Kamis, 11 Januari 2018

Taman Kota dan Derajat Kemanusiaan di Bandung


 “Zorg, dat als ik terug hier een staad is gebouwd.” -Daendels

Bandung dengan kondisi geografis yang begitu penuh kedamaian, kesejukan pun berbagai destinasi wisata yang menyenangkan, dari yang berbayar sampai gratisan. Menjadikannya sebagai kota yang tak pernah luput dari pilihan masyarakat untuk berlibur. Tercatat sekitar 2 juta jiwa manusia yang berada di Kota Bandung pada weekdays dan menjamur 5x lipat pada weekend sekira 11 juta jiwa.

Tempat wisata di daerah Bandung sekalipun gratisan, tentu terbilang sangat menjanjikan. Pasalnya, Kota Bandung dijuluki sebagai Parijs van Java. Hal ini bukan tanpa alasan. Tata letak Kota Bandung terbilang meniru dan hampir serupa dengan tata letak kota yang ada di Eropa. Terutama Perancis. Padahal, sudah bukan menjadi hal yang tabu, bahwa selama lebih kurang 3,5 abad kita dijajah oleh Belanda. Lantas kenapa Bandung bak Paris di Perancis?

Dosen DKV Telkom University, Lingga Agung Partawijaya (Salman, 2016) menjelaskan, bahwa Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels (1808-1811) yang dikirim ke Hindia Belanda merupakan seorang pesuruh Napoleon Bonaparte. Karena secara historis pada waktu itu Belanda sedang di kuasai Perancis. Daendels dijuluki sebagai The Batavian Napoleon. Pada tahun 1810 Daendels melakukan pemindahan Ibu Kota Bandung dari Dayeuh Kolot ke daerah sekitar alun-alun sekarang. Daendels pun menemukan titik nol Kota Bandung sembari berkata “Usahakan, jika aku kembali kesini, didaerah ini telah dibangun sebuah kota.”

Sejak dulu, ketika Indonesia masih bernama Hindia Belanda. Kota Bandung selain dikenal karena kecantikan kembangnya juga kesohor sebagai suatu kota yang memiliki banyak taman. Bahkan nyaris menjadi Kota Taman (Garden City) jika saja pasukan Jepang tidak keburu menguasai Indonesia di tahun 1942.

Ada beberapa julukan bagi Kota Bandung, misalnya The Garden of Allah dalam Almanak voor Bandung (1941), dan Mooie Bandoeng (1935) menjuluki, “Bandung de Bloem der Indische Bergsteden” (Bandung Kembangnya Kota Pegunungan di Hindia). Kedua julukan tersebut menurut Kang Lingga rasanya tidak terlalu berlebihan. Karena Bandung memiliki keindahan tersendiri, terlebih pedanan imbuhan “nya” dalam kata “kembangnya”, itu bukan sebuah konotasi yang menjelaskan tentang sebuah bunga. Tetapi lebih kepada sebuah kiasan untuk sosok wanita. Waktu itu, terdapat berbagai macam perkawinan silang di Bandung, baik antar ras atau pun etnis. Sehingga tumbuh bibit-bibit kecantikan (juga ketampanan) dari hasil pembuahan.

Kang Lingga membagi madzhab dalam pembentukan taman yang menjadi rujukan, kedalam dua bagian. Pertama, taman ala Inggris (Jardin a la ‘Anglaise) yang berusaha untuk mengakomodasi desain taman sesuai dengan keadaan alam. Kedua, taman ala Perancis (Jardin a la Francais) yang berusaha mengkontruksi alam sesuai dengan desain yang telah di buat.

Menurut Haryoto Kunto pelbagai taman di Kota Bandung banyak memiliki plein (lapangan terbuka) dan boulevards (jalan lebar) yang merupakan ciri khas tata kota dan taman ala Perancis. Lebih lanjut Kunto menegaskan bahwa tata Kota Bandung meniru tata kota renaissance yang memiliki jaringan jalan paralel-melingkar dengan alun-alun sebagai titik pusatnya. Sehingga setiap orang yang berada disana seakan berasa di kota Paris beneran (Kunto, 1984:239).***

Di Kota Bandung terdapat 18 taman tematik, antara lain: Taman Vanda, Taman Pustaka Bunga, Taman Foto, Taman Pasupati (Taman Jomblo), Taman Film, Taman Musik Centrum, Taman Balai Kota, Taman Cikapundung Riverspot, Taman Cibeunying, Taman Lansia, Taman Super Hero, Pet Park, Taman Dewi Sartika, Taman Teras Cikapundung, Taman Gesit, Taman Fitness, Taman Inklusi (Taman Maluku), dan Taman Skatebord.

Taman-taman kota tersebut hampir tak pernah sepi dari para pengunjung. Sering terlihat kegiatan warga yang penuh dengan kebahagiaan. Senyum lebar ketika sedang melakukan selfie, anak kecil yang riang berlari kesana kemari dan tak jarang ada obrolan dari hati ke hati. Semua seakan terfasilitasi.

Taman kota menurut Kang Lingga, tentu memiliki nilai estetik, memiliki nilai keindahan dan oleh karenanya taman kota adalah salah satu realisasi dari pelbagai konsepsi manusia tentang keindahan. Hal ini mengacu kepada pernyataan Chernyshevsky (2005:8) yang menjelaskan Estetika adalah ilmu yang menelaah tentang hal-ikhwal keindahan di dalam kehidupam. Jika kehidupan adalah realisasi dari keindahan, maka, keindahan adalah keberadaan yang di dalamnya kita melihat kehidupan sebagaimana ia seharusnya menurut konsepsi-konsepsi kita; indah adalah objek yang mengungkapkan kehidupan, atau yang mengingatkan diri kita pada kehidupan.

Pemugaran berbagai taman di Kota Bandung menjadi salah satu alasan indeks kebahagiaan masyarakat Kota Bandung menjadi meningkat secara signifikan. Tetapi nyatanya menurut Kang Lingga, ruang dialektik secara estetik mengalami sembelit.

Taman-taman di Kota Bandung secara tematik memang tidak mengungkapkan konsepsi kehidupan masyarakat Kota Bandung, yaitu Budaya Sunda. Semua taman yang dibangun memiliki konsep “modern” secara estetik dan hal tersebut justru membuat warganya mengalami semacam keterputusan dengan konsepsi-konsepsi kulturalnya. Misal, Budaya Sunda yang sedari dulu terbiasa berkumpul di sebuah saung (Gazebo).

Hal inilah yang kemudian dikritik oleh Andre Vitchek seorang novelis, pembuat film dan jurnalis investigasi dari Rusia, menurutnya, “Hampir semua taman di Kota Bandung berukuran kecil, kotor dan disconnected.” (Vitchek, 2016: Insane UN Claim. Bandung is ‘Creative City’). Dalam kritikan tersebut, Kang Lingga berasumsi, sepertinya Vitchek lupa secara historis taman-taman di Kota Bandung “dibangun” oleh orang-orang Eropa. Vitchek juga tidak objektif karena mengkritik taman kota di Bandung melalui cara pandang Barat. Tetapi jika kritikan itu diutarakan sebagai fenomena dialektis antara warga dan taman kotanya, maka menurut Kang Lingga kritikan tersebut menjadi niscaya.

Pada kenyataanya desain taman kota dengan tema yang “modern” bisa jadi membuat pengunjunganya berlaku tidak etis. Salah satunya membuang sampah seenaknya disembarang tempat. Hal tersebut menandakan telah terjadinya sembelit karena taman kota sebagai realisasi konsepi masyarakat tidak dihidupi sebagaimana mestinya. Sehingga apa yang dikatakan oleh Michel Foucault, “Perubahan material tidak dapat menjelaskan perubahan dalam subjektivitas.” Menjadi sesuatu yang juga niscaya.

Selain masalah sampah yang dibuang sembarangan padahal terdapat banyak tempat sampah yang tersedia dengan ukuran yang lumayan besar dan warna-warni yang mencolok, masalah lain yang turut meninterupsi ruang estetis adalah para pedagang asongan yang berjualan sesuka hati diluar dan didalam taman. Dalam pengamatan Kang Lingga, di Bandung dan mungkin di Indonesia pada umumnya public space selalu menjadi ruang ekonomi yang praktis. Hal tersebut justru menimbulkan pelbagai masalah seperti, lagi-lagi sampah dan ruang estetis yang terganggu secara visual.

Pengelolaan taman-taman di Kota Bandung menyisakan pelbagai pertanyaan yang cukup membingungkan. Seperti, siapakah yang bertanggung jawab terhadap pengelolaan taman kota? Karena perawatan taman kota sepertinya tidak dilakukan secara optimal, sehingga Vitchek mengkirtik tentang bagaimana kotornya taman tersebut lengkap dengan pedagang asongan yang bebas berlalu lalang, serta pengemis yang menjadi “pemanis”. Tak hanya itu, sering terlihat pula adanya pemungutan liar dalam perparkiran. Misal, di Taman Teras Cikapundung pengunjung di kenakan tarif melalu karcis yang sepertinya tidak resmi sebesar Rp 3000,- sedangkan di Taman Vanda hanya Rp 2000,- saja tanpa karcis.

Selain permasalahan pengelolaan taman, etika warga yang mengunjungi taman juga menjadi sebuah permasalahan. Warga memperlakukan taman kota dengan seenaknya tanpa pernah memperdulikan ruang estetis yang dengan susah payah telah dibangun.

Etika selalu erat kaitanya dengan dengan moralitas. Baik dan buruk juga benar dan salah. Perlakuan warga ketika melakukan kegiatan yang merusak ruang estetis taman seperti menginjak kursi taman, rumput dan berbagai hiasan. Hanya demi sebuah gambar untuk kepentingan media sosial. Dan ironinya mereka terlihat biasa-biasa saja bahkan bahagia. Menimbulkan suatu pertanyaan, apakah perlakuan warga yang tidak etis terhadap taman kotanya, mengindikasikan semacam dekadensi moral? Atau perlakuan tersebut disebabkan oleh tema dan desain taman yang tidak berpihak kepada subjektivitas kultural warganya? Atau karena taman kota sebagai ruang estetis interupsi lebih di dominasi oleh ruang ekonomi?

Prof. Yasraf A. Piliang dalam Orasi Ilmiahnya menjelaskan tentang hegemoni ekonomi dalam keseharian masyarakat kontemporer yang baginya telah menjadi semacam pertanda kembalinya manusia pada dimensi “kebinatangannya”. Taman kota, pedagang asongan, parkir liar dan etika warga yang mengunjunginya, dapat dilihat sebagai sebuah relasi yang di dominasi dan diikat oleh hegemoni ekonomi yang kentara sehingga pada akhirnya mengabaikan dimensi-dimensi lain: moral, spritual, ekologis, kecerdasan, kearifan dan lokalitas. (Piliang, 2016:27).

Selain beberapa poin dari Prof. Yasraf, Kang Lingga menambahkan bahwa adanya taman-taman tematik di Kota Bandung sebagai ruang estetis, baik itu sebagai ruang refleksi kultural dan ruang eskapis menjadi terganggu dalam relasi humanistik di dalamnya karena adanya kepentingan ekonomi yang mendomiasi.

Ketika hal tersebut terganggu maka moralitas pun menjadi dekaden. Perilaku warga kota terhadap taman kota menjadi egosentris nartistik yang hanya memperdulikan isi perut dan seberapa banyak like yang diperolehnya di media sosial ketika membagikan tingkah polanya di taman-taman kota yang bagi mereka kepalang “estetis”.

Menurut hipotesis Kang Lingga, dekadensi moral nyatanya tidak hanya terjadi didalam konteks taman kota saja, masyarakat kontemporer dengan libido ekonominya telah melibas segala hal yang berada di luar dirinya. Hal ini menunjukan bahwa hegemoni ekonomi tidak hanya menjadikan manusia terus menerus memenuhi kebutuhan biologisnya tetapi memenuhi juga kebutuhan psikologisnya. Nietzsche dalam hal ini pernah berkata, “there is no beautiful surface without a terrible depth.” Perkataanya pun dalam konteks ini, lagi-lagi menjadi niscaya.***

Taman kota yang terkontaminasi nilai estetisnya pun dengan moralitas masyarakat yang menjadi dekaden, seyogyanya membutuhkan solusi. Dalam hal ini Karl Marx pernah berkata, “Bukan kesadaran anda yang membentuk keberadaan Anda, sebaliknya keberadaan anda yang menentukan kesadaraan anda tersebut.” Sehingga, menurut Kang Lingga, jawaban untuk pelbagai permasalahan diatas bisa jadi adalah mereduksi ruang ekonomi yang terlalu mendominasi didalam ruang estetis yang sebetulnya dapat memberikan kepekaan terhadap manusia untuk mengingatkan kembali dirinya kepada “kehidupannya”. Hal ini rasanya perlu di lakukan oleh pihak yang mempunyai kewenangan terhadap pengelolaan taman-taman di Kota Bandung untuk pengelolaan tempat parkir yang dapat dipertanggungjawabkan secara legal karena berurusan dengan retribusi dan lain sebagainya.

Taman dan desain taman yang mengakomodasi nilai-nilai kultural pun sebetulnya dapat menjadi stimulus yang mencerahkan. Sekalipun taman kota dengan tema yang tidak mengakomodasi nilai-nilai kultural sudah terlanjur dibangun tidak akan menjadi masalah, selama fungsi edukasi taman kota dapat mengakomodasi nilai-nilai kultural secara parsial. Misalnya, Kang Lingga mencontohkan sebuah taman dengan tema musik dapat memberikan edukasi tentang para musisi yang pernah dan ada di Kota Bandung. Termasuk bagaimana musisi tersebut memberikan sumbangan yang sangat besar secara kultural bagi perkembangan Kota Bandung.

Tetapi persoalan ruang estetis yang dikelilingi oleh hegemoni ekonomi tidak dapat di putus begitu saja. Karena ruang dialektis masyarakat tidak lagi beroreientasi kepada nilai melainkan angka. Sebagaimana Prof. Yasraf utarakan ruang ekonomi dewasa ini telah menjamur ke dalam pelbagai dimensi kehidupan masyarakat perkotaan sehingga tidak ada urusan dunia: politik, hukum, sains, teknologi, media, pendidikan, hiburan, olah raga, seni bahkan agama kini yang tak terkontaminasi oleh motif ekonomi, yaitu mencari keuntungan dan memenuhi kebutuhan hasrat biologis. Karena semuanya kini bagian dari komoditas ekonomi. (Piliang, 2016:27). Pada akhirnya. Kini, Bandung sudah menjadi kota. (Bandung is uitgegroeid tot een stad. Daendels!).

[ditulis Oleh Jawad Mughofar KH, Mahasiswa UIN SGD Bandung]