Risalah Depok: Persatuan Islam Indonesia






RISALAH DEPOK: 

PERSATUAN ISLAM INDONESIA


UKHUWAHRisalah Depok tentang Persatuan Islam di Indonesia ini dirumuskan dalam Seminar Sehari  “Problem dan Prospek Persatuan Islam di Indonesia”, yang diselenggarakan di Depok, Jawa Barat, 27 Jumadi Al-Awal 1433 H/ 19 Mei 2012.
Menyimak situasi merosotnya toleransi beragama belakangan ini dan konflik antar kelompok yang memprihatinkan, serta menguatnya gejala ekstremisme dan eksklusivisme keagamaan di kalangan Muslm di negeri kita, kami merasa perlu mendeklarasikan Risalah Depok sebagai berikut :
Bismillahir-Rahmanir-Rahim,
Salam dan salawat semoga tercurah pada Nabi Muhammad,Keluarga, dan Sahabat-sahabatnya.Allah berfirman: Sesungguhnya orang-orang beriman adalah bersaudara. Maka itu perbaikilah hubungan di antara saudara-saudara kalian dan bertakwalah kepada Allah sehingga kalian mendapat rahmat-Nya. (Al-Hujurat, 49:10).
Isi Risalah :
(1)     Orang yang percaya dan taat kepada Allah Yang Mahaesa (bertauhid), meyakini Kenabian Rasulullah (saw) sebagai Penutup Rangkaian Para Nabi dan meneladaninya dan Nabi-nabi yang mendahului beliau, percaya  pada Kitab Suci al-Qur’an dan Kitab-Kitab suci yang diturunkan sebelumnya, dan menaati ajaran-ajaran yang terkandung di dalamnya, percaya kepada Para Malaikat, Hari Akhir, serta Qadha dan Qadar-Nya, menjalankan shalat, mengerjakan puasa, membayarkan sedekah, dan berhaji ke Baitullah dalam hal memiliki kemampuan untuk itu, serta tidak mengingkari ajaran-ajaran yang sudah pasti dan disepakati dalam agama Islam (qath’iyyat dan dharuriyatud-din) adalah Muslim.
(2)      Ada jauh lebih banyak kesamaan dalam kelompok-kelompok dan mazhab-mazhab Islam, baik dari kalangan Ahlus Sunnah maupun Syiah.
 (3)        Tidak diperbolehkan mengkafirkan Muslim dari kelompok atau mazhab manapun yang memeluk kepercayaan-kepercayaan tersebut di atas. Sebaliknya, darah, kehormatan dan harta benda mereka harus dilindungi dan tidak boleh dihalalkan.
 (4)     Kami mengajak seluruh umat untuk tidak membesar-besarkan dan menjadikan perbedaan-perbedaan furu’iyah di antara sesama Muslim sebagai sumber konflik dan perpecahan dan, sebaliknya, menyatukan kata dan sikap mereka; menegaskan kembali sikap saling menghargai; tidak saling mengecam keyakinan-keyakinan masing-masing, dan memperkukuh tali persaudaraan di antara mereka.
 (5)      Kami juga menolak dan mengutuk segala bentuk ekstremisme (tatharruf) dan berlebihan (ghuluw) yang yang berasal dari kelompok dan mazhab apapun, yang dapat menjadi sumber perpecahan dan konflik di kalangan Muslim
 (6)      Dan, akhirnya, kami mengajak seluruh Muslim untuk tidak membiarkan pihak-pihak asing, yang ingin mengambil manfaat dari perpecahan di kalangan kaum Muslim, untuk mengganggu keharmonisan dan memecah-belah di antara mereka.
Depok, 27 Jumadi Al-Tsaniyah1433 H/ 19 Mei 2012.
Ditandatangani oleh ulama, cendekiawan Muslim, dan tokoh Islam Indonesia sebagai berikut:
Prof. Dr. KH. Masdar F. Mas’udi, MA (Rais Syuriah PBNU)
Dr. Abdul Mu’ti (Sekretaris PP Muhammadiyah)
Prof. Dr. Amtsal Bahtiar, MA (Guru Besar Sejarah Agama UIN Jakarta)
Prof. Dr.RosihonAnwar,M.Ag (Guru Besar Ilmu Tafsir UIN Bandung)
Drs. KH. Muchtar Adam (Pimpinan Pesantren Babussalam Bandung)