatnya" kata Ubaidillah.

Senin, 25 September 2017

Sahabat Nabi yang Dikatakan Munafik dalam Shahih Muslim

Sahabat Nabi yang Dikatakan Munafik dalam Shahih Muslim

Dalam kitab Shahih Muslim 4/2143 no 2779 (9) tahqiq Muhammad Fuad Abdul Baqi disebutkan bahwa diantara sahabat Nabi terdapat orang munafik.

حدثنا أبو بكر بن أبي شيبة حدثنا أسود بن عامر حدثنا شعبة بن الحجاج عن قتادة عن أبي نضرة عن قيس قال قلت لعمار أرأيتم صنيعكم هذا الذي صنعتم في أمر علي أرأيا رأيتموه أو شيئا عهده إليكم رسول الله صلى الله عليه و سلم ؟ فقال ما عهد إلينا رسول الله صلى الله عليه و سلم شيئا لم يعهده إلى الناس كافة ولكن حذيفة أخبرني عن النبي صلى الله عليه و سلم قال قال النبي صلى الله عليه و سلم في أصحابي اثنا عشر منافقا فيهم ثمانية لا يدخلون الجنة حتى يلج الجمل في سم الخياط ثمانية منهم تكفيكهم الدبيلة وأربعة لم أحفظ ما قال شعبة فيهم

Minggu, 24 September 2017

Imam Husain as, Shalat, dan Karbala

Na’am, anta imamii fil jannah…

“Kita tidak bisa menjadi Karbala-i hanya dengan berziarah (secara fisik) ke Karbala,
Kita hanya bisa menjadi Karbala-i dengan meninggalkan maksiat pada Allah.”

(Ustadz KH Jalaluddin Rakhmat, manasik Ziarah Arbain 2016)

Maka sungguh, di antara kunci-kunci ketaatan pada Allah Swt dan meninggalkan maksiat pada Allah Swt adalah menegakkan shalat. Tulisan ringkas ini menceritakan beberapa saat di sekitar siang hari di Karbala pada hari Asyuro. Bagi Imam Husain ra , shalat mengalahkan segala-galanya. Dengan tibanya waktu shalat, Imam Husain ra mengabaikan segala sesuatu dan meminta jeda dari musuh-musuhnya untuk melakukan shalat. Imam Husain ra dan para sahabatnya tetap melaksanakan shalat zhuhur pada waktunya walaupun gencatan senjata untuk shalat ditolak oleh tentara Yazid.  Imam Husain ra dan para sahabatnya shalat di tengah hujan panah.

Sabtu, 23 September 2017

Dua Tanggal Merah [by Muhsin Labib]

Bulan Muharam (Suro) menjelang. Sebagian orang menganggapnya sebagai bulan kemenangan seraya baku kirim pesan pendek berisi ucapan “Selamat Tahun Baru Hijriah”, berpuasa dan menyantuni anak-anak yatim. Namun, tidak sedikit umat Islam di Indonesia dan negara lain meyakininya sebagai bulan duka seraya menganggap hari kesepuluhnya sebagai puncak kedukaan tersebut. Itulah 10 Muharam, yang akrab disebut dengan “Asyura”.

Jumat, 22 September 2017

Menghadapi Masa Puber dan Baligh Seorang Anak

Tanya: Biasanya masa puber dan baligh disertai guncangan jiwa dan fisik. Bagaimana cara mengubah kondisi ini menjadi sesuatu yang mudah bagi anak?
Jawab: Sesungguhnya masa baligh, yang dalam istilah ilmiah berarti (masa) kematangan organ reproduksi; ketika ia mulai bereaksi dengan menyalurkan hormon-hormon tertentu pada sebagian anggota tubuh sehingga menimbulkan dorongan seksual. Sebagian hormon itu berhubungan dengan jenis kelamin laki-laki dan sebagian lagi berhubungan dengan jenis kelamin perempuan. 

Sabtu, 16 September 2017

Merayakan Masa Taklif


Tanya: Akhir-akhir ini tersebar kebiasaan di sekolah-sekolah untuk mengadakan proses inisiasi bagi anak-anak yang baru memasuki masa taklif. Bagaimana Anda memandang fenomena ini?

Jumat, 15 September 2017

Taklif, Dewasa, dan Baligh



Tanya: Apa defnisi taklif itu?
Jawab: Taklif (kewajiban keagamaan) berarti bahwa manusia menjadi bertanggung jawab di hadapan Allah atas apa yang dilakukan dan apa yang ditinggalkannya. Ketika manusia sampai pada tahap memiliki tanggung jawab dihadapan Allah, maka dia berhak beroleh pahala atau siksa atas perbuatan taat atau maksiat yang dilakukannya.[]

Kamis, 14 September 2017

Menyiapkan Masa Taklif untuk Anak



Tanya: Taklif berdasarkan hukum-hukum syariat merupakan tahap utama dari kehidupan manusia. Akan tetapi, kita melihat bahwa pada umumnya keluarga tidak memberikan perhatian yang semestinya pada tahap taklif ini. Mengapa? 
Tawab: Sebenarnya, pengabaian ini adalah masalah kesadaran. Terdapat sebuah perasaan di kalangan ayah dan ibu bahwa dunia kebapakan dan keibuan adalah dunia yang berhubungan dengan jasad, bukan ruh; berhubungan dengan dunia, bukan akhirat. Sementara, kita tahu bahwa al-Quran menekankan poin ini dalam firman Allah: “Dan peintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalarn mengerjakannya” (QS Thaha: 132). 

Rabu, 13 September 2017

Lenyepaneun: Akhir Manusia

Semua manusia berakhir sama. Orang kaya dan miskin pun sama: berakhir dengan kematian dan dikuburkan. Setelah itu mereka dilupakan dan tidak ada.

Cendekiawan, ulama, murid, pengemis, presiden, menteri, direktur, dan lainnya pun sama. Orang yang hidup di dunia berakhir dengan kematian. Setelah itu tiada. Yang asalnya "tiada" (karena belum lahir) kemudian menjadi "ada" (melalui kelahiran ke dunia) dan kembali "tiada" (dengan kematian).

Selasa, 12 September 2017

Mengukur Kesuksesan Manusia

SAYA percaya setiap manusia punya masalah. Ada yang cepat dan mampu selesaikan; ada pula yang memerlukan waktu panjang.

Muara dari masalah manusia adalah hidup dan kehidupan. Salah satunya terkait dengan kata SUKSES. Dari interaksi dengan keluarga dan teman, ternyata SUKSES diukur dengan materi. Orang akan disebut sukses dalam karier jika naik jabatan kemudian gaji di atas UMR(upah minimum regional).

Minggu, 10 September 2017

Istilah Anak-anak Diperuntukkan Siapa?



x

Tanya: Menurut Islam, istilah anak-anak diperuntukkan untuk siapa? 

Jawab: Jika kita merujuk pada ketetapan-ketetapan (nash) Islam, kita akan dapati kata anak-anak (al-thiff) digunakan dalam beberapa hukum syariat. Misal, al-Quran menggunakan kata anak-anak (al-thiff) saat berbicara tentang pengecualian diperbolehkannya memandang wanita. Atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita (QS al-Nür: 31). 

Sabtu, 09 September 2017

Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah: Menjaga Rahasia Pasien

Soal: Apakah dokter (dalam pengobatan) boleh mengungkapkan rahasia pasien? 

Jawab: Apabila pasien mempercayakan dokter akan rahasianya, maka rahasia-rahasia tersebut mesti dijaga sebagaimana menjaga uang. Mungkin menjaga rahasia lebih penting daripada menjaga uang karena hal yang pertama bisa menyebabkan konsekuensi negatif yang besar pada orang yang dipercaya.

Jumat, 08 September 2017

Mencemarkan Nama Baik

Soal: Apakah batasan puisi satire, umpatan, sindiran, dan hinaan?
Jawab:  Mencemarkan nama baik seorang mukmin dengan cara menyebutkan satu persatu cacatnya, dengan cara mengisolasi, mencerca atau mengumpatnya tidak dibolehkan karena akan merusak harga dirinya dan memancing fitnah, pencemaran nama baik, kehinaan, dan aib yang dilarang oleh al-Qur'an dan Sunah. Al-Qur 'an al-Karim menyatakan ketidaksahan fitnah dan pencemaran nama baik dalam beberapa ayat seperti: Kecelakaanlah bagi setiap pengumpat lagi pencela (QS al-Humazah: l).

Kamis, 07 September 2017

Memuji Penguasa yang Jujur melalui Puisi


Soal: Bagaimanakah kedudukan puisi yang dibuat untuk memuji dan membesarkan penguasa yang jujur?

Jawab: Pujian tidak boleh berlebihan. Pujian mesti sesuai dengan sifat dan amalan baiknya. Hal ini sudah disebutkan berkenaan dengan sifat orang beriman tatkala disebutkan bahwa kepuasan orang beriman tidak akan menyebabkan dia berbuat tidak adil atau menyakitkan.

Rabu, 06 September 2017

Menyanjung Minuman Anggur lewat Puisi


Soal: Apakah boleh mengagungkan minuman anggur dalam puisi? Apakah hal ini dianggap sebagai cara untuk mendorong orang lain melakukan yang Allah larang? 

Selasa, 05 September 2017

Menjaga Autentisitas Narasi

Soal: Apakah boleh memanipulasi narasi yang realistis dengan cara menambahkan atau membuang satu bagian untuk menciptakan suasana tegang dan berbeda? Ataukah wajib menjaga autentisitas narasi?
Jawab: Boleh saja apabila ada fakta bahwa narasi tersebut tetap menjaga isi yang berhubungan dengan realitas melalui gerakan kata hati, dan tidak melalui subjektivitas detil-detil pribadinya. Barangkali banyak perumpamaan Al-Quran mendekati kondisi yang telah disebutkan. Jadi, perumpamaan yang sama diulangi, tetapi dalam gaya yang berbeda untuk memberi bimbingan intelektual, ideologis, dan moral.[]

(Sayyid Muhammad Husain Fadhlullah, Soal Jawab Fikih Kontemporer. Cianjur: Titian Cahaya, 2005)

Senin, 04 September 2017

Saracen: Jaringan Penebar Kebencian

Baru saja kita dikejutkan lagi dengan tertangkapnya jaringan terstruktur penebar ujaran kebencian, fitnah, dan hoax di media sosial. Kelompok ini bernama "Saracen". Saya terhenyak dengan nama ini. Sebab, bagi orang-orang yang cukup akrab dengan sejarah peradaban Islam tentu tidak asing dengan istilah Saracen.

Minggu, 03 September 2017

Antara Kurban dan Bangun Toilet Masjid

SOAL: Ada seorang teman (pengurus ormas) yang sudah lebih sepuluh tahun biasanya kurban dua sapi atau kerbau, tapi tahun ini tidak kurban. Bukan karena jatuh miskin malah menurut saya semakin kaya. Ketika saya tanyakan: "kenapa kamu gak kurban seperti biasanya?" Dia jawab: "tahun ini saya tidak kurban kerbau atau sapi, tapi saya akan kurban untuk membangun tempat wudhu (toilet wanita) untuk masjid, toh masjid sudah dapat kurban banyak."

Mendengar jawabannya saya hanya mlongo. Memang masjid belum punya tempat wudhu, khusus wanita. Dia risih kalau ada ibu-ibumau sholat di masjid harus wudhu di tempat laki-laki, dan nominal rupiahnya tentu lebih banyak untuk membangun tempat wudhu dari pada harga dua ekor sapi.

Menurut Ustad, lebih utama mana kurban atau membangun toilet?

Cairan Kuning yang Keluar setelah Haid

السؤال: ما حكم الصفرة التي تخرج بعد انقضاء دم الحيض؟ وكيف يمكن التمييز بينها وبين الرطوبات الطاهرة؟

Soal: apa hukum cairan kuning yang keluar setelah berakhir darah haid?Bagaimana bisa membedakan diantara cairan kuning dan cairan yang suci?
 
الجواب: الصفرة التي تلوث القطنة عند الاختبار في اخريات الدورة الشهرية تعتبر استمراراً لدم الدورة ـ مالم يتجاوز العشرة ـ واما اذا نزل من المرأة سائل آخر غير الدم فلا علاقة له بدم الدورة وان كان لونه ضارباً الى الاصفرار وهو محكوم بالطهارة.

Jawab: Cairan warna kuning yang mengotori kapas atau pembalut saat dimasukkan ke vagina di akhir-akhir masa haid disaratkan terus-menerus darah keluar (selama tidak melewati 10 hari). Ada pun cairan lain yang keluar dan bukan darah yang tidak ada kaitan dengan darah haid meski pun warnanya kekuning-kuningan, maka dihukumi suci.

Sumber: http://Telegram.me/Istiftaatsistani

Sabtu, 02 September 2017

Syiah Sesat Karena Tidak Membasuh Kaki Saat Wudhu? (Bantahan untuk Salafi)


image


Beberapa hari lalu di perjalanan ke bandara saya baca artikel tentang wudhu Syiah di website Salafi (https://muslim.or.id/21315-penganut-syiah-tidak-membasuh-kaki-ketika-wudhu.html). Penulis berinisial MAM, bergelar Lc. Dia seperti Sunni-Salafi.

Di antara inti tulisannya yang saya tangkap: wudhu Syiah salah karena tidak membasuh kaki tapi mengusapnya, dan itu diklaim bertentangan dengan ayat al-Qur‘an, hadits-hadits, dan ijma’. Sebenarnya klaim ijma’ atas membasuh kaki tidak didukung oleh atsar dari sebagian salaf. Penulis juga mengklaim mengusap hanya dilakukan Ahlussunnah saat kaki tertutup oleh khuf. Lebih mengherankan artikel itu seakan-akan menafikan teks-teks shahih dari kitab-kitab Sunni yang mendukung amalan Syi‘ah (mengusap kaki).

Jumat, 01 September 2017

Puisi Cinta dan Perbuatan Syirik

Soal: Dalam puisi cinta, secara khusus, terdapat beberapa istilah yang deskriptif yang menaikkan pecinta pada tingkat penyembahan. Bagaimana pendapat Anda mengenai tipe deskriptif ini?